Guru dan kurikulum adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Sertifikasi tenaga pendidikan dan pengembangan kurikulum yang belakangan ini tengah dilakukan adalah upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan melalui dua aspek di atas.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menyoroti peran guru dan kurikulum dalam sistem pendidikan nasional. Di sini penulis akan memaparkan kondisi yang ada dan perlunya dilakukan usaha untuk memperbaikinya. Analisis yang dilakukan di sini berdasarkan pengalaman penulis dalam pengajaran dan pengembangan buku pelajaran berbasis kurikulum.
Dicari, Guru yang Profesional
Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Di pundaknya siswa menggantungkan harapan terhadap pelajaran yang diajarkannya. Benci atau sukanya siswa terhadap suatu pelajaran bergantung pada bagaimana guru mengajar. Saya katakan bahwa guru adalah ujung tombak dalam sistem pendidikan. Sebagai ujung tombak, tentu kita sangat berharap kepada peran guru dan kharismanya di hadapan siswa.
Sekarang, mari kita tengok bagaimana peranan guru di kelas. Kita harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan sebuah pelajaran di sekolah sulit dan tidak menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Fakta ini didukung oleh pendapat banyak siswa sekolah yang pernah penulis temui dan pengalaman penulis saat sekolah dulu. Dari pengalaman siswa tersebut, penulis mendapati banyak guru yang tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Entah karena malas atau kurang menguasai materi pelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia. Sering waktu pelajaran di kelas diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi wawasan secukupnya tentang materi tersebut.
Ada juga guru yang untuk menutupi kemalasannya dan ketidakmampuannya menguasai materi memberikan tugas kepada siswa untuk merangkum materi pelajaran atau membuat makalah dengan topik materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan siswa telah membuat rangkuman atau makalah guru menganggap siswa sudah mempelajari materi tersebut dan menganggap siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Wow, hebat sekali ya! (Jadi, ngapain aja tuh guru?)
Guru yang lainnya, untuk menutupi kemalasannya dan kekurangannya, ada yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi pelajaran. Tetapi, sikap ini malah menambah kebencian siswa kepada guru sekaligus juga terhadap pelajarannya. Tidak heran ada istilah guru killer untuk menyebut guru yang mempunyai sikap seperti ini, galak, kurang jelas dalam menerangkan materi, dan otoriter. Apakah seperti ini sikap guru yang sesungguhnya?
Wajar saja kalau kegiatan belajar di kelas menjadi kurang menarik dan sulit lha wong gurunya saja tidak pernah memberikan pelajaran sama sekali dan lebih suka marah-marah ketimbang mengajar. Dari mana siswa mendapat tambahan pengetahuan kalau bukan dari guru? Padahal guru bertanggung jawab untuk mengantarkan siswa memahami pelajaran dan membimbing siswa untuk menerapkan pelajaran yang diajarkannya.
Berdasarkan pengalaman penulis, sebenarnya banyak cara, metode, dan sarana yang bisa dijadikan bahan dalam mengajarkan suatu materi sehingga dapat menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi termodinamika dalam pelajaran fisika (kebetulan penulis berlatar belakang fisika) seorang guru dapat menganalogikan hukum termodinamika I dengan krupuk yang sedang digoreng. Krupuk yang digoreng (diberi panas) akan mengalami perubahan volume (membesar) dan kenaikan suhu. Ini sesuai dengan hukum termodinamika I bahwa Q = ΔU + P.ΔV (panas Q mengakibatkan kenaikan suhu (energi dalam) ΔU dan pertambahan volume P.ΔV). Bukankah cara ini lebih efektif? Dan banyak lagi contoh yang bisa dipakai.
Tidak pantas bagi seorang guru yang membiarkan siswanya tidak mendapat tambahan pengetahuan. Dan, kebanggaan bagi guru yang mampu menanamkan pengetahuan kepada siswanya dan pengetahuan itu bermanfaat bagi kehidupan di masa yang akan datang. Jadi, kepada guru marilah kita perbaiki sikap dan metode pengajaran yang selama ini kita jalankan dalam mengajarkan satu pelajaran. Dengan memperbaiki sikap dan metode pengajaran kita adalah salah satu jalan untuk membuat pelajaran itu lebih disenangi dan mudah bagi siswa.
Kurikulum yang Tidak Membumi
Tidak salah lagi, kurikulum adalah salah satu penyebab suatu pelajaran menjadi sangat sulit dan berat untuk dipelajari dan karenanya kurang disukai siswa. Di sini penulis mengambil contoh pelajaran fisika dan kurikulumnya sebagai studi kasus.
Kurikulum fisika yang ada tidak seharusnya diberikan pada tingkatan sekolah menengah. Karena menurut kurikulum ini materi pelajaran yang harus diberikan sangat banyak dan terlalu sulit jika dilihat bahwa jam pelajaran yang tersedia sangat terbatas dan siswa pun tidak hanya belajar fisika. Siswa juga harus belajar matematika, biologi, kimia, agama, ekonomi, sejarah dan lain-lain. Jadi, sangat tidak bijak apabila siswa dipaksakan (dijejali) untuk memahami semua materi yang ada di kurikulum.
Materi yang harus dipelajari oleh siswa tentang fisika begitu banyak dan mendetail yang masih perlu dipertanyakan haruskah materi ini diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Perubahan kurikulum pada dasarnya tidak banyak mengubah materi pelajaran fisika ini karena hanya mengubah susunan atau struktur materi pelajaran. Perubahan kurikulum tidak pernah sama sekali menyentuh hal apakah materi ini layak dan harus diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Pelajaran fisika yang selama ini kita pelajari di tingkat sekolah menengah seharusnya dipelajari di tingkat yang lebih tinggi (apa karena ini siswa kita banyak yang menggondol medali emas olimpiade fisika?).
Kurikulum yang ada selama ini hanya mampu diikuti oleh segelintir siswa saja yang mampu sedangkan sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti apa yang ada di kurikulum. Seharusnya kurikulum dibuat untuk dapat diikuti oleh semua siswa, tidak hanya oleh segelintir siswa yang pintar saja. Berdasarkan pengalaman penulis untuk menjelaskan satu bagian (misalnya, hukum termodinamika I) saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Dan belum tentu bisa dipahami oleh semua siswa karena kemampuan masing-masing siswa berbeda-beda. Akibatnya, tidak cukup waktu yang tersedia untuk menyelesaikan seluruh materi yang ada dalam kurikulum.
Akan tetapi, karena kurikulum telah dijadikan pedoman dan bahkan seolah-olah bagaikan kitab suci yang wajib digunakan, kekurangan-kekurangan yang ada dalam kurikulum tidak bisa diganggu gugat. Ini menjadi beban tersendiri buat guru dan siswa.
Menurut pandangan penulis, pelajaran fisika seharusnya diarahkan untuk dapat membantu memecahkan masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran fisika bukan sekedar membahas seluruh aspek dari hukum-hukum fisika secara detil sekaligus menyelesaikan semua perhitungan yang berkaitan dengan hukum tersebut tanpa siswa mengetahui apa manfaat yang nyata dari hukum-hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan kurikulum yang ada kurang membumi yang membuat siswa kurang berminat mempelajarinya.
Kurikulum yang terlalu padat dan kurang membumi diperparah oleh ketersedian buku sebagai pegangan guru dan siswa dalam pengajaran fisika di sekolah. Ya, harus diakui bahwa buku pelajaran adalah salah satu elemen penting dalam proses pendidikan di sekolah tak terkecuali dalam pelajaran fisika. Di atas telah disebutkan bahwa buku fisika sebagai pengantar memahami pelajaran fisika yang ada tidak representatif. Ini bukan berarti penulisnya yang salah ataupun penerbit yang tidak bertanggung jawab. Penulis maupun penerbit merasa mereka telah membuat buku sesuai dengan kurikulum yang terbaru (kurikulumnya aja ngga jelas!). Dan mereka beralasan buku yang tidak sesuai kurikulum (walaupun lebih membumi dan lebih bisa dibaca (ada ngga ya!)) tidak akan laku dijual. Buku yang sedianya menjadi salah satu elemen penting dalam pendidikan telah terperangkap dalam bisnis semata dan seolah-olah mengabaikan aspek pendidikan. Praktik bisnis ini membuat tidak ada penerbit yang berani membuat buku yang lepas dari pakem dan belenggu kurikulum sehingga buku tersebut bisa lebih membumi dan mudah dipahami.
Salah satu ganjalan lain berkaitan dengan kurikulum yang membuat pelajaran fisika menjadi terlihat sulit adalah adanya ujian nasional (UN) sebagai standar kelulusan. Pelajaran fisika (atau sains pada umumnya) yang sedianya dapat dieksplorasi menjadi lebih menarik terbentur oleh batasan-batasan standar ujian nasional. Dengan adanya batasan-batasan ini guru menjadi terbelenggu dan membatasi pengajarannya hanya pada materi yang diprediksi akan keluar dalam UN. Pengajaran fisika yang dapat diarahkan agar lebih menarik digantikan oleh pembahasan soal-soal untuk menghadapi UN. Keindahan ilmu dan penerapan fisika serta merta akan tertutup oleh kekhawatiran bagaimana menyelesaikan soal UN dengan benar. Tentu saja siswa akan merasa bosan dengan metode pengajaran seperti ini tapi apa boleh buat daripada tidak lulus UN bisa berabe. (Mau ditaruh di mana muka gue kalo ngga lulus UN!)
Penutup
Dengan argumen yang telah dipaparkan di atas, akankah kita diam saja membiarkan praktik semacam ini berlangsung terus?
Penulis yakin apabila setiap pelajaran baik fisika maupun pelajaran lain bisa diarahkan agar lebih membumi dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah untuk memahami suatu pelajaran. Dengan demikian, guru juga lebih mudah untuk mengajarkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. Dan, pada saat itu tidak akan ada lagi yang mengeluh saat mengikuti suatu pelajaran di kelas.
foto: ima.dada.net



(5 suara, nilai: 4,60 ⁄ 5)
Ya, saat ini kan pelajaran-pelajaran di bangku sekolah tidak untuk menyiapkan anak-anak menghadapi kehidupan nya, tapi tak lebih untuk menghasilkan angka-angka di rapot..
Ya memang guru kita tidak profesional, maksud hati mengajar dengan baik alih-alih terbentur dan terbelit urusan sandang, pangan dan papan memang tragis, nafsu besar kemampuan tak ada
Tidak semua guru seperti itu! Dinegara ini atau bahkan di dunia ini tentu saja masih ada keikhlasan seseorang untuk menjadi guru untuk dunia akherat.Tergantung pada niat dan keyakinan.
Memang saya meninjau pada kenyataannya sebagai guru dan kepala rumah tangga. Jumlah guru seperti saya mungkin persentasenya lebih banyak. Pergi sana-sini cari objekan. Selamat untuk ibu asih yang masih berdedikasi tinggi .
guru menurut saya adalah seseorang yang sangat mulia
tanpa guru negara ini pasti kan hancur..
guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa…
thangks teacher…….
Yang jelas mengajar fisika itu asyik. Meskipun saya mengajar jam terakhir tidak pernah ada kendala. Selama kita terus berjuang memperbaiki cara penyampaian ilmu fisika, enjoy saja. Kata siswa-siswa saya: “mengapa waktu cepat berlalu, 2 jp terasa hanya 30 menit”. Meskipun demikian, saya setuju materi fisika sedikit dirampingkan, Supaya guru punya waktu untuk mendampingi siswa menjadi “Generasi Pembelajar”.
artikel yang bagus bro, salut apalagi penutupnya “Penulis yakin apabila setiap pelajaran baik fisika maupun pelajaran lain bisa diarahkan agar lebih membumi dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah untuk memahami suatu pelajaran. Dengan demikian, guru juga lebih mudah untuk mengajarkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. Dan, pada saat itu tidak akan ada lagi yang mengeluh saat mengikuti suatu pelajaran di kelas.” karena kebanyakan sekolah di indonesia cuma mengajarkan teori saja, q ga habis pikir yang salah kurikulumnya, gurunya atau muridnya….. bayangkan kita belajar bahasa indonesia aja ga kurang 12 tahun, tapi jarang dari kita yang benar2 paham bahasa indonesia yang benar, kadang masih campur betawi atau jawa tulen so…. what next?
kurikulum kita tidak lebih pada kurikulum gado2 yang mempelajari hampir semua aspek,marilah berkaca pada sistem pendidikan Eropa sedari kecil mereka menekuni 1 ruanglingkup ilmu sesuai bakatnya sehingga wajar mereka ahli & profesional di bidangnya.
apa yang mempengaruhi kurikulum dalam peningkatan mutu pendidikan. andaikanlah ada pengaruhnya. apa kurikulum pemerintah sudah bisa meningkatkatkan mutu pendidikan. untuk itu saya menyaran kan pemerintah lebih jeli melihat mana lebih penting life skill daripada
hasil belajar yang tinggi tanpa mengetahui pengaplikasiannya
GURU ADALAH CERMIN UNTUK MURIDNYA.
GURU BUKAN KERJA SAMPINGAN.
GURU YANG MENJADIKAN NEGARA MAJU ATAU TERPURUK.
Guru mengajar dengan AKAL dan pengetahuannya maka akan diterima oleh AKAL muridnya.
Guru mengajar dengan HATI dan rasa tanggung jawabnya, maka akan diterima oleh HATI muridnya dengan penuh tanggung jawab.
Guru mengajar dengan hawa nafsu dan ke”bodoh”annya,maka akan diterima oleh HAWA NAFSU muridnya dengan kebencian dan ketidaktahuannya.
Ada ilmu yang dibutuhkan siswa dalam hidupnya, tapi siswa tidak tahu terhadap ilmu itu, wajib disampaikan dan diajarkan dengan cara bagaimana supaya siswa itu butuh pada ilmu itu dan mengejarnnya.
Ada ilmu yang dibutuhkan siswa dalam hidupnya, dan siswa tahu ilmu itu dibutuhkannya,wajib disampaikan dan diajarkan dengan cara bagaimanapun biasanya siswa itu butuh pada ilmu itu maka akan mengejarnya.
Pemerintah harus lebih memperhatikan kesejateraan para guru, karena apabila pemerintah tidak peduli dengan persoalan yang sedang dilanda para guru maka jangan heran ketika banyak dari itu sediri mencari sesuatu yang lebih dari Siswa/Siswinya dan dampak dari itu semua sangat tidak baik demi kemajuan pendidikan di Negeri yang kita Cintai. Kita tahu bahwa profesi Guru adalah kemuliaan untuk itu jangan tercoreng oleh oknum-oknum yang hanya mencari keuntungan semata dan sedikit mengkritisi para guru yang terlalu kaku dalam pendekatan dengan Siswa/Siswi mereka, hingga membuat mereka bosan dengan pelajaran dan sekolah, mulai saat ini mari kita serukan jadilah guru yang bisa juga menjadi teman dihati mereka, pada dasarnya untuk menjadi guru yang baik maka guru itupun harus belajar juga dari Siswa/Siswinya khususnya fisiologi mereka, dengan begitu para guru itupun dapat di cintai mereka begitu juga dengan mata pelajaran yang ia berikan hal ini akhirnya membuat pendidikan akan berjalan baik dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
siapapun yang membuat blog ini adalah orang yang tentunya peduli pada dunia Pendidikan.
Sebelumnya mohon maaf telah lancang apabila numpang iklan di blog anda.
Kebetulan saya bersama teman yang mana dia salah seorang guru di salah satu sekolah swasta di Jakarta, mempunyai niat yang sama yaitu mengadakan proses kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak yang putus sekolah yang notabene mereka lebih banyk menghabiskan waktunya untuk nongkrong, bermain dan bekerja hingga lupa bahwa pendidikan itu sangatlah penting.
Atas dasar itulah kegiatan itupun berjalan hal hasil anak-anak sangat antusias.
Maksud dari tujuan saya adalah ingin mengajak semua pihak untuk ikut serta membantu program ini berjalan dengan sebaik-biknya.saat ini saya sangat membutuhkan teman-teman yang merasa terpangil untuk bisa mengajarkan dan memberikan ilmu kepada anak-anak yang tentunya sesuai dengan keahlian amda.
bleh saya tw lebih detail…
Iya memang mendidik itu penting, membangun bangsa bukan tugas guru saja, tetapi tugas semua tentunya dengan dukungan tidak hanya dengan sebatas kata-kata, ataupun puisi yang penting action….. bo……action .! Contohlah negara tetangga kita Malaysia, nggak usah jauh-jauh bagaimana political will pemerintah disana terhadap pendidikan sungguh luar biasa. Bukannya kita tidak iklas atau tidak mau beribadah tetapi kita menginginkan negara ini maju ,bukan tidak terpanggil untuk memajukan pendidikan tetapi kita harus berfikir bahwa semua usaha dalam memajukan pendidikan harus melihat kenyataan BUng dukunglah oleh semua fihak! Tidak usah gonta-ganti kurikulum, sehingga kurikulum satu belum tuntas timbul yang baru mau diapakan pendidikan kita ?
Action……..Action ………Action … No talk Only Bung !
SElamat berjuang.
Penulis artikel di atas sangat normatif, klasik, bukan hal yg baru, semua orang sudah tau, padahal ada satu hal yg luput dari perhatian kita semua yaitu ada yg lebih bertanggung jawab di sekolah yaitu JURAGAN KEPALA SEKOLAH, sudahkah beliau memanagement organisasi sekolah dgn benar???
sehingga terwujudnya suasana belajar mengajar yg kondusif?
guuuuru aja yg di salahin
Profesionalisme guru jika tidak didukung oleh good will para anggota/ warga sekolah akan mengalami benturan dan tidak menutup kemungkinan akan mengalami kegagalan. kadang kesadaran masyarakat yang selalu mencurigai para guru akan menimbulkan hilangnya profesionalisme guru. sampai saat ini belun jelas batasan profesionalisme guru, yang ada hanya tuntutan -dan tuntutan administrasi yang kadang melupakan proses sesungguhnya
Banyak orang mengomentari kurikulum berdasarkan pengalaman
pribadi masing-masing. Orang tua yang merasa kesulitan membantu anaknya mengerjakan PR matematika menyalahkan kurikulum yang dibuat untuk matematika tidak akan berguna untuk masa depan anak. Menurut saya tim penyusun kurikulum
lebih berpandangan menyiapkan fondasi untuk berbagai profesi
yang mungkin akan dijalani seorang anak dimasa depan.
Kalo seseorang berminat pada satu bidang dia bisa memperdalam
bidang tersebut, sementara bila tidak berminat mungkin bisa mengabaikannya…?
Gimana komentar para pakar, apa bisa disosialisasikan lebih lanjut apa dasar penyusunan kurikulum yang sebenarnya..?
Di kota saya, banyak murid sekolah yang tidak memiliki/memegang buku pelajaran yang seharusnya, dari sekolah sering yang ada cuman buku atau fotocopy latihan soal, kelihatannya sebagai upaya untuk mendapatkan nilai ujian saja.
Dimana harus dibenahi, guru; sekolah; atau keaktifan siswa sendiri untuk mengakses buku pelajaran yang lebih memadai (misalnya Buku Sekolah Elektronik yang relatif tidak memerlukan biaya langsung untuk pembeliannya).
Memang dilematis buat kita sebagai guru… disatu sisi kita mengejar kualitas sehingga siswa betul-betul menguasai isi materi yang dipelajari walau hanya satu KD, disisi lain kita pun harus mengejar kuantitas karena tuntutan Ujian Nasional (UN)sehingga seluruh materi yang ada dalam kurikulum harus diberikan.
Saat ini guru harus jadi robinhood atau sipitung, demi menyelamatkan siswanya dari ketidak lulusan mereka terpaksa melakukan kerja mafia. adakah jalan lain yang tidak memaksa keadaan demikian atau sebaiknya UN diberlakukan seperti penggunaan NEM waktu lampau. agar kualitas tetap terlihat dan guru bisa meluluskan tanpa terhimpit beban.
Dear all,
Saya saat ini sedang coba “search” tentang kurikulum dan materi pelajaran di sekolah dasar khususnya materi ilmu ekonomi. Setelah saya search di web depdiknas dan ditjen mandikdasmen ada kesan bahwa kurikulum memang bukan menjadi konsern utama kedua lembaga tersebut. Menurut saya, keunggulan pendidikan sebenarnya justru terletak pada kurikulum yang ditawarkan. Saya agak sedih melihat materi ekonomi di sekolah dasar, yang tidak mengarahkan anak didik menjadi kreatif, dan memahami ekonomi keluarga dan masyarakatnya.
Saya saat ini sedang mencoba menelusuri lebih jauh tentang hal itu, termasuk bagaimana materi ilmu ekonomi tersebut diajarkan di sekolah kejuruan. Hipotesis sy kayaknya sama deh tidak menggembirakannya…
Salam,
puthut
Guru di indonesia saat ini banyak yang semena mena dalam mendidik murid-muridnya,faktanya saya sbg siswa dlm menerima pelajaran jarang menerima materi!!!!
SAYA MOHON KEPADA PEMERINTAH AGAR MEMPERHATIKAN DAN PEDULI KPD KITA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ngak semua guru seperti itu emang guru adalah ujung tombak dari keberhasilan siswa tetapi suatu keberhasilan tanpa usaha dari siswa adalah NOTHING pernah ngak anda melihat hal kebelakang semua yang anda capai berasal bantuan dari mana???
bukan guru yang membuat pelajaran membosankan tetapi tanggapan dari siwa dan paradigma siswa akan pandangan suatu guru lah yg membuat guru menjadi membosankan
komentar anda tentang guru tapi anda mencari fakta hanya dari komentar murid dan pengalaman pribadi anda
Apa tu g salah tanya juga doank sama guru…..
satu lagi cari contoh yang bener emang krupuk di goreng mengembang emang bener tapi apa semua yg di goreng mengembang ?????
tahu di goreng tambah besar ya????
ayam di goreng tambah besar ya?????
tempe di goreng tambah besar ya?????
duh tau lah yg bener sapa????
@murid dan semua
terima kasih atas semua masukan, kritik, dan sarannya
tulisan ini sama sekali tidak berusaha menyalahkan guru dan memojokkan guru sebagai pihak yang bertanggung jawab. ini adalah tanggung jawab kita semua yang peduli kepada pendidikan.
untuk krupuk yang digoreng, itu cuma salah satu contoh yg bisa digunakan untuk mempermudah pemahaman saja. ada banyak contoh lain di alam yg bisa digunakan dalam pelajaran yg bisa dieksplor. contoh2 ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pemahaman tetapi masih belum banyak yg memanfaatkannya.
Umumnya guru Indonesia memang rendah motifasinya, saya konsultan SDM yang memberi pelatihan pada banyak guru SMP dan sedang mengenalkan Sistem HIGSPEED LEARNING TEACHING.Sikap apatis guru juga disebabkan oleh seringnya sistem dan kurikulum dirubah, buku diganti dan banyaknya aturan. Akhirnya guru hanya berpikir datang dan pulang, akhir bulan gajihan. Saya mengenalkan The Champion school network yang menggunakan lomba untuk memacu dan memicu semangat guru serta siswanya dalam belajar mengajar yang didukung dunia usaha dengan sponsorship dan nara sumber entreprenuer serta profesional dunia usaha. Semoga bisa mencerahkan.
KETERTARIKAN SISWA TERHDAP MATERI AJARAN DALAH TIDAK LEPAS DARI METODE PEMBELAJARAN YANG DITERAPKAN OLEH GURU SERTA KEMAMPUAN GURU DLAM MENGUASAI KELAS SEHINGGA DAPAT MENIMBULKAN MINAT KEINGINTAHUAN DARI SISWA. CUMA YANG JADI MASALAH, BAGAIMANA DENGAN SEKOLAH SWASTA YANG MENGUTAMAKAN KUANTITAS DAN BUKAN KUALITAS? HAL INI MENIMBULKAN KETIDAKHARMONISAN ANATARA STAF PENGAJAR DENGAN PENGELOLA YAYASAN DAN AKIBATNYA TIMBUL SIFAT MASA BODOH DARI GURU ITU SENDIRI.
JIKA DITINJAU HINGGA SEKARANG SISTEM KURIKULUM DI INDONESIA MENGALAMI PERKEMBANGAN YANG SIGNIFIKAN, HAL INI DISEBABKAN DENGAN TUNTUTAN JAMAN YANG MASUK PADA ERA GLOBALISASI.
KURIKUUM BERUBAH DARI TAHUN KE TAHUN YANG TIDAK DILEPASKAN AKAN ADANYA EVALUASI-AVALUASI YANG BAEK,SEHINNGA MENCOBA UNTUK MENCARI YANG TERBAIK BAGI SISWA.
YANNG NOTABENE SISTEM PENYAMPAIANYA PUN TERGANTUNG AKAN SUMBERDAYA PENGAJAR YANG TERUTAMA SEBAGAI PENDIDIK TIDAK LUPA SUMBERDAYA MURID JUGA PATUT DIKEMBANGKAN AGAR SETIAP KEBIJAKAN KURIKULUM DAPAT DITERIMA DENGAN BAIK.
Selamat, Anda telah ikut berkiprah dalam dunia tulis menulis tentang pendidikan. Saat ini kita lebih sering menggunakan istilah pendidik (educator) dan tenaga kependidikan untuk SDM yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Widyaiswara termasuk dalam pengertian pendidik atau guru ini. Itulah sebabnya kini ada Direktorat Jenderal yang khusus menangani komponen pendidik dan tenaga kependidikan ini, yakni Ditjen PMPTK (Peningkatkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan).
Sekali lagi selamat,
*no promotion, please*
Selamat, Anda telah ikut berkiprah dalam dunia tulis menulis tentang pendidikan. Saat ini kita lebih sering menggunakan istilah pendidik (educator) dan tenaga kependidikan untuk SDM yang mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Widyaiswara termasuk dalam pengertian pendidik atau guru ini. Itulah sebabnya kini ada Direktorat Jenderal yang khusus menangani komponen pendidik dan tenaga kependidikan ini, yakni Ditjen PMPTK (Peningkatkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan).
Sekali lagi selamat,
*no promotion, please*