Beranda > Artikel > Sudah Saatnya Jakarta Pindah

Sudah Saatnya Jakarta Pindah

Selasa, 19 Februari, 2008 oleh Rovicky Putrohari

Hujan mengguyur Jakarta dan sekitarnya tiada henti sejak nyaris sebulan ini. Macet akibat genangan banjir sudah langganan bagi warga ibukota. Sudah saatnya Jakarta harus pindah?

Kalau dipikir, kebutuhan pindahnya Jakarta bukan hanya karena banjir. Juga bukan karena bus way chronicle, bukan sekedar jumlah penduduk. Yang lebih penting lagi adalah pertanyaan dasar seberapa mampu daya dukung Jakarta dalam “melayani” propinsi-propinsi lain dalam hal kepemerintahan dan kenegaraan ?

Daya dukung alam (natural resources support) untuk Jakarta jelas terbatas. Misalnya jumlah air yang dapat disedot, jumlah lahan yang dapat dimanfaatkan untuk taman dan perumahan. Jumlah (panjang dan lebar) jalan raya dan lain-lain.

Sepuluhjuta Tidak Sekedar 10 x Sejuta

Tentu daya dukung alam ini dibatasi oleh luas area daerah, namun bukan sekedar luas daerah saja. Memperbesar kota dan mengembangkan ke samping tidak selalu berarti linear menambah kemampuan daya dukung alamiahnya. Natural resources support itu ada batasnya dalam hal densitas atau kepadatan.

Perlu diperhatikan bahwa pengelolaan sejuta orang dan sepuluh juta orang, bukan sekedar 10 kalinya. Mudahnya begini, ketika pegawai di rumah cuman satu, ya wis diawasi dewe aja. Ketika jumlah pegawai rumah itu lebih dari 10, maka perlu mandor. Ketika jumlah pegawai lebih dari 500 orang, maka perlu banyak supervisor, beberapa manajer, perlu juga ada general manajer bahkan perlu departemen personalia untuk mengurusi pegawai dan juga mengurusi manajer-manajer yang suka rewel juga.

Dengan asumsi bahwa perkembangan Jakarta masih akan berlanjut, maka menurut saya wacana perpindahan pusat pemerintahan masih perlu terus dipikirkan, walaupun tidak harus dipikirkan oleh seluruh manusia bersama-sama dalam waktu yang sama. Dan apapun atau kapanpun keputusan pindahnya, sangat mungkin lebih kepada alasan politis, tetapi pengembangan wacana serta studi ilmiah harus mendasarinya. Bukan sekedar karena banjir.

Peran Rekayasa (Engineering)

Rekayasa merupakan salah satu modal dasar manusia dalam “ngakali” serta meningkatkan kemampuan lahan serta kemampuan alam untuk kehidupannya. Kalau manusia hanya diam saja tidak melakukan olah lahan, maka itu namanya manusia hanya mengeksploitasi alam. Di dalam ilmu geologi moderen saat ini dikenal tiga hal dalam pemanfaatan ilmu bumi ini yaitu :

  • Ekstraksi (meliputi eksplorasi-eksploitasi yaitu pemanfaatan sumberdaya),
  • Konservasi (pemeliharaan lingkungan), dan
  • Mitigasi (mitigasi dari peristiwa bencana-alam).

Ketiga hal diatas harus difikirkan masak-masak sebelum memulai penggunaan lahan. Untuk sebuah kota tentusaja bukan hanya satu alasan saja untuk memindahkannya.

Daya dukung memang dapat dioptimalkan dengan engineering. Di luar angkasa saja manusia sudah mampu membuat stasiun luar angkasa. Bahkan stasiun luar angkasa itu mampu dibuat untuk ditinggali selama beberapa bula. Artinya manusia itu memiliki kemampuan untuk mengembangkan sumberdaya dengan memanfaatkan rekayasa (engineering) sehingga pemanfaatannya lebih optimum.

Pembatasnya tentusaja tetap ada, dan bukan sekedar karena keterbatasan teknologi (engineering), tetapi juga biaya. Yang sulit adalah kalau pembatasnya karena budaya.

Diedit seperlunya dari http://rovicky.wordpress.com

Kredit foto: deltawhiski.wordpress.com/…/

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Rovicky Putrohari
Tanggal: Selasa, 19 Februari, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Just me, an Indonesian geologist. Nothing special. Has been working as an explorationist in oil companies (Hudbay Oil, Lasmo, Kondur PSA, Shell, Total, Murphy Oil, and now with HESS). Now live in Kuala Lumpur, Malaysia. member of : * IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia), * HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) * AAPG (American Assoc of Petroleum geologist), * SEG (Society of Exploration Geophysicists), * IPA (Indonesian Petroleum Association),

Tulisan Terkait:

Banner

3 Komentar untuk “Sudah Saatnya Jakarta Pindah”

  1. ibarat semut,rakyat indonesia selama ini menganggap jakarta sebagai gudang gula.mereka berbondong-bondong datang kejakarta buat cari makan karena di tempat asli mereka gula tidak ada karena semua diangkut ke jakarta.
    kenapa sih gula tersebut tidak dibagi aja kedaerah, supaya jakarta tidak penuh sesak oleh semut-semut yang kelaparan dan akhirnya makan teman sendiri?
    BUAT MEMPERBAIKI SEBUAH GELAS YANG HAMPIR RUSAK KARENA KELEBIHAN AIR, TENTUNYA HARUS MINDAHIN SEBAGIAN ISINYA KE GELAS LAIN YANG LEBIH KECIL.BILA TIDAK, AKAN BANYAK AIR YANG TERBUANG SIA2.MASALAHNYA,CUKUP KUAT(SIAPKAH)GELAS2 KECIL ITU???

  2. ha ha.. banjir bukan alasan untuk pindahin ibukota. kalau perlu ciptakan pulau seperti desain cantik di palm jumeirah (dubai). penduduk dari manapun boleh datang. tapi dengan fasilitas yang serba futuristik, pasti akan terseleksi sendiri, yang tangguh tetap tinggal di jakarta. mula-mula kotanya didesain untuk kira-kira 300 ratus tahun lagi. bikin bangunan-bangunan baru yang bisa mengambang di atas permukaan air. sumber air bersih diproses dari air laut saja (di arab saudi kan begitu). pengendalian banjir, pelajari sendiri (kan sudah pengalaman). sumber energi, solar (matahari). struktur tanah dengan daya dukung tinggi, di atasnya dibangun super-duper block, dengan bangunan bertingkat di atas 50. yang kurang kuat daya dukungnya, dijadikan taman atau hutan raya. sarana angkutan yang cepat di buat supaya punya akses langsung ke gedung-gedung. sediakan lokasi permukiman untuk golongan menengah ke bawah di suburban. yang menengah ke atas bisa tinggal di apartemen-apartemen di lingkungan super-duper block. ktp tidak digunakan lagi, identitas dicatat melalui retina mata atau sidik jari. pokoknya rancanglah sebuah ‘kota yang cerdas dan futuristik’. soal biaya, mulainya kapan dan bagaimana ? ini bukan hal yang tidak mungkin, serukan ‘yes, we can !!!’

  3. Lebih bagus memang Jakarta digeser ke selatan sedikit. Pemukiman dan gedung-gedung di utara jalan tol pelabuhan dirobohkan dan diganti menjadi hutan bakau dan tempat rekreasi saja. Kali-kali dikeruk dan dibersihkan airnya. Warga jakarta diberi penyuluhan agar sadar bahwa buang sampah di kali adalah penyebab utama banjir.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>