Beranda > Artikel > Brainiacs: Homoseksual vs Heteroseksual

Brainiacs: Homoseksual vs Heteroseksual

Rabu, 6 Agustus, 2008 oleh Hosea Handoyo

Tidak terasa sudah setahun yang lalu saya menulis di Netsains mengenai homoseksualitas. Kali ini memperingati ‘Gay Pride Amsterdam 2008’ yang berakhir hari Minggu lalu, saya tertarik untuk meng-update kembali topik ini.

Minggu lalu, Arli membahas tentang hubungan rangsangan seksual dan otak kaum gay. Kini. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) journal yang bergengsi baru-baru ini mempublikasikan hasil riset ilmuwan Swedia dari Karolinska Institute, institut Nobel, yang memaparkan bahwa menjadi seorang gay atau lesbian sangat dipengaruhi oleh faktor biologis. Otak seorang laki-laki gay dan perempuan heteroseksual memiliki ukuran yang hampir sama sedangkan perempuan lesbian dan laki-laki heteroseksual memiliki ukuran otak bagian kanan lebih besar.

Pola Pikir

Para ilmuwan tersebut juga mendukung observasi masyarakat umum bahwa terdapat perbedaan pola pikir dan intelegensia dari setiap orientasi seksual. Ini dapat dijelaskan dari bagaimana otak mengatur memori dan perilaku seseorang. Dr. Qazi Rahman dari Queen Mary, University of London malah dengan ekstrim mengemukakan bila seseorang adalah homoseks, dia memang terlahir untuk menjadi homoseks.

Dengan memindai 90 orang heteroseksual dan homoseksual, diperoleh data bahwa amygdala, bagian otak yang mengatur emosi (termasuk respon hormonal) seseorang berbeda-beda. Seorang laki-laki gay memiliki amygdala yang mirip dengan perempuan heteroseksual dan perempuan lesbian memiliki amygdala yang mirip dengan laki-laki ‘straight’ alias heteroseksual. Sayangnya mereka tidak membahas kaum biseksual.

Disarikan dari: http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/7456588.stm

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(1 suara, nilai: 5⁄5)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Hosea Handoyo
Tanggal: Rabu, 6 Agustus, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Hosea Saputro Handoyo (1985) earned his Bachelor of Life Sciences (Hons.) at HAN University of Profesional Education. Currently, he is pre-PhD program at The Sir James Black Centre, Medical Research Council - Protein Phosphorylation Unit, University of Dundee, Scotland, UK. In this lab, he is supervised by Sir Philip Cohen Besides his study/internship, he is active in many organizations related to science and social studies internationally. With big interest in biotechnology, education, and society, he aims to integrate science in society: empowering public awareness to sciences state-of-the-art and enabling scientists to engage with sociaetal aspects. As a scientist, he feels that public needs more scientific education and leaving the superstitious beliefs behind. A case that he observes in Indonesia for example, there people believe that mentally-handicapped children believed to be possessed by demons. However, as a normal citizen, he also feels that many scientists just sit behind their bench and do their experiments in the lab without informing the public. Through effective education and strategic communication, he has faith that this dillemma can be overcome. In spare time, he likes to read books, write articles, listen to music, art, theater, walk on the park, have adrink and philosophical discussion.

Tulisan Terkait:

Banner

5 Komentar untuk “Brainiacs: Homoseksual vs Heteroseksual”

  1. Week end lalu, saya pergi ke Berlin untuk bertemu teman disana. Kami menginap di hotel murah. Disana, ternyata dibagikan majalah kaum gay gratis. Sekarang majalah tersebut masih ada di tangan saya :-). Walau tidak seekspresif di Amsterdam, di Berlin ternyata komunitas gay juga aktif. Aktifitas kaum gay hanya dalam hitungan sekian ratus meter dari hotel, mungkin lebih dekat. Malah…ada gosip kalau walikota Berlin adalah gay. Di Eropa, homoseksualitas adalah fakta yang tidak bisa ditolak.

  2. slam knal tmn2 smua…
    sy mhsiswi psikologi…
    sdg pnelitian skripsi ttg homoseksual…
    klo ada info ttg homoseksual khususnya gay,,
    kabarin saya yah…
    di titacipit [at] yahoo [dot] com

  3. wahai engkau orang yang seharusnya berakal dan berbudi, kembalilah ke jalan yang benar dan jangan lah kau ikuti bisikan setan yang mengacaukan pikiranmu…
    lagian kan cewek juga masih nyam nyam..

  4. buat jack swall,,Boz!kalu lu berada di pihak kami para “penderita”,,lu bakal rasain siksaannya,kita juga sebenarnya pengen,suka sama yang namanya cewek,cuman…gak da rasa aja.mo gmn coba????
    “wahai engkau orang yang seharusnya berakal dan berbudi, kembalilah ke jalan yang benar dan jangan lah kau ikuti bisikan setan yang mengacaukan pikiranmu…”
    beuh…..coba tudingkan hal itu kepada diri lo sendiri. no body’s perfect. Semuanya mari kita kembalikan kepada penilaian Allah SWT..
    ok bro!

    satu lagi buat yang baca,,jangan anggap semua orang yg memiliki “rasa”homoseksualnya “MAU” menyalurkan hal tsb.. ^_^

  5. Dear all,
    saya ingin sedikit menekankan bahwa apapun keyakinan Anda, say selaku penulis hanya ingin memaparkan fakta riset yang ada. Masalah Anda ingin menerimanya atau tidak kembali kepada diri Anda masing-masing. Bila seseorang mengangap seorang homoseksual adalah pendosa, silakan Anda berpendapat demikian tapi saya harap Anda tidak justru mengintimidasi kaum homoseksual. Biarlah Tuhan (bila Anda religious) yang menilainya. Sebagai umat yang beragama, siapakah kita hingga kita bisa menunjuk seseorang berdosa/tidak berada pada jalan yang benar? Seorang homoseksual belum tentu jauh lebih berdosa dibandingkan seorang heteroseksual. Janganlah kita saling menghakimi … Let’s learn together to accept diversity in this world :)

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>