Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 1,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Belajar Open Source, Sebelum Ketinggalan Zaman!

Apa yang orang awam kebanyakan tahu tentang Open Source? Bisa jadi kata tersebut identik dengan Linux dan murah. Ya, memang Open Source saat ini yang paling popular adalah Linux. Beragam pusat pelatihan dan kursus komputer tak lagi melulu didominasi “mata pelajaran” Windows saja, sistem operasi komputer bermaskot penguin tersebut juga mulai marak.

Bisa jadi ini diawali dari razia peranti lunak ilegal yang marak dilakukan sejak ditetapkannya UU Hak Cipta No 19/2002. Bisa jadi juga karena tawaran kata “murah”, sebab pengguna tak dikenai bea lisensi selayaknya sistem operasi bermaskot jendela empat kotak yang sudah popular sebelumnya.

Obrolan

Tapi di kalangan komunitas Teknologi Informasi, kata Linux dan Open Source identik pula dengan “nerd”. Apa pasal? Diakui atau tidak, Open Source masih sistem operasi komputer yang beda dengan pendahulunya. Hanya kalangan tertentu saja yang fasih menggunakan sistem ini. Dan ada kebanggaan jika seseorang bisa menggunakan beberapa sistem operasi sekaligus. Maka jangan heran jika orang awam agak bingung jika ada obrolan seperti , “Sudah coba Ubuntu terbaru belum? GUI-nya mirip Vista,” atau “FreeBSD versi baru sudah dirilis tuh, sudah instal?”, dan seterusnya.

Ketinggalan Zaman?

Jangan salah, kelamaan obrolan macam itu akan makin akrab di telinga kita. Terbukti tren netbook -laptop mungil, praktis tapi murah- lebih mengincar Linux ketimbang Windows. Ya, sesuai moto netbok yang mungil, praktis dan terjangkau, Linux dianggap paling pas dengan peranti canggih ini. Jadi bagi Anda yang belum terbiasa pakai Linux, mulai saja belajar daripada dianggap ketinggalan zaman.

Sepekan lebih kemarin, Netsains merilis polling:

“Apakah open source bisa menjadi solusi kesenjangan digital Indonesia?”
Hasilnya:
* Ya, sebab bebas biaya lisensi dan terjangkau (71%, 12 Votes)
* Tidak, sebab masih susah dioperasikan (24%, 4 Votes)
* Ragu, sebab open source susah komersil (6%, 1 Votes)
* Tidak tahu, sebab saya tak paham apa itu open source (0%, 0 Votes)

Ini menandakan bahwa sebagian besar pengunjung Netsains masih optimis bahwa Open Source adalah solusi dari problem kesenjangan digital. Walau ada yang berpendapat bahwa sistem itu masih susah dioperasikan, namun jumlahnya hanya menempati urutan kedua. Lantas ada juga yang ragu, sebab dianggap susah komersil. Dan syukurlah, tak ada yang tak paham apa itu Open Source.

Tapi jika Anda belum paham juga, tak ada kata terlambat buat belajar. Ya, daripada ketinggalan zaman.

foto:businessweek.com

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.