Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 4,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Hari Anak Nasional: Berbagi Cita-cita dengan Generasi yang Hilang

Jakarta, Netsains – “Daripada mencuri dan digebukin lalu masuk penjara, lebih baik mengamen saja,” demikian tutur seorang anak lelaki dekil usia 10 tahunan. Filosofi hidupnya itu simpel saja, “Lebih baik ngamen daripada mencuri dan digebuki”. Seolah dia tidak mencuri hanya karena takut digebuki. Bukan karena takut dosa atau takut memiliki masa depan suram selamanya. Logika hidupnya juga sangat bersahaja, lebih baik ngamen saja. Lalu ditanya, kenapa tidak sekolah? “Capek, buang-buang duit. Lebih baik ngamen, capek tapi dapet duit.”

Pendidikan

Filosofi anak pengamen tadi adalah filosofi generasi yang hilang milik Indonesia. Mencari uang adalah segalanya, lebih dari pendidikan yang baik dan masa depan cerah. Jika seorang anak sudah berpikir lebih baik cari uang daripada sekolah, apakah ia punya cita-cita?

Betul, pendidikan formal memang bukan segalanya. Bahkan Andre Wongso yang motivator sukses itu tidak lulus SD. Betul, ijazah bukan segalanya. Sebab Steve Jobs pun tidak lulus S1. Namun melupakan pendidikan dasar dan lebih suka mengamen atau mengemis, atau bahkan berisiko menjadi pelaku kriminil, bukanlah sebuah pemandangan yang indah dipandang dari sebuah negara seperti Indonesia.

Cita-cita

Setiap 23 Juli kita merayakan Hari Anak Nasional. Sudahkah anak-anak kita memiliki cita-cita untuk masa depannya? Orang kerap memberi beasiswa, bantuan sandang dan pangan, namun melupakan satu hal yang paling penting, yaitu membangkitkan cita-cita mereka.

Dengan memiliki cita-cita ingin jadi astronot, dokter, insinyur, guru, politikus, pedagang, penyanyi, jurnalis, penulis, seniman, setiap anak Indonesia tanpa peduli miskin atau kaya, pasti akan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya. Dengan cita-cita itu, mereka tak lagi berfilosofi bahwa mencari uang lebih baik daripada bersekolah. Mengamen atau mengemis lebih bermanfaat daripada di dalam kelas.

Ingin ikut membangkitkan cita-cita anak Indonesia? Cobalah berbagi ide, opini dan pengalaman Anda sebagai pemilik suatu profesi yang membanggakan bagi Anda sendiri. Berbagilah ilmu dan pengalaman Anda di sini. Jika belum mampu menyentuh anak-anak pengemis dan pengamen, cobalah untuk menyentuh anak yang terdekat dengan Anda.

Selamat Hari Anak Nasional!

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.
  • ferry
    HAN yang diperingati tiap tahun memang menjadi salah satu wacana tersendiri bagi bangsa ini.Dibalik hingar bingar perayaan masih terdapat anak - anak yang tidak tersentuh HAN.Mungkin mereka sudah tidak peduli dengan apa itu HAN.Smoga dengan pergantian pemimpin anak - anak Indonesia semakin diperhatikan 'nasibnya'.Ini juga tugas semua warga negara untuk memperhatikan anak - anak di sekitarnya.
  • Musriyah
    Terpenting adalah bukan apa yang akan dicita-citakan tapi bagaimana merasakan proses menggapai cita-cita itu sendiri. tidak mudah melalui itu semua dan perlu pengorbanan yang besar kadang malah seperti pengamen kecil yang banyak berkeliaran di perempatan lampu merah dan pinggir jalan banyak mengesampingkan cita-cita mereka, tidak bersekolah. Ironisnya, bukan saja anak-anak termotivasi menjadi pengamen yang tidak mau bersekolah bahkan banyak anak-anak yang di daerah lebih memilih menikah muda di umur remaja dan banyak putus sekolah.

    Program Wajib Belajar 9 tahun menjadi paradigma baru di dunia pendidikan sebagai tolok ukur pendidikan tingkat rendah di Indonesia. Sudah seharusnya Indonesia dan dunia pendidikan perlu merefleksi diri bahwa Anak-anak Indonesia perlu diberikan kasih sayang, dibina, diarahkan dan diajak melewati setiap proses hidup mereka serta menghargai apa yang mereka miliki.

    keterbatasan pendidikan dari segi pendanaan adalah PR buat kita semua (Pemerintah dan Masyarakat). PR yang memerlukan pembenahan yang panjang di segala bidang khusus dunia pendidikan. Pembenahan harus di mulai dari atas terus turun ke bawah. Bagaimana SDM yang akan mengayomi anak-anak Indonesia menjadi lebih berbudi dan berakal baik. Tugas Berat, itu sudah pasti.

    Kalau bukan kita ...siapa lagi...

    "Selamat Hari Anak Nasional"
  • arga
    uang sekolah mahal
  • chai
    Yang saya rasakan, yang terjadi adalah pendangkalan cita-cita. Tidak banyak informasi yang didapat generasi kita, apa itu cita-cita dan variannya. Kebanyakan dari mereka hanya mengenal cita-cita itu = dokter, pilot, pramugari, tentara.

    saatnya menambah satu Lab di sekolah, Laboratorium cita-cita
  • mameegea
    sayangnya paradigma sebagian orang tua masih berkutat pada kesuksesan adalah banyak uang. makanya tidak sedikit orang tua yang masih takut jika anaknya bercita-cita sebagai seorang pelukis, guru, dan profesi2 lain yang mereka nilai berpenghasilan kecil. padahal kesuksesan seseorang tidak dinilai dengan nominal harta atau uang yang kita dapat, tapi tercapainya cita2 dan keinginan juga merupakan bentuk kesuksesan si anak. betul atau tidak??:)
blog comments powered by Disqus