Beranda > Artikel > Rekayasa Foto, dari Era Hitler sampai Brad Pitt

Rekayasa Foto, dari Era Hitler sampai Brad Pitt

Selasa, 26 Agustus, 2008 oleh Gea OF Parikesit

Untuk menyedot perhatian calon pembeli, sebuah tabloid pernah memajang di halaman depannya sebuah foto di mana Brad Pitt dan Angelina Jolie terlihat berlibur bersama. Ternyata, foto itu hanya rekaan semata: foto Pitt diambil di kepulauan Karibia pada Januari 2005, sedangkan foto Jolie di Virginia pada tahun 2004. Rekayasa foto semacam itu kini memang cukap ‘mudah’ dilakukan, terlebih lagi dengan banyaknya pilihan piranti lunak untuk mengubah foto-foto digital. Tapi tahukah anda, bahwa rekayasa seperti ini telah terjadi sejak era Hitler dulu [1]?

Trik Politik hingga Manipulasi Ilmiah


Pada tahun 1937, Hitler memerintahkan untuk ‘menghapus’ salah satu orang terdekatnya dari dalam sebuah foto, hanya karena hubungan mereka memburuk. Bahkan jauh lebih awal lagi, pada tahun 1860-an, potret dari Presidan Amerika Abraham Lincoln dibuat tampak lebih ‘heroik’, dengan cara meminjam potret poster tubuh lawan politiknya yang memang tampak berdiri lebih tegap. Stalin, Mao, Mussolini, sampai Castro pun ternyata pernah melakukan ‘dosa’ yang serupa [1].

Tentu, dahulu orang belum mengenal fotografi digital. Karenanya, sang perekayasa harus bekerja keras memainkan ‘negatif film’ di dalam kamar gelap. Kini, rekayasa secara digital bisa dilakukan hanya dalam sekejap. Kalau hanya diterapkan untuk mencari sensasi selebriti, mungkin efeknya secara etika tidaklah terlalu besar. Namun tentu tidak demikian, jika rekayasa tersebut merambah dunia ilmiah. Berita yang cukup menghebohkan adalah ketika seorang Profesor dari Korea Selatan terbukti berbohong saat mengklaim telah berhasil meng-kloning sel punca (’stem cell’). Bersama timnya, ia merekayasa foto-foto digital dalam publikasinya, untuk mendukung klaim ilmiahnya [2].

Tips Sederhana Mengenali Foto Terekayasa

Lantas, bagaimana cara mengenali rekayasa digital seperti itu? Profesor Hany Farid, yang sering dimintai jasa FBI untuk urusan sejenis, membagi dua tips sederhana:

1. Arah dan panjang bayangan

Kadang orang melakukan rekayasa dengan menempelkan dua buah foto bersebelahan, seperti pada kasus Jolie-Pitt di atas. Sekilas, hasil tempelannya dapat tampak meyakinkan. Namun jika dilihat dengan teliti, ternyata kondisi pencahayaan pada tubuh Pitt dan Jolie tidaklah sama. Di sisi kiri foto, matahari tampak menyinari Pitt dari sisi kanan. Sebaliknya, di sisi kanan, matahari menyorot Jolie tepat dari atas. Dengan mengamati arah dan panjang bayangan masing-masing tokoh dalam sebuah foto, anda pun dapat melihat apakah pencahayaan foto tersebut telah konsisten.

2. Pantulan cahaya pada mata

Begitu pula, pencahayaan yang tidak konsisten dapat dilihat dari pantulan di bola mata. Katakanlah, sebuah foto rekayasa dihasilkan dengan menggabungkan foto lima orang yang berbeda, masing-masing diabadikan pada situasi yang berbeda, seperti di kasus foto juri American Idol yang telihat di bawah [3]. Lagi-lagi, sekilas hasil rekayasanya tampak bagaikan asli. Walaupun demikian, jika foto diperbesar dan bagian bola mata masing-masing tokoh yang tergambar di sana diperhatikan, ternyata jumlah sumber cahaya (maupun arah masing-masing cahaya tersebut) tidaklah sama.



Teknologi Forensik Digital

Tentunya, masih banyak teknik rekayasa lain yang lebih rumit untuk bisa dideteksi. Karenanya, Profesor Farid dan timnya lantas mengembangkan sejumlah metode matematis, dengan nama ‘forensik digital’ [4]. Ini bisa dilakukan, karena memang informasi yang terkandung dalam foto digital tersimpan sebagai deretan sinyal. Saat sebuah foto mengalami rekayasa, maka deretan sinyal itu pun akan terusik, sehingga sejumlah pola khas akan muncul. Dengan mengenali pola-pola ini secara matematis, maka rekayasa dapat dideteksi, dan jenis rekayasa mana yang telah dipakai pun dapat dikenali.

Uniknya, metode matematis ini bisa diterapkan pada semua jenis dokumen digital, baik berupa foto, video, maupun sinyal suara. Di Indonesia, contoh terkini yang cukup hangat adalah dipakainya teknologi forensik akustik dalam mencocokkan data suara tersangka pada kasus tindak pidana korupsi [5].

Bacaan lanjutan
[1] http://www.cs.dartmouth.edu/farid/research/digitaltampering/
[2] http://www.sciencemag.org/sciext/hwang2005/
[3] http://hanyfarid.org/maat/americanidol.html
[4] http://www.cs.dartmouth.edu/farid/press/digitaljournalist08.html
[5] http://jokosarwono.wordpress.com/2008/08/23/tak-berkutik-karena-akustik/

foto:hanyfarid.org

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Gea OF Parikesit
Tanggal: Selasa, 26 Agustus, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Lahir dan dibesarkan di kota Bandung, Gea Oswah Fatah Parikesit lulus dari program studi S1 Teknik Fisika di ITB pada tahun 2001. Studinya kemudian dilanjutkan di TU Delft (Belanda) hingga ke jenjang S2 dan S3. Bidang yang ditekuninya adalah instrumentasi optika dan mikrofluida.

Tulisan Terkait:

Banner

1 Komentar untuk “Rekayasa Foto, dari Era Hitler sampai Brad Pitt”

  1. Mesti bookmark halaman ini. Ntar berkunjung ke daftar referensinya.
    :P

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>