Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 suara, nilai: 4,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Menggugat Indonesia?

“Oh, Indonesia?! I know Susi Susanti. A very good badminton player!” Seseorang setengah berteriak histeris di Stasiun Kereta Api Frankfurt ketika saya mengenalkan diri dari Indonesia. Tentu saja Susi Susanti yang
lebih dikenalnya karena orang ini adalah penggemar bulu tangkis. Cerita ini senada dengan kejadian sebelumnya ketika saya baru saja menyelesaikan presentasi di Oslo, Norwegia. “I know Hasjim Djalal very well. He is one of the veterans of the law of the sea from Indonesia.” Tomas Heidar, ahli hukum laut berkebangsaan Islandia ini tentu saja lebih familiar dengan Prof. Hasjim Djalal dibandingkan siapapun di Indonesia, karena reputasinya di bidang hukum laut yang tidak diragukan. Saya semakin teryakinkan bahwa “aku” lah sebagai anak bangsa yang bisa menjadi identitas bagi bangsa sendiri.

Di New York, saya bertemu dengan seorang gadis Thailand, Sampan Panjarat. Sejujurnya saya memiliki anggapan tersendiri tentang perempuan Thailand sebelumnya. Sampan adalah contoh warga bangsa yang mencitrakan bangsanya dengan sangat baik. Sampan tidak sekalipun pernah menjelekkan bangsanya di depan siapapun. Ceritanya selalu diisi dengan kebanggan, kekaguman dan kepuasan akan bangsanya. Tiga bulan bersamanya di gedung PBB, tanpa disadari telah mengubah persepsi saya tentang Thailand, terutama gadis Thailand. Memang tidaklah selalu negara, tetapi sang “aku” sebagai warga negara yang akhirnya bisa menjadi identitas dan membangun citra bangsa.

Saya ingat pidato menggugah dari Presiden India yang beredar di internet. Kira-kira presiden mengatakan, it is YOU who should do something for your country, bukan orang lain. Bangsa ini terdiri dari sekumpulan “aku” dan akulah yang harus berbenah. Ketika sang “aku” tiba-tiba bisa menjadi orang yang disiplin dalam antrian taksi di sebuah sudut kita Singapura, mengapa “aku” yang sama tidak bisa berbuat demikian di negeri sendiri? Benar memang, adalah sang “aku” yang, sekali lagi, bisa menjadi identitas bangsa dan
tidak selalu sebaliknya.

Dalam kesempatan lain saya bertemu dengan seorang kolega dari Filipina di Gedung PBB, New York yang sangat negatif akan bangsanya. Selain itu kolega ini juga berlaku ceroboh dan lambat dalam melakukan sesuatu. Cerita dan kondisi pribadinya menyempurnakan anggapan bahwa Filipina memang ada masalah. Senada dengan ini, kawan lain dari Cameroon berlaku serupa. Keluhan dan penghinaan terhadap bangsanya menegaskan kesan dan anggapan saya bahwa Afrika memang jauh dari maju dan jauh dari baik. Sekali lagi, satu orang memang bisa menciptakan kesan tentang sebuah bangsa.

Saya ingat ucapan para tetua di Bali. Jangan menghina orang tua, karena engkau akan menjadi anak orang hina. Jangan menghina sulinggih (pemuka agama) karena kamu akan jadi sisya (siswa/pengikut) sulinggih yang hina. Adalah diri ini yang menciptakan identatas sebuah komunitas tempat kita bernaung.

Ketika bersekolah di Australia saya bergaul dengan banyak sekali orang Indonesia. Banyak dari mereka yang kecewa terhadap Indonesia dan muak dengan segala macam ketidakadilan atau perlakuan tak semestinya yang mereka terima. Kini banyak dari mereka yang menjadi pembenci Indonesia, dan memutuskan untuk enyah dari bangsa sendiri dan hidup di negara tetangga. Ada yang bahkan sudah tidak bisa membedakan lagi mana Indonesia sebagai bangsa, dan mana pemerintah yang direpresentasikan oleh individu. Betulkah Indonesia, bangsa yang besar ini, yang harus dibenci dengan segala ketidaksempurnaan ini? Benarkah Indonesia, bangsa dengan 17 ribu lebih pulau ini, yang harus dihujat dan dihina atas segala ketidaknyamanan hidup yang terjadi? Saya bertanya dan bertanya lagi.

Bukankah sang ”aku” yang membangun citra sebuah bangsa? Kalau kebencian akan Indonesia ini karena sulitnya mengurus passpor di kantor imigrasi, Indonesiakah yang harus dipersalahkan? Kalau kebencian itu tumbuh karena sertifikat tanah yang tidak kunjung beres sebelum beberapa lembar uang seratus ribuan harus direlakan percuma, haruskah Indonesia yang dihujat? Kalau kebencian ini muncul karena macetnya Jakarta akibat transportasi yang mengenaskan, haruskah Indonesia yang dicaci maki? Kalau kebencian ini muncul karena uang beasiswa dari Dikti tidak kunjung turun sementara hidup di Heidelberg tidaklah murah, apakah kemarahan harus ditumpahkan kepada Indonesia? Malang nian nasib Indonesia ini yang harus menerima kebencian dan kemarahan dari banyak sekali orang. Tidakkah ada seseorang yang telah bersalah dan membuat semua ketidaknyamanan ini niscaya? Orang bisa saja berteriak bahwa ketidakbaikan ini sudah mengakar dan dia sudah menjadi budaya sebuah sistem besar, tidak mungkin diubah. Bukankah sistem besar itu dibangun dari individu-individu? Bukankah sang diri ini yang akhirnya menjadi identitas? Siapakah yang harus diperaslahkan kalau memang harus menyalahkan? Yang lebih penting, jika harus ada yang berbenah, siapakah yang harus berbenah?

Dalam ketidakmampuan saya menyimpulkan persoalan yang pelik ini, ijinkan saya mengutip lagu lama milik seorang sahabat bagi banyak orang, Iwan Falls. ”Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan” Dirgahayu Republik Indonesia ke-63.

Ilustrasi: Didik Wicaksono

 Tentang Penulis: I Made Andi Arsana

I Made Andi Arsana Andi’s permanent job is in Gadjah Mada University, Indonesia as a lecturer in the Department of Geodetic Engineering. He is currently an Australian Leadership Awards Scolar (PhD candidate) at the Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong, Australia. He was previously a UN-Nippon research Fellow at the UN Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (DOALOS), New York, US.Andi was born in a small village in Tabanan, Bali in 1978 and ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 3 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • Arli Aditya ParikesitArli mengatakan:

    Mungkin ada contoh yang agak ekstrim. GAM (gerakan aceh merdeka), memutuskan untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1976, karena mereka tidak puas dengan pemerintah pusat. Aceh adalah daerah yang berkontribusi sangat aktif dalam membela Indonesia, tapi apa yang diberikan pemerintah pusat ke mereka? Penghinaan! Pada era orde lama, propinsi Aceh dilebur dengan propinsi sumatera utara, jadi Aceh dihapus dari peta Indonesia. Kemudian, semua aset rakyat aceh diambil oleh pusat, tanpa kordinasi dengan mereka. Perusahaan minyak asing berinvestasi di Aceh, namun rakyat tetap miskin. Seorang Hasan Tiro, sebenarnya adalah anak bangsa yang sangat optimis dengan Indonesia. Dia seorang diplomat tulen, yang membela Indonesia habis-habisan di forum internasional. Namun, begitu melihat nasib kampung halamannya, dia kecewa. Alhasil, pimpinan GAM kabur ke Swedia. Sejak tahun 1976 sampai 2005, telah lebih dari 50.000 penduduk Aceh tewas dalam konflik GAM versus TNI. Aceh adalah propinsi yang hampir saja lepas dari ibu pertiwi, kalau SBY-JK tidak memikirkan inisiatif perdamaian. Sebuah citra positif, hanya bisa direfleksikan dengan kenyataan di lapangan. Tidak ada citra positif, jika kenyataan tidak seindah ucapan. Itu yang dirasakan rakyat aceh selama puluhan tahun. Jika rakyat Aceh yang ‘dipersalahkan’, karena mereka kerjanya mengeluh, salah siapakah menghapus Aceh di peta Indonesia, dan mengintegrasikan propinsi tersebut ke sumatera utara? Salah siapa juga, mengizinkan investor asing, tanpa memberikan apa2 ke Aceh? Untung hal itu tidak terjadi lagi. Tapi hampir saja Aceh lepas…
    Saya juga berpendapat, berpikir positif an sich, tanpa adanya autokritik, adalah kontraproduktif. Kita jadi tidak mengenal kelemahan dan kelebihan kita sesungguhnya. Selalu ada SWOT analysis yang bisa memetakan semua kan? Dalam suatu organisasi, tidak mungkin juga laporan semuanya baik. Pasti ada kelemahan yang harus diperbaiki. Demikian juga dalam nationhood. Bukan hanya kita harus menampilkan citra positif, karena sekedar citra, tapi hanya diatas kertas, itu tidak ada gunanya. Seperti dulu pemerintah berkata Aceh baik2 saja, tapi puluhan ribu orang tewas disana. Yang penting adalah kerja nyata untuk memperbaiki kondisi kita. Mari kita kerja bersama!

  • bruno ronggo wong jowo neko mengatakan:

    yeah, itu benar, saya muak dengan pemerintah Republik Indonesia, isinya rampok, penipu dan pemerkosa semua.

  • I Made Andi ArsanaAndi Arsana mengatakan:

    Pak Arli,

    Setiap orang harus berani menggugat diri sendiri. Ini inti dari artikel saya. Justru, autokritik adalah esensinya. Saya setuju dgn Anda. Artikel ini ditujukan untuk sang “aku”, bukan yang lain.

    Pak Bruno,
    no comment :)

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.