Beranda > Artikel > Pemandu Sorak, Olah Raga Paling Berbahaya bagi Remaja Putri

Pemandu Sorak, Olah Raga Paling Berbahaya bagi Remaja Putri

Selasa, 12 Agustus, 2008 oleh Merry Magdalena

Menjadi pemandu sorak alias cheerleader kerap jadi incaran siswi sekolah. Selain dianggap olahraga bergengsi, aktivitas ini juga mendongkrak popularitas. Padahal olah tubuh ini tergolong jauh lebih berbahaya dibanding olahraga lain. Setidaknya demikian dari hasil statistik kasus kecelakaan yang dicatat National Center for Catastrophic Sports Injury Research.

Olahraga ini terbukti mendominasi sebesar 65,1% dari seluruh jumlah kecelakaan yang terjadi saat siswi berolahraga di sekolah selama 25 tahun belakangan ini. Para periset mengatakan, jumlah sesungguhnya bisa jadi lebih tinggi dari itu sebab banyak kasus yang tidak dilaporkan. Bukan sekedar persendian kaki yang terkilir saja, tapi juga sejumlah kasus fatal, cacat, dan luka serius. Jumlah kecelakaan ini terus meningkat sejak tahun 1982.

Gerakan Sulit

“Faktor utama peningkatan jumlah kecelakaan adalah perubahan aktivitas pemandu sorak, dimana kini juga melibatkan gerakan senam yang berani,” komentar Dr. Frederick O. Mueller, pimpinan peneliti bidang sains dan olahraga di University of North Carolina. “Jika aktivitas ini tidak diajarkan oleh pelatih yang kompeten namun tetap menambah gerakan sulit, maka kecelakaan bisa terus bertambah.”

Makin muda usia cheerleader, makin besar pula risiko terkena kecelakaan. Siswi usia 5-18 tahun mengalami peningkatan kasus kecelakaan. Di AS saja, meningkat dari 10.900 kasus di tahun 1990 menjadi 22.900 kasus di tahun 2002, demikian berdasar data jurnal Pediatrics tahun 2006.

Diterjemahkan secara bebas dari: Livescience.com
Foto:assets.cardiffstudents.com

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Selasa, 12 Agustus, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>