Saat ini, ketika harga bahan pangan masih belum menentu dan kemampuan beli masyarakat yang masih rendah, pemerintah (kabarnya dengan sangat berat hati) kembali mengurangi subsidi (baca: menaikkan harga) BBM . Kalau dulu pengurangan subsidi BBM dibarengi kampanye hemat energi yang tampaknya lebih memakan energi, mungkin sebaiknya kali ini pemerintah mencoba mulai mengkampayekan hal lain yang bisa benar-benar memotivasi masyarakat untuk menghemat energi.
BERSEPEDA mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk lebih memotivasi masyarakat kita dalam menghemat energi. Kalau dulu gedung-gedung perkantoran diminta untuk membatasi penggunaan lift dan pencahayaan yang berlebihan, mungkin sebaiknya sekarang pemerintah meminta semua perusahaan untuk menyediakan insentif khusus bagi karyawannya yang menggunakan sepeda.
Budaya bersepeda mungkin akan lebih cepat menyebar di masyarakat jika para wakil rakyat dan para pejabat pemerintahan bersedia memberi contoh dan teladan langsung. Tentu sulit untuk melakukannya setiap hari, namun satu atau dua hari bersepeda ke kantor dalam satu minggu, sebagaimana dilakukan oleh komunitas Bike to work Indonesia (http://www.b2w-indonesia.or.id), tentunya masih sangat memungkinkan dan penulis yakin jika para pejabat kita bersedia melakukan hal tersebut, budaya bersepeda bisa lebih cepat menyebar di masyarakat kita.
Kita bisa berlindung dibalik banyak alasan mengapa kita tidak mau atau sangat sulit untuk bisa bersepeda ke tempat kerja, infrastruktur pendukung yang sangat minim, faktor keamanan dalam bersepeda, efisiensi waktu, kesehatan dan alasan-alasan lainnya. Tapi mari kita luangkan waktu sejenak untuk melihat bahwa sebenarnya budaya bersepeda mampu memberikan banyak manfaat, bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita.
Dilihat dari sisi sains dan teknologi, budaya bersepeda bisa memotivasi tumbuh kembangnya berbagai penelitian di bidang teknik. Dalam bukunya yang berjudul Bicycling Science, D.G Wilson, Jim Papadopoulos, dan Frank Rowland Whitt, tiga orang ahli teknik dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) mengemukakan bahwa sepeda adalah alat transportasi tenaga manusia yang paling efisien. Jika kita membandingkan, untuk selang waktu 10 menit, berapa jauh jarak yang ditempuh dengan bersepeda dan berjalan, kemudian kita membandingkan jumlah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kedua aktivitas tersebut, bisa disimpulkan bahwa bersepeda setidaknya 117% lebih efisien dibanding dengan berjalan kaki. Terdapat banyak buku, majalah, serta journal yang membahas berbagai aspek tehnik dan sains dari bersepeda. Jika kita benar-benar bisa membudayakan kegiatan bersepeda, maka secara tidak langsung kita juga akan memotivasi kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi baru dalam bersepeda.
Beberapa pihak berargumentasi bahwa secara tidak langsung sepeda juga menghasilkan polusi. Argumentasi tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa ketika seseorang bersepeda, seseorang membakar kalori yang lebih banyak sehingga akan mengkonsumsi makanan lebih banyak dan dalam setiap proses pembuatan makanan, dari bahan mentah menjadi makanan yang siap dimakan, dibutuhkan sejumlah energi dan juga menghasilkan sejumlah polusi. Dr. David Pimentel, seorang Profesor Ekologi dari Cornell University dalam salah satu papernya mengungkapkan bahwa rata-rata dibutuhkan 28 kilo kalori energi fosil untuk memproduksi 1 kilo kalori makanan (http://www.news.cornell.edu/releases/aug97/livestock.hrs.html). Ken Kifer, penulis dan pencinta sepeda menulis sebuah artikel menarik terkait tentang polusi yang dihasilkan oleh sepeda (http://www.kenkifer.com/bikepages/advocacy/bike_co2.htm). Dalam artikelnya, Ken mengungkapkan bahwa dilihat dari berbagai sudut pandang, termasuk mencoba menghitung penggunaan energi dan polusi yang dihasilkan dari proses pembuatan makanan, sepeda tetap merupakan alat transportasi yang paling ramah lingkungan.
Hampir semua pihak sepakat bahwa bersepeda baik untuk kesehatan, yang hingga saat ini masih banyak dipertanyakan adalah apakah bersepeda di tengah lalu lintas kota dengan tingkat polusi yang relatif tinggi juga tetap baik untuk kesehatan? Bersepeda memacu jantung dan paru-paru kita untuk bekerja lebih optimal, ketika udara yang dihirup kurang sehat, tentu akan berdampak kurang baik terhadap kesehatan. Namun, seperti diungkap dalam salah satu artikel komunitas bersepeda di Australia yang mengutip hasil penelitian yang termuat dalam Health and Promosion Journal of Australia, dampak polusi lalu lintas yang diderita para pengendara sepeda umumnya lebih rendah jika dibanding para pengguna kendaraan bermotor. Salah satu alasannya adalah karena para pengendara sepeda umumnya menghindari jalan-jalan utama yang penuh dengan kendaraan bermotor dan mereka juga jarang terjebak dalam waktu lama di tengah kemacetan lalu lintas. Para pengendara kendaraan bermotor umumnya sulit menghindari kemacetan dan ketika mereka terjebak di kemacetan, mereka berada tepat di belakang kendaraan lain dan terkena efek langsung dari polusi yang dihasilkan.
Dari sudut pandang sosial dan ekonomi, budaya bersepeda bisa mendatangkan beberapa keuntungan. Salah satu contoh nyata adalah ketika penulis masih berdomisili di kota Kaiserslautern, Jerman. Pemerintah kota Kaiserslautern benar-benar berusaha mengoptimalkan budaya bersepeda. Salah satu upaya mereka adalah dengan menyediakan peminjaman sepeda gratis, bahkan dilengkapi dengan bantuan perbaikan dan suku cadang yang juga gratis. Masyarakat yang membutuhkan sepeda tinggal datang ke pusat peminjaman sepeda, menyimpan sejumlah uang jaminan dan mereka bisa langsung mendapat pinjaman sepeda hingga kurun waktu maksimal 6 bulan (setelah itu bisa diperpanjang). Untuk proses pemeliharaan dan perbaikan, pemerintah kota memanfaatkan jasa para siswa sekolah kejuruan dan kaum pengangguran yang ada. Sehingga secara tidak langsung pemerintah kota juga bisa menurunkan tingkat pengangguran dan berbagai dampak negatif lain yang mungkin terjadi dari tingginya tingkat pengangguran. Hal yang sama sebenarnya sangat mungkin bisa kita lakukan di banyak kota di Indonesia, dengan syarat budaya bersepeda telah menyebar luas di masyarakat. Mari kita berimajinasi sejenak, jika masyarakat jakarta, termasuk semua pejabat didalamnya, bersedia untuk bersepeda ria ke tempat kerja mereka maka pasar sepeda dan berbagai industri kecil lainnya yang berhubungan dengan sepeda (misalkan usaha bengkel sepeda) akan lebih bergairah, menciptakan lapangan kerja baru dan berbagai keuntungan lainnya. Hal ini sangatlah mungkin dilakukan, yang kita perlukan saat ini adalah kesadaran dan teladan dari para pemimpin kita, sayangnya kita tidak bisa pungkiri bahwa kedua hal tersebut mungkin hal yang paling sulit untuk kita dapatkan.
Penulis sepenuhnya sadar bahwa budaya bersepeda masih sulit untuk diterapkan di Indonesia dan sangat mungkin menghasilkan beberapa masalah baru. Namun kadang memecah satu permasalahan yang sulit menjadi beberapa permasalahan yang lebih sederhana adalah jauh lebih baik dari sekedar berkeras hati menolak menghadapi masalah yang tidak bisa kita hindari. Kita sadar bahwa kenaikan harga BBM adalah suatu hal yang tidak bisa kita hindari, daripada berkeras hati menolak kenaikan tersebut, mengapa kita tidak coba melatih diri sendiri dan berperan serta dalam mendidik masyarakat dalam menghemat energi. Penulis juga sungguh berharap agar pemerintah bisa lebih kreatif dan adil dalam membantu masyarakat. Jika masyarakat kecil mesti bersusah payah untuk memperoleh BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebaiknya para pejabat dan wakil rakyat kita juga bersedia berusahan memberikan TLB (Teladan Langsung Bersepeda).
Eko Nugroho
Staf pengajar jurusan Statistika Universitas Padjadjaran
International Graduate College Stochastic and Real World Models, Universitas Bielefeld, Jerman.
Kredit foto: Bike 2 Work Indonesia



(1 suara, nilai: 4,00 ⁄ 5)
Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!