Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Lajang atau Menikah, Sama-sama Bahagia?

merit1Menikah atau melajang adalah pilihan. Studi mengatakan bahwa kini gap kebahagiaan antara yang menikah atau melajang makin sempit saja. Memang mereka yang menikah masih lebih bahagia daripada yang lajang. Namun bedanya kian sedikit. Apakah ini berarti para lajang juga kelak akan sebahagia yang menikah? Para lajang saat ini terbukti lebih sehat dan bahagia daripada lajang tiga dasawarsa silam, begitu menurut studi anyar.

“Satu dari fakta yang sering didokumentasikan adalah bahwa orang menikah lebih sehat dari yang tidak. Itu masih tetap berlaku. Hanya jurang perbedaannya makin lama makin sempit,” ujar Hui Liu, asisten profesor dan pakar sosiologi di Michigan State University.

Teori

Temuan ini dipublikasikan di edisi September mendatang Journal of Health and Social Behavior.
Ada dua teori yang mengatakan mengapa orang menikah lebih sehat dari yang lajarng. Pertama, menikah membuat kita lebih banyak akses ke dukungan sosial dan sumber ekonomi. Lainnya, lajang yang diakibatkan kematian atau cerai akan alami sakit hati.

“Secara umum, pernikahan cenderung membuat orang lebih sehat,bahagia dan kaya, terutama untuk kaum lelaki,” komentar
Scott Wetzler, wakil ketua bidang ilmu psikis dan perilaku di Montefiore Medical Center, New York.
Namun karena kecenderungan menikah telah alami perubahan dramatis dalam beberapa dasawarsa terakhir, maka makin banyak orang melajang hingga usia tua.

Peningkatan

Untuk menganalisa tren ini, Liu dan koleganya Debra Umberson, mempelajari ulang lebih dari satu juta data pernikahan selama 32 tahun terakhir. Data tersebut terdiri atas mereka yang berusia 25-80 tahun. Ditemukan bahwa status kesehatan mereka yang lajang terus mengalami peningkatan. Tapi status kesehatan perempuan yang menikah juga meningkat. Jadi antara mereka yang lajang dan tidak menikah sama-sama alami perbaikan status kesehatan.

“Alasan utamanya bisa jadi karena para lajang kelamaan juga mendapat dukunngan sosial lebih baik di masa kini daripada masa lalu,” jelas Liu.

Nah, jadi apakah Anda mau menikah atau tidak?

Diterjemahkan secara bebas dari Livescience
Foto:magicmud.com

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.
  • Ahmadin
    "Jelas sekali, bahwa Agama/ spiritual lah yang paling menentukan Bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Bukan penafsiran yang hanya datang dari pemikiran diri kita sendiri. Karena manusia adalah mahluk yang lemah, Yang Maha Menciptakan lah yang paling mengetahui yang terbaik untuk makhluk/ ciptaan-Nya. Saran saya: pelajarilah lebih dalam tentang Ilmu Agama. Mohon ma'af dan terima kasih, wassalam..."
  • Anna Lee
    Saat ini saya sudah menikah dan bahagia. Tetapi saya fine-fine aja bila ada orang yang memilih untuk tetap single. Why not? belum tentu Anda yang telah menikah, hidupnya lebih baik dan lebih bahagia dibandingkan mereka. Saya pernah menjalani hidup single yang cukup lamaaa, sampai-sampai bukan hanya keluarga, lingkungan bahkan boss saya ikut turun tangan menganalisa, ada apa dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan silly and always bugging all the time adalah apakah saya normal? atau why are so choosy?

    Kenapa mereka tidak berpikir bahwa setiap manusia itu unique dan punya kebutuhan sendiri-sendiri. Walaupun ada orang yang ojreng, tapi hati kita nggak klik juga, masa mau dipaksakan? Maaf, saya adalah penganut Married is a point of no return, alias married hanya sekali seumur hidup. Kalaupun itu terjadi pada kehidupan saya, saya akan memilih orang yang terbaik untuk jadi ayah anak-anak saya. Ortu saya bahkan berpesan, Kamu bukan menikah dengan lemari, yang bisa kamu buang begitu kamu tidak suka lagi. Itulah kata-kata yang selalu saya ingat. Semoga tulisan ini mebuka pikiran rekan-rekan untuk tidak menjudge para lajang. Relax aja, biarkan mereka menikmati hidup yang begitu indah ini.
  • diah deasy
    saya lajang tapi bahagia.kalo suatu saa saya menikah ada yang berani menjamin kao saya akan bahagia....
  • gessi
    yang pasti menikah adalah KODRAT manusia dan yang namanya kodrat itu adalah tidak bisa dipungkiri merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga manusia pasti membutuhkannya.., kalopun ada yg memutuskan utk tidak menikah adalah disebabkan oleh faktor eksternal yang menempanya.
    tergantung dari orang itu sendiri apakah dalam hidup dia lebih memegang agama sebagai kunci kehidupannya atau tidak.. semua balik dari dirinya masing2..
    tidak ada yg salah dan benar, yg salah adalah tindakannya itu bisa merugikan / menyakiti orang lain..
    (^_^)
  • Aden Dwi Kurnia
    Menikah atau melajang adalah pilihan individu yang menjalaninya. Tetapi terkadang tekanan sosial untuk individu yang tidak menikah begitu besar, mulai dari pergunjingan, pencelaan dll. Ada satu GAP yang mengakibatkan seseorang untuk hidup melajang, diantaranya adalah kepercayaan.
  • esa
    yang pasti saya lajang yang tetep memilih untuk menikah :D
  • gessi
    hehehehe... :D
    setujuwww mbaakkk...
  • Menurut saya sih menikah atau melajang sih pilihan hidup. Masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri. Yang penting kalau kita sudah mengambil keputusan harus siap dengan resikonya. http://yusisetiawati.blogspot.com/2008/10/hidup...
  • jola
    pilihan menikah atau tidak menikah tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan kesehatan. kedua opsi di atas hanya masalah kebutuhan jasmani seseorang.
    trimakasih buat kesempatannya.
  • Gampang memang, secara teori memang menikah itu sangat baik. Jika menilik ke teks agama, misalnya ke quran dan hadis, banyak sekali bercerita mengenai keutamaan menikah. Namun, fakta sosial berbicara lain. Banyak sekali penghadang, mengapa seseorang bisa jadi tidak pernah menikah. Misalnya, saya pernah mendengar cerita, dalam satu keluarga, ada seorang anak laki-lakinya yang tidak pernah menikah. Dia pergi ke eropa untuk studi. Adapun, ia berpacaran dengan orang bule. Tentu saja, mereka sangat ingin menikah. Si laki-laki minta izin sama ibunya, supaya bisa menikah. Ibunya menolak keras, dan memaksa si anak lakinya itu menikah, bukan hanya dengan orang Indonesia, tapi dengan yang sesuku. Orang diluar sukunya, dianggap ‘bukan orang kita‘. Namun desakan globalisasi lebih kuat, dan tentu si laki itu lebih mencintai si bule, karena banyak faktor. Alhasil mereka hidup diluar nikah. Sekarang, salah siapa ini? Menyalahkan si anak laki, jelas tidak bijak, karena dia sendiri sangat ingin menikah. Namun menyalahkan si Ibu, juga sama-sama tidak bijak, karena memang dia orang yang wawasannya sempit, dan sempitnya wawasan adalah hasil pola pengasuhan dan pendidikan yang memang kurang baik. Jadi, sebenarnya sang ibu dan sang anak adalah korban sistim budaya, yang cenderung mengunggulkan suku tertentu dibanding yang lain.
    Menikah memang sangat baik. Namun harus diingat, bahwa di budaya tertentu, terutama Indonesia, menikah adalah mempersatukan dua keluarga yang berbeda. Jadi sebenarnya, si keluarga juga ikut ‘menikah‘. Proses persiapan mempersatukan ‘dua keluarga jadi satu‘ adalah proses yang ribet. Ada beberapa kasus yang untuk persiapan sampai resepsi saja sampai hampir setahun, setelah buang-buang uang dalam jumlah banyak. Itupun belum tentu. Kalau melihat konsep agama, itu gampang! Tinggal ijab kabul, semua beres. Namun, jangan lupa bahwa tarik menarik dengan budaya masa lampau masih kuat. Mempersatukan dua keluarga menjadi satu, itu adalah proses yang membuat pusing kepala, terutama bagi orang yang sangat sibuk, atau sedang tugas belajar di luar negeri. Sangat merusak konsentrasi. Jadi ndak bisa digeneralisir, bahwa menikah adalah satu-satunya solusi, yang harus segera diadaptasi. Ada kolega orang Jerman, yang sampai sekarang belum menikah juga dengan pacarnya orang Hongaria, karena dia punya kesulitan yang amat sangat berkomunikasi dengan orang tua pacarnya. Si orang tua itu tidak bisa bahasa Inggris ataupun jerman. Bicara dengan mereka, tentu tidak pernah bisa akrab, jika harus menggunakan penerjemah. Ya....daripada terlalu memaksakan diri untuk akrab, karena tidak pernah bisa akrab dengan keluarganya, untuk apa menikah? Memang ekstrim, tapi selalu ada kasus-kasus yang sering dianggap ‘ekstrim‘, namun dibalik itu ada raison d‘etrenya. Bisa baca blog saya di http://johnkecops.blogs.friendster.com/black_ch...
  • Ahmadin
    Jelas sekali bahwa kita memang harus menikah. Lebih aman, beradab, bermoral, ber etika, logis, sehat, sesuai fitrah, manusiawi, investasi, eksistensi, berkesinambungan, dan masih banyak hal lainnya...
    Rugi sekali orang yang ngga mau menikah, rugi besar...!
blog comments powered by Disqus