Bebas Stres, Macet dan Krisis BBM dengan Telecommuting
Bayangkan Anda bekerja cukup dengan piyama atau bahkan pakai kaos oblong dan sarung saja. Rapat bisa memanfaatkan fasilitas konferensi Yahoo Messenger (YM). Diskusi masalah kerja bisa lewat milis. Melobi klien cukup menggunakan Webcam dan speaker.
Itulah kira-kira yang dilakukan seorang Yanuar Rizky, Ketua Umum Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI). Padahal Rizky, begitu sapaan akrabnya, punya kantor baik di organisasi maupun pekerjaannya.
” Sejak 1,5 tahun terakhir saya beruntung sampai juga internet Kabel yang bisa 384Kbps dengan pemakaian tanpa batas seharga Rp. 99 ribu. Ini kira-kira setara dengan sekitar 15 liter bensin. Sejak saya memang sering kerja di rumah, diskusi isu via YM dengan Webcam,” demikian Rizky.
Produktivitas
Pada tahun 2000, jumlah perjalanan di Jabotabek sebanyak 29,2 juta perjalanan/hari. Persentase moda angkutan yang digunakan: bus 52,7%; mobil pribadi 30,8%; sepeda motor 14,2%; dan kereta api 2%. Gejala komuter dari Botabek ke Jakarta sangat bergantung pada fasilitas kereta rel listrik dan jaringan jalan tol (wikipedia.org). Angka ini sudah pasti membengkak di tahun 2008 ini, mengingat makin besar populasi warga kota satelit (Bodetabek) yang berkantor di Jakarta.
Saya yang warga Depok, saat masih bekerja di Jakarta Pusat, harus menempuh perjalanan PP setidaknya 3 jam sehari. Setara dengan 3 jam waktu produktif yang semestinya bisa membereskan banyak pekerjaan. Katakan saja jika saya wartawan, artinya dalam 3 jam waktu terbuang percuma di jalan itu saya bisa setidaknya melakukan wawancara singkat dengan 3-4 narasumber, menulis 3-4 berita.
Itu dari sisi produktivitas. Jika dari sisi finansial, energi BBM yang terbuang, polusi udara yang dihasilkan hingga stres dan energi manusia yang terhambur percuma dalam 3 jam itu, berapa kerugian yang diderita? Katakanlah rata-rata warga Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi setiap hari harus membuang 3 jam perjalanan PP dari rumahnya ke pusat Jakarta, kalikan saja kerugian waktu, energi, ongkos, produktivitas serta tingkat stres yang diderita oleh sekian juta manusia.
Menghemat
Saya sendiri saat ini sangat menikmati bekerja secara remote dengan memanfaatkan Internet. Ke kantor cukup beberapa kali saja dalam sepekan, saat ada hal penting yang membutuhkan kehadiran saya. Sejak bekerja dengan cara ini, saya merasa terbebas dari rasa stres berkepanjanngan akibat terjebak macet pulang dan pergi ke kantor. Karena tidak stres dan harus menghirup udara kotor penuh timbal, maka otak saya bisa lebih produktif. Diskusi tentang pekerjaan cukup melalui YM atau telepon atau email. Komunikasi di era Teknologi Informasi (TI) seperti saat ini bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Inilah yang popular dengan nama telecommuting, yakni dimana para pekerja bebas bekerja dimanapun dan kapanpun ditujang dengan sistem telekomunikasi yang memungkinkan pekerjaan tetap bisa berjalan lancar.
Mahalkah? Jika kita bisa mengatur efisiensinya, tentu tidak. Memang tidak semua orang seberuntung Yanuar Rizky di atas yang bisa menikmati akses internet sepuasnya hanya dengan Rp.99.000. Mereka yang rumahnya belum terjangkau akses RT-RW Net atau layanan Internet murah lain, bisa memanfaatkan Warung Internet (Warnet).
Katakan saat ini tarif rata-rata Warnet adalah Rp.5000/jam. Targetkan saja berapa jam Anda harus online setiap hari untuk menunjang pekerjaan. Katakanlah 5 jam adalah jam produktif Anda dalam sehari, maka Anda hanya butuh Rp.25.000/hari tanpa stres, macet, menghirup udara penuh polusi, lelah, risiko kecopetan dan kecelakaan, risiko kena curanmor dan buang-buang BBM (bagi pemilik kendaraan pribadi), dan tidak banyak waktu terbuang di jalan. Makin menjamur Warnet membuat kompetisi tarif makin tajam dan sejumlah Warnet menyediakan layanan Paket Murah, dimana pengunjung bisa ambil paket langsung 3-5 jam dengan tarif yang jauh lebih ringan. Sebuah Warnet di Depok rata-rata mematok tarif Rp.10.000/3 jam. Bahkan ada yang Rp.10.000/4 jam.
Seorang teman di Bogor setiap hari Senin merasa malas datang ke kantornya di bilangan Velbak, Jakarta Selatan. Ia mangaku cukup nyaman dengan bekerja di Warnet terdekat yang mematok tarif paket Rp.8500/4 jam!
Belum Populer
Memang tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara telecommuting. Pekerjaan seperti jurnalis, sekretaris, penulis, administrator TI, desainer grafis, penulis, editor, desainer interior, desainer pakaian, penelitian, riset, pengelola database, konsultan, sangat memungkinkan bekerja secara telecommuting. Ada kalanya juga kita perlu hadir ke kantor untuk keperluan meeting atau bertemu klien, namun tidak perlu setiap hari bukan? Dan keduanya tetap bisa dilakukan di luar kantor.
Di Indonesia, telecommuting memang belum terlalu populer. Di Amerika Serikat, setidaknya ada 45 juta orang yang melakukan telecommuting pada tahun 2006. Padahal jika melihat kondisi trafik lalu lintas Jabodetabek di atas tadi, telecommuting bisa jadi solusi paling tepat untuk mengatasi macet, polusi, boros BBM dan listrik.
Tidak semua kantor juga bisa menerima kultur bekerja modern macam ini. Apalagi instansi pemerintah yang masih sangat konvensional dengan sistem absensinya. Tapi jika dikaji lebih jauh, faktanya banyak orang hadir ke kantor dengan nilai produktivitas sangat rendah akibat sudah kelelahan terjebak macet di jalan. Bahkan sistem absensi justru membuat karyawan hanya mementingkan “gesek absensi” belaka dibanding produktivitas kerjanya sendiri.
Kendala lain mungkin adalah masalah infrastruktur yang belum merata. Akses Internet misalnya, sementara ini baru marak di Jabodetabek. Namun setidaknya memang wilayah itulah yang paling rawan macet setiap hari bukan? Berminat untuk bekerja tanpa stres, macet dan boros ongkos serta risiko kecopetan? Cobalah telecommuting! Selama Anda bisa menjamin produktivitas kerja tidak surut selama bekerja dari jarak jauh, pasti atasan Anda bisa menerima alasannya. Tapi agaknya susah diterapkan untuk atasan konvensional yang mendewakan sistem absensi.
foto:.c2canalysis.com












Dulu sempat membaca sebuah artikel; di negara lain, kecenderungan gaya bekerja seperti ini meningkat seiring meningkatnya keinginan untuk lebih menikmati hidup dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
kapan ya saya bisa bekerja seperti ini? asyik banget kayaknya. saya sendiri bekerja sebagai editor, tapi harus selalu pulang pergi ke kantor tiap hari. sebenarnya bisa aja sih saya bekerja dengan sistem telecomuting, tapi kebijakan di kantor belum bisa.