Kinabalu, Malaysia, NETSAINS – Pernah mengkhayal tentang gajah cebol? Tidak usah berkhayal, sebab memang gajah seperti itu sungguhan ada. Dan kini ilmuwan menemukan kembali spesies yang sudah pernah dikira punah itu.
Gajah Borneo berukuran kecil, atau yang sering disebut gajah pygmy, kemungkinan bukanlah gajah asli dari Borneo. Sebuah publikasi terbaru nyatakan bahwa populasi gajah tersebut kemungkinan merupakan ras gajah Jawa terakhir yang secara tidak sengaja berhasil diselamatkan dari kepunahan oleh Sultan Sulu beberapa abad yang lalu, demikian menurut keterangan pers WWF belum lama ini.
Asal-usul gajah pygmy, yang populasinya tersebar dari ujung timur laut hingga ke jantung pulau Borneo tersebut, sejak lama menjadi misteri. Tampilan dan perilaku gajah ini berbeda dengan gajah Asia lainnya dan para ilmuwan mempertanyakan mengapa mereka tidak tersebar ke bagian lain dari pulau Borneo.
Dari Jawa?
Namun laporan yang baru dipublikasikan hari ini mendukung keyakinan masyarakat lokal yang selama ini percaya bahwa gajah-gajah tersebut dibawa ke Borneo beberapa abad yang lalu oleh Sultan Sulu, sekarang adalah Filipina, yang kemudian diterlantarkan di hutan Borneo. Gajah-gajah Sulu tersebut kemudian dianggap berasal dari Jawa. Gajah Jawa mulai punah setelah bangsa Eropa memasuki Asia Tenggara. Gajah di Sulu, yang tak pernah dianggap gajah asli pulau tersebut, diburu sekitar tahun 1800-an.
Pengiriman gajah lewat kapal dari satu tempat ke tempat lain di Asia telah berlangsung sejak beberapa ratus tahun yang lalu, biasanya sebagai hadiah di antara para penguasa,” ujar Shim Phyau Soon, seorang pensiunan rimbawan Malaysia, yang idenya mengenai asal usul gajah sebagian menjadi sumber inspirasi penelitian terbaru ini. ”Sangat menarik anggapan bahwa gajah Borneo yang tinggal di hutan mungkin merupakan sisa terakhir subspesies yang telah punah di tempat asalnya di pulau Jawa, Indonesia, beberapa abad yang lalu.”
Apabila gajah pygmy Borneo memang berasal dari Jawa, yang berjarak lebih dari 1.200 km, bisa dikatakan peristiwa perpindahan satwa ini merupakan translokasi gajah pertama dalam sejarah yang dapat bertahan hingga ke zaman modern seperti sekarang. Temuan ini memberikan catatan dan data penting bagi para ilmuwan sekaligus sebagai hasil eksperimen yang telah berlangsung berabad-abad lamanya.
Tes DNA
Para ilmuwan berhasil memecahkan sebagian misteri itu pada tahun 2003, ketika tes DNA yang dilakukan Columbia University dan WWF menunjukkan kemungkinan bahwa gajah Borneo secara genetika berbeda dari subspesies gajah di Sumatra atau daratan Asia lainnya. Berdasarkan teori baru ini, baik Borneo maupun Jawa, adalah daerah asal yang paling memungkinkan bagi gajah Borneo. Laporan terbaru berjudul ”Origins of the Elephants Elephas Maximus L of Borneo,” yang diterbitkan dalam ”Sarawak Museum Journal” bulan ini menunjukkan bahwa tidak ada bukti arkeologis mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Borneo, dan memperkuat kemungkinan asal-usul satwa besar ini yang berasal dari Jawa.
”Hanya dengan seekor gajah betina subur dan seekor gajah jantan subur, yang dibiarkan tak terganggu di habitat yang cukup baik, secara teori dapat menghasilkan sebuah populasi gajah sebanyak 2.000 ekor selama kurang dari 300 tahun,” kata Junaidi Payne dari WWF, yang juga penulis utama laporan tersebut. ”Kemungkinan hal itu lah yang terjadi di Borneo”, ujarnya.
Diperkirakan terdapat sekitar 1.000 ekor Gajah Borneo di hutan, sebagian besar berada di negara bagian Sabah, Malaysia. WWF telah memasang rantai pelacak gajah menggunakan satelit (elephant satellite collar) pada 11 ekor gajah sejak 2005 untuk mempelajari populasi yang belum pernah diamati sebelumnya. Pelacak satelit tersebut menunjukkan bahwa mereka lebih menyukai habitat hutan dataran rendah yang saat ini semakin banyak ditebang untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit, karet, dan hutan tanaman industri. Kemungkinan asal usulnya yang berasal dari Jawa semakin menjadikan satwa ini sebagai prioritas konservasi.
”Jika mereka memang berasal dari Jawa, kisah menarik ini menjadi pelajaran bagi kita betapa berartinya upaya penyelamatan populasi kecil dari spesies tertentu, yang seringkali dianggap telah punah”, ujar Dr. Christy Williams, koordinator WWF untuk program gajah dan badak Asia. ”Hal itu memberikan keberanian bagi kita untuk mengusulkan tindakan serupa terhadap populasi kecil yang masih tersisa dari badak Sumatra dan Jawa, dengan memindahkan beberapa dari mereka ke habitat yang lebih baik untuk meningkatkan jumlahnya. Upaya tersebut berhasil diterapkan bagi badak putih Afrika Selatan dan badak India”
Referensi: Pers rilis WWF.
Kredit foto: www.wildonesonline.faketrix.com




(2 suara, nilai: 3,50 ⁄ 5)
Sebenarnya ukuran gajahnya sendiri itu seberapa?
penemuan yg sangat menarik.terutama bagi orang jawa,seperty saya,karena penemuan ini bukan sekedar masalah penemuan kembali sebuah spesies..akan tetapi juga mennyangkut sejarah eksistensi manusia jawa. terutama yg berkaitan dg tokoh Gajah Mada yg pernah menakhlukkan nusantara. di kalangan sejarawan jawa sendiri terjadi perdebatan mengenai tokoh ini. apakah ia seorang jawa atau bukan,karena menurut mereka nama depan tokoh ini,yaitu \"gajah\" bukanlah berasal dari terminologi jawa, karena spesies gajah sendiri telah lama punah dari tanah jawa…..Sayang sekali penulis tidak menyertakan gambar dari spesies ini…
wah,,,,keren yah , tapi aku mo usul nih gimana si bisa terispirasikan ituh,,,,hm….enak yauuu
ih lucunya
Mungkin kayaknya dunia hobbit dalam dongeng2 itu memang benar keberadaannya, dalam arti yang sebenarnya, seperti manusia flores yang kerdil juga, apakah ini tandanya bahwa memang ada dunia mahluk2 kerdil ini? Wallahu A’lam.
Artikel ini dan beberapa artikel lainnya kami masukkan ke dalam halaman website artikel universitas bangka belitung.
silahkan cek disini :
http://www.ubb.ac.id/featurelengkap.php
Terimakasih yach … kami tunggu artikel2 bermutu selanjutnya
Wassalam
Hendra Leonar
http://www.ubb.ac.id
janggaaannn punah gaaajjjaaahhh….imuut =0
gajaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh ndut bgt …….. !!!!!!!
tAnya kNapa ?? ?? ?? ?? ??
Alangkah lebih baik jika spesies tersebut dikembalikan ke habitat asal yaitu pulau jawa. Guna melestarikan gajah kerdil di pulau asal.
Masih ada hutan yang bisa menampung gajah tersebut, semisal hutan lindung di Ujung kulon, dll
mendig di luar negeri aja deh lebih aman, klo di indonesia ntar malah di buru soalnya ada beberapa masyarakat kita yg belum memiliki rasa sayang pada hewan, kasian banget hewan2 di indonesai itu banyak yang diburu hanya karena rupiah.
aduuuuuh lucu banget gajahnya….. aku jadi malu…. kan dia mirip q….. sama – sama punya perut buncit.
masa bisa sich,dari jawa ke malaysia??????????? masa’ naik pesawat.^_^.
Saya sedikit berkomentar mengenai gajah borneo. Begini, Borneo itu rimba yang sangat lebat dan dipenuhi sungai-sungai baik besar maupun kecil sehingga tidak memungkinkan ia berpindah begitu saja dari sabah ke tempat lainnya di Kalimantan. Jadi itu alasa mengapa gajah tersebut tidak menyebar ke seluruh kalimantan. Gajah borneo adalah asli gajah Kalimantan janga disangkt pautkan dengan jawa, memangnya hanya Jawa saja yang punya gajah. soal fostur semua gajah mempunyai kemiripan. Saya sangat tidak setuju sedikit-sedikit merujuk ke Jawa mentang-mentang Jawa letaknya ibu kota Indonesia.
Soal nama Gajah Mada perlu diketahui bahwa Gajah Mada itu bukan orang Jawa, ia adalah orang Dayak berasal dari Kalimantan Barat, asal kampungnya yaitu Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.
banyak masyarakat dayak percaya bahwa Gajah Mada adalah orang Dayak, hal itu berkaitan dengan kisah tutur tinular masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Hanya ada sedikit perubahan nama Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada bukan Gajah Mada namun dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada.
Sebutan itu sudah ada sejak lama dan Gajah Mada dianggap salah satu Demung Adat yang ada di wilayah kampung di Kecamatan Toba (saat ini). Gajah Mada dianggap menghilang entah kemana karena pada wilayah tersebut seharunya Demung ada 10 orang karena kampung di wilayah tersebut dulunya ada 10 juga namun salah satu kampung kehilangan Demungnya, nah Demung itulah yang kemungkinan besar adalah Gajah Mada.
Hal itu sangat kuat dan bisa dibuktikan sebab Kerajaan tertua bukan di Jawa tetapi di Kalimantan sehingga unsur Hindu lebih dulu ada di Kalimantan bukan di Jawa, dan alasan ini sangat masuk akal bahwa pengaruh Hindu di Jawa sangat dipengaruhi oleh kerajaan Kutai di Kalimantan dan kemungkinan Gajah Mada adalah orang kuat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah nusantara termasuk Jawa.
alam kisah Patih Gumantar Dayak Kanayatn(Ahe) Kalimantan Barat bahwa Patih Gajah Mada adalah saudaranya Patih Gumantar. Mereka ada 7 bersaudara. (Baca Buku, Mencermati Dayak Kanyatan)
Kembali soal Gajah bahwa Gajah Borneo adalah memang asli Gajah Borneo bukan Gajah Jawa sebab dalam kisah dayak, perkataan Gajah itu sudah ada sejak lama dan itu membuktikan bahwa ada kemungkinan “Gajah” memang pernah hidup dan menyebar di Kalimantan dan kini sudah punah oleh akibat perburuan.
Satu lagi soal nama Gajah Mada bahwa gelar Patih untuk Gajah Mada hanya ada di Kalimantan khususnya Kalbar dan satu-satunya patih di Jawa adalah Gajah Mada itu sendiri. Di Kalbar ada yang namanya Patih Gumantar, Patih Singaria, dan sebagainya.(Tony Kusmiran)
Saya tertarik dengan informasi yang Tony berikan, ini hal baru bagi saya meski mungkin saya perlu lebih diyakinkan karena masih sulit bagi saya menerima bila gajah mada bukan orang jawa, yang menurut logika umur beliau sudah diketahui keberadaanya di tanah jawa sejak remaja dan meniti karir keprajuritannya dari bawah. Hal ini yang memancing penasaran saya apa mungkin beliau merupakan utusan dari Kutai untuk menjajah nusantara, termasuk jawa? Bukankah sangat sulit diterima akal bila penjajahan tersebut tidak dilanjutkan dengan menjadikan dirinya sendiri raja di jawa? bukankah sangat sulit menaklukkan jawa seorang diri, meskipun dengan kapasitas dan kemampuan seperti orang dayak sekalipun? Apabila Kutai (bukan majapahit) yang memiliki kekuasaan sebesar itu, mengapa nama Kutai sudah tidak pernah terdengar lagi? Rupanya pengetahuan saya masih sangat terbatas, mohon kawan2 membantu saya.
memang ciptaan tuhan,siapa yang menyangkal, gajah aja bisa segede kambing.
Dear mbak Merry, apakah punya data sebaran gajah tersebut secara spasial? yang informasinya mencakup di daerah mana saja rang distribution gajah tersebut, jumlah spesiesnya berapa?
tks
Terima kasih bung Wawan.
Begini bung Wawan. Sebagai sebuah kerajaan, Kutai adalah kerajaan tua. Dalam perjalanan waktu kerajaan berdiri tidak serta merta memiliki kemampuan yang sempurna. Kerajaan Kutai berdiri mungkin saja dengan apa adanya. Segala alat tulis pada jaman itu belum ditemukan. Segala bukti sejarah habis hancur termakan keasaman tanah di Kalimantan yang sangat tinggi apalagi banyak situs terbuat dari kayu yang ketahanannya terbatas. Batu saja pecah terkisis air jika dibiarkan bertahun-tahun, jadi sangat wajar situs kerajaan Kutai sulit ditemukan baik dari sisi tulisan dan sebagainya namun begitu ada juga beberapa situs peninggalan yang tersisa dan itulah yang menjadi bukti sejarah.
Mengenai Gajah Mada, perlu saya koreksi bahwa Jaman Kerajaan Kutai tentulah ada tekhnis tersendiri yang dilakonkan oleh Raja Kutai Kudungga dalam menyatukan wilayah.
Pertama-tama yang ia garap adalah wilayah Kalimantan seluruhnya hingga sampai di Kalbar. Dalam pengaruhnya tersebut timbullah kerajaan di Kalbar diantaranya Kapuas, Sandai, Simpang, Tanjungpura dsb.
Kerajaan yang termasuk bertahan adalah kerajaan Tanjungpura. Timbulnya kerajaan-kerajaan tersebut pastilah dipengaruhi oleh adanya kerajaan sebelumnya yakni Kutai, demikian halnya dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Terbentuknya kerajaan di Jawa pun berdasarkan sebaran pengaruh dari Kutai. Hal itu dapat dibuktikan bahwa kerajaan di Jawa terbentuk jauh lebih muda dari kerajan Kutai di Kalimantan, itu membuktikan bahwa inisiatif terbentuknya kerajaan di Jawa berasal dari inspirasinya di Kalimantan. Dengan demikian berarti Kalimantanlah yang banyak mempengaruhi dan menginspirasikan lahirnya kerajaan-kerajaan di Jawa. Jika demikian maka artinya hubungan kekerabatan dan komunikasipun terjalin. Oleh karena terjalinya hubungan antara Kalimantan dan Jawa maka hubungan sosialpun timbul.
Setelah padamnya Kutai namun visi dan misinya tidak pernah mati untuk menyebarkan pengaruhnya ke seluruh nusantara hingga sampailah kepada Gajah Mada.
Nama Gajah Mada kemungkinan besar diinspirasikan oleh binatang bernama Gajah yang hidup di Kalimantan itu yang kemudian ditemukan dan disebut sebagai Borneo Elephant.
Selain itu perkataan “gajah” juga merupakan sebuah ungkapan “kekagetan” dalam bahasa Dayak Kanayatn (Kalbar) apabila terkejut.
Hal ini bisa masuk akal bahwa ketika itu memang banyak sekali gajah berkeliaran di hutan Kalimantan sehingga membuat takut warga (Dayak Kanayatn)untuk berada di tanah sehingga rata-rata orang Dayak di Kalimantan membuat rumah dengan tiang-tiang tinggi (rumah panjang) guna menghindari ancaman binatang buas termasuk “gajah” tadi. Jadi perkataan “gajah” sama artinya dengan “astaga”.
“gajah,gajah,gajah” sama artinya “astaga, astaga, astaga,” kekagetan ini bisa saja terjadi ketika melihat gajah yang sangat banyak menuju ke perkampungan tersebut sehingga istilah tersebut terus digunakan sebagai kenangan terhadap gajah dan menjadi simbol bahasa dalam bahasa Dayak Kanayatn untuk menunjukkan ketakutan warganya terhadap gajah tersebut.
Tentang Gajah Mada adalah yang menjajah Jawa. Hal itu akan saya sebutkan bahwa arti dari pada “menjajah” adalah “menguasai”. Menguasai tidak harus perang, dengan diplomasipun jika dapat menguasai maka sama artinya dengan menjajah. Lihat James Brooke yang disebut sebagai Raja Putih dari Inggris yang menguasai Sarawak pada mulanya ia menguasai dengan cara diplomasi dan akhirnya dia mengangkat dirinya sebagai The White Rajah. Kita tahu bahwa di Inggrris juga ada Rajanya saat itu yang sekarang dikepalai oleh Ratu Elisabeth. Menguasai tempat dengan diplomasi seperti Brooke dan Gajah Mada sah-sah saja.
Gajah Mada menguasai Jawa dengan cara damai, sebab sejak itu memang ada hubungan antara Kalimantan dan Jawa terutama dengan Kerajaan Tanjung Pura yang merupakan hasil penyebaran visi misi kerajaan Kutai. Saat itu kerajaan Tanjung Pura dan Maja Pahit merupakan mitra sejajar. Karena di Jawa ada banyak kerajaan yang sulit ditaklukan oleh Maja Pahit maka ia mencari kekuatan dan orang, siapa yang mampu membantunya menguasai tanah Jawa dibawah kekuasaannya. Dari pertemuan tersebut bertemulah dengan Raja dari Kerajaan Tanjung Pura-Sandai-Simpang. Dari sana dimintalah siapa orang kuat yang dapat membantu Raja Maja Pahit menguasai Jawa. Dari situlah Mada yang dijuliki Gajah karena berperawakan besar dan kekar serta berani dilibatkan dan diikutkan bersama dengan pasukkan Maja Pahit atas ijin dari Raja Tanung Pura.
Gajah adalah julukkan untuk Mada
Patih adalah gelar yang diberikan kepadanya oleh Raja di Kalimantan karena ia memang kuat dan menjadi abdi kerajaan.
Gelar Patih banyak terdapat di Kalbar.
Mengapa saya berani mengatakan hal ini? karena setiap tahun di Kecamatan Toba terutama di kampung asalnya Mada selalu disucikan seperangkat alat berupa senjata tajam yang dibalut dengan kain dan disimpan dalam sebuah kotak peti dari kayu.
Seiap tahun alat tersebut dimandikan sesuai amanat para tetua dahulu yang memegang benda tersebut.
Kebetulan sekali bahwa dikampung tersebut yang menyimpan benda pusaka Gajah Mada itu adalah orang Dayak Tobaq. Dari merekalah cerita 10 kampung demong 9 ini muncul. Sebab mereka dulunya memiliki 10 demong dengan jumlah kampung juga 10. Namun setelah kepergian salah satu demong tersebut maka kampung tersebut kini menyisakan 9 demong saja. Kisah inilah yang meyakini saya bahwa Gajah Mada berasal dari kampung ini. Terbukti ia menitipkan benda pusaka miliknya di kampung asalnya ini dan benda pusaka itupun harus dimandikan setiap tahun.
Mari kita kupas “who is Gajah Mada?”
Menarik bukan???
Di jawa ada banyak penulis dengan penafsiran berbeda mengenai asal-usul Gajah Mada. Bahkan para penulis tersebut pun tidak segan menafsirkan sendiri berdasarkan pola pikir dan analisisnya tentang Gajah Mada termasuk berusaha menyambung-nyambung informasi dari berbagai referensi guna melengkapkan tulisannya menjadi lebih menarik.
Kemenangan di jawa adalah bahwa di Jawa ada banyak penulis dan telah dibukukan sehingga menjadi acuan referensi, namun rasanya kurang lengkap jika soal Gajah Mada tidak dikupas tuntas sebab di Jawa pun dalam karangan buku Negara Kertagama tidak dicantumkan secara eksplisit siapa Gajah Mada dan dari mana asalnya. Mungkin saja ini suatu taktik intelijen yang jitu dari Gajah Mada sendiri tentang keberadaannya pada jamannya dan berlaku pula sampai kini karena sampai saat ini pun kita dibuat sibuk mencari kebenaran siapa Gajah Mada itu sebenarnya.
Semoga diskusi ini tambah menarik.
Berkenaan mengapa Kutai tidak terdengar lagi. Adalah bahwa memang sangat sedikit orang Kalimantan yang senang menulis. Adapun penulis-penulis kebanyakan dari Jawa.
Jika ini merupakan misi politik maka tentulah berbagai kebenaran yang seharusnya diungkap kenyataannya tidak diungkap atau tidak perlu ditulis takut jika ditulis maka kebesaran Kutai akan terlalu sangat mengangumkan dan hal ini berbahaya bagi misi Jawanisasi (maaf). Bukti-bukti tersebut enggan ditimbulkan atau dicari sebab hal itu akan menghapus kemasyuran Maja Pahit saja.
Saya juga heran kenapa penulis di Jawa justeru tidak menuliskan kemasyuran Kutai?
Semua ini kan ada kaitannya dengan sense of politic.
Kami penulis dan pemerhati sejarah Kalimantan tentu tidak tinggal diam, kita juga berusaha mengungkapkan fakta sebenarnya bahwa memang Kutai sebagai sebuah kerajaan pasti memiliki pengaruh, kekuasaan, kemampuan dan tekhnologi pada jamannya sehingga mampu menyebarkan pengaruhnya di tanah Jawa.
Gajah Mada (sebagai orang Dayak) sebenarnya tidak bermaksud menjajah. Dia hanya orang yang diperintah sang Raja di Kalimantan untuk membantu Kerajaan Maja Pahit menguasai Jawa. Pada saat itu memang hadir kerajaan-kerajaan lain di Jawa yang menjadi pesaing Maja Pahit (benar kan?. Karena ketakutan Maja Pahit akan kalah saing maka ia perlu membentuk kekuatan besar dan berkoalisi. Dengan koalisi itulah ia mampu mengalahkan semua kerajaan di Jawa.
Nama Gajah Mada pun sangat tidak (njawani). Nama ini terkesan sangat jauh dari nama-nama yang dimiliki oleh orang kerajaan di Jawa.
Maaf ini hanya tambahan saja, semoga tidak tersinggung dengan diskusi ini.
Itu gajah yang ada diphoto bentuk postur mirip banget gajah afrika bukan seperti gajah asia pada umumnya….
itu photo asli ???
Perlu juga saya jelaskan bahwa di Pulau Sulawesi di masa itu tidak banyak kerajaan besar dan penduduk masa itu belum banyak, sehingga hanya di Makassar dan sekitarnya yang memiliki kerajaan besar. Karenanya dalam masa penaklukannya, Gajah Mada tidak memusingkan kerajaan kecil dengan jumlah penduduk kecil. Kerajaan yang ditaklukkannya hanyalah kerajaan-kerajaan besar yang punya pengaruh.
Begini sodara-sodara. Gajah Mada itu sebenarnya bukan berasal dari Jawa atau Dayak seperti yang disampaikan Toni, tapi dari Minahasa. Minahasa merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Sulawesi Utara saat ini. Kenapa saya katakan begitu, karena saya pernah membaca salah satu buku (lupa judulnya) yang menceritakan tentang keinginan Gajah Mada untuk mewujudkan Sumpah Palapa mempersatukan Nusantara.
Dalam buku itu dituliskan, untuk mewujudkannya sumpahnya, Gajah Mada kembali ke kampung halamannya dan mengajak teman-teman serta penduduk yang bersedia membantunya berperang.
Dalam buku tidak disebutkan kata Minahasa, namun hanya menyebut Gajah Mada kembali ke kampung halamannya di pulau Sulawesi bagian utara di sebuah daerah yang tidak memiliki kerajaan dan penduduknya suka berperang.
Perlu diketahui, di bagian utara pulau Sulawesi sejak dulu hanya daerah Minahasa yang tidak memiliki kerajaan dan masyarakatnya suka berperang mempertahankan dan memperluas wilayah, sedangkan daerah tetangganya seperti Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud memiliki kerajaan dan sudah tentu ada rajanya. Hanya Minahasa saja yang tidak pernah ada kerajaan, apalagi raja.
Kisah selanjutnya, ajakan Gajah Mada tersebut diterima oleh saudara-saudara dan kenalannya. Mereka kemudian berangkat mendampingi Gajah Mada dalam penaklukan daerah-daerah di Indonesia.
Hanya saja dalam buku itu tidak dijelaskan ke mana orang-orang Minahasa itu setelah penaklukan Gajah Mada berakhir, apakah kembali ke daerah asal mereka atau menetap di Pulau Jawa.
Perlu juga saya sampaikan di Pulau Sulawesi tidak pernah tercatat memiliki gajah, jadi kemungkinan nama tersebut didapat oleh Gajah Mada setelah ia menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Orang dengan keberanian seperti Gajah Mada itu banyak terdapat di Minahasa di masa itu, bahkan melebihi Gajah Mada. Hanya saja Gajah Mada nasibnya lebih baik dari teman-temannya yang mengadu nasib di Pulau Jawa.
Kalau benar apa yang disampaikan saudara Toni Gajah Mada berasal dari Dayak, maka timbul pertanyaan dari saya. Kenapa Gajah Mada melakukan penaklukan di Kalimantan, di daerahnya sendiri tapi tidak di Sulawesi bagian utara. Padahal dalam catatan penaklukan Gajah Mada disebutkan sampai ke Filipina, tapi tidak disebutkan penaklukan di Sulawesi bagian utara.
Opini saudara Toni wajar, tapi saya juga perlu menceritakan demikian berdasarkan buku yang saya baca. Perlu juga diketahui buku tersebut bukanlah dikarang oleh orang dari Sulawesi atau diterbitkan di Pulau Sulawesi, tapi diterbitkan di Jakarta.
Perlu juga saya jelaskan bahwa sejarah masa penjajahan Belanda dalam menaklukkan pemimpin-pemimpin kerajaan di Jawa dan Sumatera sering menggunakan orang-orang yang berasal dari Minahasa. Pemimpin kelompok Minahasa yang menyertai Belanda berangkat ke Pulau Jawa dipimpin oleh Mayoor Sigar (Mayoor-nya pake dua OO karena gelar yang diberikan oleh Belanda, selain itu ada juga Mayoor Dotulong). Saya contohkan saat Belanda menangkap Pangeran Diponegoro tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, yang akhirnya dibuang dan ditawan di Benteng Amsterdam Manado (bukan di Dayak) dan pada akhirnya dipindahkan ke Makassar.
Namun penasihat spiritualnya yakni Kyai Mojo dan pengikuti-pengikuti setia pangeran tetap tinggal di Minahasa dan kini makam Kyai Mojo bisa ditemui di Kampung Jawa di Tondano, Minahasa.
Selanjutnya ada Tuanku Imam Bonjol, seorang Paderi dari Sumatera Utara diasingkan pula di Manado (bukan di Dayak) dan meninggal di Lotta (kira-kira 10 km dari Manado), Pineleng, Minahasa.
Dokumen-dokumen tentang orang-orang yang berangkat ke Pulau Jawa dan terlibat pada penangkapan Pangeran Diponegoro itu pun tetap tercatat dalam dokumen resmi Belanda dan sebagian bisa dibaca di perpustakaan-perpustakaan kecil yang ada di Tomohon (salah satu kota kecil di tanah Minahasa). Jelas saja dokumen-dokumen itu tidak ada di Pulau Jawa apalagi di Dayak, karena Belanda merahasiakan hal itu. Tapi kalau Anda mau silakan datang ke Manado untuk memastikan dokumen tersebut ada atau tidak. Dan kisah-kisah keterlibatan orang Minahasa pada penangkapan-penangkapan itu pun telah menyebar di sebagian masyarakat.
Demikian uraian saya tentang asal-usul Gajah Mada yang sudah ngelantur jauh. Hanya saja intinya saya ingin menyampaikan bahwa orang Minahasa ternyata telah menaklukkan Indonesia sejak masa Majapahit dan itu dilakukan bukan dengan kekuatan senjata, namun berdasarkan diplomasi melalui Gajah Mada. Terima kasih.
Gajah pygmy itu kemungkinan berasal dari Afrika, karena di Afrika ada juga manusia pygmy. Atau gajah dari Afrika yang dibawa ke Kalimantan namun karena alam di Kalimantan berbeda dengan Afrika sehingga kehidupan gajah yang ada menjadi kerdil. Maksudnya di Afrika banyak tanah luas yang jarang ditumbuhi pohon sehingga gajah dengan bebas bisa tumbuh dengan ukuran besar. Namun di Kalimantan kala itu, ditumbuhi dengan hutan lebat sehingga gajah tidak memiliki banyak tempat untuk tumbuh menjadi tinggi, akibatnya seperti yang disampaikan Charles Darwin dalam teori evolusi di mana dalam satu species burung ternyata memiliki beraneka bentuk, tergantung dari lingkungan di mana burung itu hidup. Seperti yang ditemukan di Kepulauan Galapagos di mana Darwin menemukan satu jenis burung setelah berpindah ke satu tempat namun telah berubah bentuk, misalnya pada paruhnya menjadi lebih besar karena burung tersebut makan jenis makanan yang berbeda dibanding tempat asalnya.
Demikian juga dengan gajah Afrika yang telah berpindah ke Kalimantan di mana lingkungan tempat tinggalnya telah berbeda dengan di tempat asalnya sehingga bentuk badannya pun menjadi kerdil.
Mahapatih Gajah Mada Adalah Putra Kab.Lamongan Jawa Timur setelah ditemukannya Batu prasasti dan kuburan Ibunda Mahapatih Gaja Mada di Ngimbang Lamongan didaerah kami ini.Sumber jawapos radar bojonegoro atau kontak pemkab kami
mirip aku
Saya tidak setuju dengan Rifa. Mengapa gajah yang seperti itu lebih baik tidak berada di Indonesia? Kalau misalnya ada beberapa orang di Indonesia ingin melihat gajah yang berbentuk kecil,bagaimana? Kan jarang orang di Indonesia melihat gajah berbentuk kecil. Jangan tersinggung ya
Aku emang sudah berkhayal tentang gajah cebol. By the way siapa sih nama ilmuwan yang menemukan kembali spesies yang sudah pernah dikira punahitu?
Podo ngomong opo kabeh to wi?? wis jelas gajah mada kuwi wong jowo kok panggah ngeyel ae…
memank gajah mada itu berasal dri jawa.tpi knp gajah ceebol yg sdh punah s’lama berabad-abad silam msh bsa d t’mukan??????????
lgian cpa ilmuwan yg men tes dna gajah’a???????
apa gx ribet?????????
wow………….im from sarawak….mcm x pecaya lah…..msh wujud lagi gajah ne…dulu saya pun penah gak research ttg gajah…ne….jmpA pulak…..
Untuk Sang Gajah Mada.
Baik bung Gajah Mada, sebenarnya Gajah Mada itu sendiri berasal dari tempat yang tidak jelas karena semua legenda dari berbagai suku mengakuinya jadi bagi saya itu sah-sah saja karena kita semua mempunyai kisah tersendiri tentang dia.
Yang ditanyakan saudara Gajah Mada dari Sulawesi ini adalah kalau memang Gajah Mada berasal dari Kalimantan mengapa dia menjajah wilayahnya sendiri?
Saya malah balik tanya, siap penulis pertama di buku sejarah yang berani menyebut kata “menjajah atau menaklukan”. Kalimat atau kata tersebut telah melukai perasaan kami orang Kalimantan. sebab kata itu sangat politis. Buku-buku sejarah yang diciptakan tersebut diterbitkan pada jaman Orde Baru dengan polesan-polesan bahasa si penulis itu sendiri sehingga terciptalah opini bahwa Gajah Mada yang konon orang Jawa katanya telah menguasai nusantara. Masa si Gajah Mada cuman nyebut kalimat “sebelum aku menguasai nusantara aku tidak akan makan buah pala” inikan tidak match. Hanya dengan menyebutkan kata itu lantas Gajah Mada disebut telah menguasai nusantara? bentar dulu teman. Kami orang Kalimantan tentu tidak setuju.
Perkataan Gajah Mada itu jelas dipolitisir dan diplintir para penulis buku jaman itu untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda ini. Karena hanya dengan mempolitisir tersebutlah tujuan politis tercapai.
Penaklukan Gajah Mada baru sebatas keinginan dan belum dilaksanakan. Kalau cuman begitu saya pun bisa bilang seandainya saya hidup di jaman gajah mada dengan mengatakan hal yang sama.
Jadi apa yang dikatakan Gajah Mada dalam buku-buku sejarah menurut saya sangat dipengaruhi keinginan tertentu dan menurut saya itu tidak sah. Yang salah dalam hal ini adalah orang-orang yang berfikir bagaimana menyatukan Indonesia dengan kisah-kisah purba supaya seakan-akan satu sejak asalnya.
Soal Gajah Mada dari Kalimantan, Sulawesi Minahasa ataupun dari Jawa Timur is okelah sebab katanya dia berlayar kesana kemari jadi mungkin sempat singgah di Kalimantan dan dia mengaku diri sebagai orang Dayak, datang di Minahasa dia mengaku sebagai orang Manado dan datang di Jawa Timur, dia mengaku diri sebagai orang Jawa Timur, jadi kesimpulannya adalah Gajah Mada seorang pembohong besar. Kesana-kesini suka mengaku-ngaku diri sebagai orang tempatan, artinya sesugguhnya Gajah Mada adalah seorang yang pengecut karena seperti bunglon, hinggap di daun seperti daun, hinggap di tanah seperti tanah hinggap di kayu seperti kayu. Kenapa saya bisa bilang begitu karena seluruh suku di Indonesia mengklaim bahwa Gajah Mada berasal dari wilayah atau sukunya.
Bagi saya seandainapun Gajah Mada bukan orang Dayak, saya tidak perlu ngotot dan marah sebab memang kita tidak tahu siapa dia sebenarnya, ada atau tidak, atau dia seorang tokoh yang diada-adakan.
Inti dari semua itu adalah bahwa kami orang Kalimantan merasa sangat dilecehkan dari berbagai sisi. Gajah cebol yang jelas-jelas ditemukan di Kalimantan masih juga dikatakan sebagai Gajah Jawa. Lambang negara Burung Garuda yang jelas-jelas buatan Sultan Hamid II dari Kalbar masih disembunyikan kebenarannya oleh pemerintah, maksudnya agar secara perlahan-lahan Lambang Burung Garuda tersebut berpindah kisah dari tangan seorang Melayu-Dayak-Arab ke tangan seorang Jawa.
Kisah tersebut akan berusaha diputar alih agar kebenaran sejarah siapa pencipta lambang negara Burung Garuda dapat dengan mulus dilakukan, makanya sampai detik ini Sultan Hamid II sang pencipta lambang tersebut belum diakui negara. Itu artinya apa? sedikit-sedikit merujuk ke Jawa bukan? Mengapa sih susah mengakui orang lain yang bukan orang Jawa sebagai pencipta lambang negara Indonesia?
Disitulah saya melihat bahwa segala sesuatu berusaha di-jawa-jawakan agar terkesan bahwa semua itu adalah pengaruh Jawa.
Menjawab pertanyaan anda bahwa mengapa Gajah Mada kalau berasal dari kalimantan kok menjajah wilayahnya sendiri. Sekali lagi saya katakan bahwa siapa peusli tersebut yang mengatakan “Menjajah”. Tujuan kata itu apa? tujuannya jelas politis bukan agar kita semua membenarkan apa yang tertulis itu. Penguasaan itu kini telah nyata dimana berbagai sumberdaya alam dikuras habis dan dikeruk semaunya ya karena itu tadi kata “menjajah”. Gajah Mada hanya menyebutkan ia tidak akan makan buah pala kalau belum mempersatukan nusantara kok menjadi pegangan padahal dia hanya ngomong saja kan. Siapa yang tahu dia telah berhasil atau gagal mempersatukan nusantara. Yang saya tahu dia gagal.
Saya secara pribadi tidak mau mengakui dengan gampang soal penguasaan Gajah Mada itu sebab saya juga punya analisis dan referensi sendiri tentang hal itu.
Sekarang jaman kemerdekaan berfikir, sah-sah saja jika saya punya pendapat lain tentng itu.
Intinya kami pun tidak serta merta mengakui Gajah Mada harus orang Dayak. Mungkin juga anda benar Gajah Mada adalah orang Minahasa sebab wajahnya lebih mengarah kepada ras mongoloid, sementara orang Manado tidak berbeda dengan orang Dayak wajahnya yang ber-ras Mongoloid. Tapi terserah kita semualah, siapapun Gajah Mada ternyata dia telah membuat kita pusing 7 keliling. Di Jawa saja tempat yang menjadi sangat dekat dengan Gajah Mada masih belum menemukan titik terang siapa sebenarnya Gajah Mada.
Mohon maaf jika obrolan ini membuat sedikit panas, saya harap kita semua mengerti karena kita masing-masing memiliki kebebasan dalam berfikir dan menuangkan idialisme tersebut. Semoga jangan diambil hati sebab ini hanya pepesan kosong saja, sekedar brain storming aja. Bagi yang serius silahkan ditindaklanjuti namun bagi yang tidak serius anggap saja ini angin lalu.