Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook

Pengumuman:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Banker to the Poor

Judul : Banker to the poor

Penulis: Muhammad Yunus

Sebuah buku yang sangat mencerahkan, karena memberikan jalan keluar terhadap berbagai problematika ekonomi yang membelit negara ‘dunia ketiga’. Dalam perbankan konvensional yang dikenal pada sistim kapitalis, paradigma pemberian kredit selalu berdasarkan satu kriteria paling penting. Yaitu…Solvabilitas. Ya, Solvabilitas artinya kredit harus diberikan dengan agunan/jaminan, harus dicek sang debitor memiliki modal awal berapa, dicek juga gaji awalnya, de el el. Kriteria solvabilitas ini yang menjegal para kaum dhuafa, untuk meminjam uang dalam rangka bertahan hidup, dan mengembangkan usaha mereka. Tidak mungkin kaum dhuafa meminjam uang di bank, karena mereka tidak punya apa-apa untuk dijamin. Muhammad Yunus mendobrak paradigma ini.

Yunus membuat Grameen Bank, yang secara khusus ia tujukan untuk melayani kaum dhuafa. Dengan modal awal hanya US$ 27, Grameen mulai meminjamkan uang, tanpa agunan sama sekali. Pinjaman tersebut berjangka panjang, dengan bunga yang rendah. Bunga tersebut justru dikembalikan menjadi modal bank, yang boleh dipinjamkan lagi kepada nasabah. Setiap nasabah Grameen merupakan pemegang saham dari bank. Grameen bank memiliki nasabah lebih dari 90% wanita, sehingga komitmen Yunus dkk untuk mengangkat kesetaraan jender patut dipuji. Yunus dkk harus menerobos halangan adat dan agama di Bangladesh, yang cenderung patriaki dan konservatis, dalam rangka menjangkau kaum wanita. Hasilnya, sekarang Grameen bank memiliki 2,5 juta nasabah di Bangladesh. Sudah banyak negara-negara lain yang mengadopsi model perbankan Grameen, antara lain Malaysia, Norwegia, Filipina, dan bahkan Amerika Serikat!. Sekarang bahkan Grameen Bank telah berkongsi dengan perusahaan Norwegia, untuk membangun Grameen Phone.

Perusahaan joint venture ini merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di asia selatan. Berbeda dengan kaum marxis orthodox, Yunus mengaku masih percara dengan pasar. Hanya saja, pasar yang memungkinkan kaum dhuafa untuk entrepreneurship.***

foto: campusi.com

 Tentang Penulis: Arli Aditya Parikesit

Arli Aditya Parikesit Penulis adalah asisten peneliti pada Pusat Kajian Multi Disipliner Bioinformatika, Universitas Leipzig, Jerman. Saat ini menjadi kandidat doktor di institusi yang ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 1 Orang paling keren sudah memberi komentar disini

  • Wisnu Boediono mengatakan:

    mencerahkan sekali arly..tolong dijelaskan gimana nih sistem grameen bank untuk menutupi resiko gagal bayar utang dari nasabahnya…dan dijelaskan lagi sistemnya bagaimana? Suatu opportunity untuk alam Indonesia yg mayoritas dihuni kaum dhuafa

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.