Beranda > Artikel > Relasi Ayah dan Anak Perempuan Pengaruhi Pubertas

Relasi Ayah dan Anak Perempuan Pengaruhi Pubertas

Rabu, 20 Agustus, 2008 oleh Arli Aditya Parikesit

Hubungan anak perempuan muda dengan keluarganya, terutama dengan ayah, dapat mempengaruhi waktu pubertas, menurut peneliti dari Universitas Vanderbilt.

Anak perempuan dengan hubungan dekat dan suportif dengan orang tuanya cenderung untuk terlambat masuk pubertas, sementara anak perempuan dengan hubungan jauh atau dingin dengan orang tuanya, cenderung untuk terjadi pada usia lebih dini. Riset ini di terbitkan pada journal of Personality and Social Psychology. Riset tersebut dikerjakan oleh Bruce Ellis, mahasiswa pos doktorat pada Vanderbilt (sekarang di Universitas Canterbury di Selandia Baru); Stephen McFadyen-Ketchum, Asisten profesor psikologi pada Vanderbilt (Sekarang di Universitas Duke); Gregory Pettit dari Universitas Auburn; dan John E Bates dari Universitas Indiana.

Kualitas

Kajian ini melibatkan 173 anak perempuan dan keluarganya dari Nashville dan Knoxville dan Bloomington. Rentang umur adalah dari usia pra taman kanak-kanak, sampai dengan di kelas tujuh. Anak perempuan yang memiliki hubungan dekat, dan positif dengan orang tuanya selama lima tahun pertama dari hidup mereka cenderung untuk mengalami pubertas yang terlambat, dibanding dengan anak permpuan yang memiliki hubungan jauh dengan orang tuanya.

Secara spesifik, peneliti menemukan bahwa kualitas dari keterlibatan ayah dengan anak perempuan adalah fitur paling penting pada lingkungan keluarga awal, dalam hubungannya dengan pubertas anak perempuan. Anak yang memasuki pubertas terlambat biasanya memiliki ayah yang sangat aktif dalam memberikan perhatian dan kasih sayang; memiliki ayah yang suportif dengan sang Ibu. Namun dalam kasus ini, kelihatannya keterlibatan ayah, dibanding ibu, sepertinya lebih berpengaruh dalam penentuan usia pubertas.

Pubertas

Peneliti yakin, bahwa anak perempuan telah mengalami sosialisasi awal, ketika ‘antena‘ mereka telah terkait dengan peranan ayah pada keluarga (hal tersebut terkait dengan hubungan ayah-anak dan ayah-ibu) dan bahwa anak perempuan akan secara tidak sadar mengatur waktu pubertas berdasarkan dengan perilaku ayah mereka. Peneliti menemukan, bahwa anak perempuan yang diasuh tanpa kehadiran ayah atau sang ayah hampir tidak pernah hadir, akan mengalami waktu pubertas yang awal. Ada beberapa teori mengapa hal ini terjadi.

Satu penjelasan biologis adalah anak perempuan yang ayahnya tidak hadir di rumah akan terpapar pada laki-laki dewasa lain - ayah tiri atau pacar dari ibu - dan paparan terhadap feromon yang diproduksi oleh laki-laki dewasa yang tidak ada hubungan keluarga, dapat mempercepat perkembangan pubertas perempuan.

Hambatan

Namun disisi lain, anak perempuan yang hidup dengan ayah biologinya, pada lingkungan positif terpapar dengan feromonnya dan mengalami penghambatan dari pubertas, kemungkinan sebagai mekanisme alamiah untuk menghindari inses. Anak perempuan yang hidup dengan ayahnya, namun memiliki hubungan jauh atau dingin dengannya, tidak akan terpapar dengan feromon ayah seintensif anak perempuan yang memiliki interaksi lebih debgab sang ayah, oleh sebab itu menyebabkan anak perempuan dengan hubungan jauh untuk mencapai pubertas lebih awal, demikian hipotesa peneliti. Kemungkinan, ini adalah peran penting dari ayah pada perkembangan seksualitas anak perempuan, namun untuk pengasuhan, peran ibu lebih penting. Riset ini didanai oleh National Institute of Mental Health and the National Institute of Child Health and Development.

Referensi:

Retrieved August 15, 2008, from

http://www.sciencedaily.com/releases/1999/09/990927064822.htm

foto: city-lakeforest.com

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>