Beranda > Artikel > Sains dan Teknologi: Alien di Negeri Sendiri

Sains dan Teknologi: Alien di Negeri Sendiri

Jumat, 8 Agustus, 2008 oleh Merry Magdalena

Orang awam mana yang ingat bahwa tiap 10 Agustus kita memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas)? Tanyakan saja ke sembarang orang yang kita jumpa di tengah jalan. Dijamin mereka bengong waktu ditanya apa itu Hakteknas. Padahal tahun ini Hakteknas sudah diperingati ke-13 kalinya.

Apakah ini artinya sains dan teknologi memang bukan hal yang populis di Indonesia? Bisa jadi ya. Lantas, tahukah Anda bahwa selama ini berita di koran sudah cukup marak dengan prestasi ilmuwan muda kita? Mulai dari menggondol beragam medali di ajang Olimpiade Fisika Dunia, Olimpiade Astronomi Dunia, Olimpiade Kimia Dunia, Olimpiade Matematika Dunia, dan banyak lagi. Yohanes Surya dengan tim kebanggaannya juga masih semangat dengan obsesinya agar ilmuwan kita ada yang meraih Nobel suatu saat nant

Anggaran Minim?

Berani bertaruh, dari sekian banyak ilmuwan muda Indonesia itu, IQ-nya pasti di atas rata-rata. Mereka bisa masuk kategori genius, cerdas, pintar, membanggakan. Bisa jadi juga alumni jawara-jawara bidang sains itu kini ada yang bersemayan di aneka intitusi sains bergengsi dunia seperti Massachusets Institute of Technology (MIT), NASA, Harvard, dan sejenisnya. Penulis di Netsains ini saja tak sedikit adalah orang-orang muda berprestasi akademis cemerlang yang tersebar ke seantero dunia.

Semua itu bukti syah bahwa sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Kalau orang Indonesia bodoh, mustahil bisa masuk MIT, Harvard, NASA, dan juara olimpiade sains kan? Jadi jelas sudah kita bukan bangsa yang bodoh. Itu fakta. Namun menjadi suatu misteri tiada akhir, jika memang kita bukan bangsa yang bodoh, lalu kenapa negara kita belum jua mampu menyejahterakan rakyatnya?

Sejak 30 Juli-8 Agustus kemarin, Netsains menggulirkan polling dengan pertanyaan: “Prestasi siswa Indonesia di kancah sains dunia cukup membanggakan. Tapi kenapa perkembangan sains kita tidak?”

Hasil polling tersebut mengatakan bahwa kondisi tersebut adalah karena:

  • Pemerintah kurang berperan (52%, 15 Votes)
  • Sains hanya untuk sebagian orang (24%, 7 Votes)
  • Kondisi tidak mendukung (14%, 4 Votes)
  • Industri kurang berperan (10%, 3 Votes)

Total Pemilih: 29

Sebanyak 52% voter menyalahkan pemerintah. Bisa jadi ada benarnya. Anggaran Iptek terhadap PDB sejak tahun 2000 alami penurunan dari 0,052% menjadi 0,039% pada tahun 2002, sedangkan organisasi dunia UNESCO, merekomendasikan rasio anggaran Iptek yang memadai adalah sebesar 2%.

Bukan hanya masalah dana, sampai saat ini pemerintah juga lebih cinta mengimpor aneka teknologi dari luar daripada mengembangkan buatan ilmuwan anak negeri. Perhatian terhadap sains dan teknologi masih terbatas pada lomba-lomba dan anugerah penghargaan belaka.

Menara Gading

Jawaban bahwa sains hanya untuk sebagian orang menempati urutan kedua (24%), membuktikan bahwa ilmuwan dan dunia sainsnya masih terkungkung dalam menara gading. Instansi bidang sains seperti LIPI, BPPT, atau lembaga riset swasta, hanya menciptakan alienasi bagi dirinya sendiri. Bisa dikatakan dunia sains masih gagal menyosialisasikan baik hasil temuannya, pemikirannya maupun individunya sendiri.

Hasil poling sebutkan faktor lain adalah kondisi tidak mendukung (14%, 4 Votes) dan industri kurang berperan (10%, 3 Votes). Kondisi yang dimaksud mungkin akibat keadaan ekonomi dan politik yang tak kunjung membaik, maka pengembangan sains lokal kurang mendapat perhatian.  Dalam peringatan Hakteknas kemarin di Istana Presiden, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, diberikan penghargaan kepada sejumlah anak bangsa yang dianggap berprestasi di bidang sains dan teknologi. Namun, apa hasil yang bisa dinikmati masyarakat dari semua anugerah penghargaan tersebut? Yang heboh justru isu Blue Energy yang ternyata palsu belaka.

Akibat pemerintah kurang bertekad memajukan sains, produk sains kurang sosialisasi dan kondisi tak mendukung itu, maka jangan salahkan juga kalau kalangan industri tidak menyambutnya. Hasil poling menempatkan faktor industri yang kuran berperan dalam urutan terakhir (10%, 3 Votes).

Referensi:http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=62

Ilustrasi: Didik Wicaksono

Ikuti Polling artikel ini!

Apakah open source bisa menjadi solusi kesenjangan digital Indonesia?

  • Ya, sebab bebas biaya lisensi dan terjangkau (71%, 12 Votes)
  • Tidak, sebab masih susah dioperasikan (24%, 4 Votes)
  • Ragu, sebab open source susah komersil (6%, 1 Votes)
  • Tidak tahu, sebab saya tak paham apa itu open source (0%, 0 Votes)

Total Pemilih: 17
Loading ... Loading ...

3 Komentar untuk “Sains dan Teknologi: Alien di Negeri Sendiri”

  1. Kasian yg Gak inget =( aq aja tw yg msh kechil =A

  2. Yah..sains teknologi di Indonesia menjadi alien di negeri sendiri, karena ego sektoral yang sangat kuat diantara anak bangsa sendiri. Seorang sosiolog pernah berpostulat, bahwa orang Indonesia masih sangat kuat kultur ‘perang antar kampung’nya. Istilah kampung tersebut, bisa diperluas menjadi institusi, almamater, agama, asal-usul, dll. Selama kultur ini masih dipegang, Sepintar-pintarnya orang Indonesia, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Sangat berbeda dengan tetangga kita di Vietnam atau China. Mereka menerapkan komunisme, ie ’sama rata sama rasa’. Dari ‘kampung’ apapun, selama dia berprestasi, maka ia atau mereka akan bisa sampai ke puncak juga. Buktinya mereka jadi maju sekarang. Ayolah bangsa Indonesia!..kita harus mengakui bahwa komunisme jauh lebih unggul daripada kultur perang antar kampung. Kita harus akui itu!..:D

  3. kayaknya ilmuwan2 itu kurang cheerleader, coba kalo cewek/cowok yang cakep2 mau menyemangati mereka, pasti maju perkembangan sains di negeri ini. Lumrah, kebanyakan orang kagumnya sama duit, bertepuk tangan sama duit…jadi lebih baik jadi koruptor daripada jadi ilmuwan di negeri ini. Menara gadingnya mungkin juga kurang bagus, tidak bisa menampung semua para ilmuwan di dalamnya, supaya mereka bisa saling menepuki tangan dan mendukung…jadi ilmuwan2 pergi ke menara gading di negeri orang, pasti di sana banyak yang mau bertepuk tangan. Untuk mengatasi anggaran yang minim, mungkin kita bisa membangun dari nol…murah kan?

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>