Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Roadshow iBiotech 2008, Mendekatkan Bioteknologi ke Hati Pelajar Indonesia

Krisis pangan atau masalah kesehatan idealnya bisa dicari solusinya dengan sains. Bioteknologi adalah jawabannya. Bioteknologi atau teknologi dari alam sudah menjadi perbincangan hangat di dunia sains selama beberapa dekade terakhir. Lewat bioteknologi, umat manusia mendapatkan berbagai macam manfaat mulai dari penemuan obat baru hingga jeruk tanpa biji. Di Indonesia, bioteknologi belum dikenal baik oleh masyarakat walaupun Indonesia adalah surga sumber daya bioteknologi.Padahal produk bioteknologi tradisional seperti tahu, tempe , dan kecap sudah jadi makanan kita sehari-hari.

Yang Pertama

Demi mempopularkan bioteknologi di kalangan sekolah, Indonesia Biotechnology Students Forum (IBSF) dengan dukungan Genomic Network for Young Scientists (GeNeYouS) Belanda dan Netherlands Education Support Office (NESO) Indonesia , berencana menggelar Road Show Akbar Bioteknologi ‘iBiotech 2008’ untuk pertama kalinya di Indonesia . Pertamakali? “Yup tepat sekali, saat ini iBiotech merupakan roadshow bioteknologi yang pertama kali diadakan di Indonesia ke sekolah-sekolah,” ujar Kalman Wijaya, presiden IBSF kepada Netsains.Com.

Target usia sekolah SMP dan SMA dianggap pa karena SMA dan SMP masih dalan tahp pemilihan dalam karir mereka kedepannya, sehingga nantinya diharapkan semakin banyaknya bioteknologis di Indonesia.

“Respon masyarakat indonesia saat ini terhadap bioteknologi masih pro dan kontra, tapi kami yakin lambat laun respon masyarakat akan semakin positif jika diberikan pengetahuan secara transaparan dan menarik mengenai manfaat bioteknologi,” ujar Kalman yang penikmat musik pop techno dan hobi makan pizza ini.

Kalman setuju sekali jika dikatakan bioteknologi adalah cabang ilmu yang paling pas buat dijadikan fokus pengembangan Iptek di Indonesia. Menurutnya,bioteknologi merupakan cabang ilmu yang luas. “Ilmu bioteknologi mencukupi masalah energi , kesehatan, pangan dan sebagainya,” ujar Kalman.

Kendala

Sayangnya saat ini kendala pengembangannya di Indonesia masih ada saja. padahal bumi Indonesia cukup kaya akan sumber alam yang bisa dijadikan sumber studi dan riset bioteknologi. Justru selama ini ilmuwan asing lah yang banyak mengeksplorasi kekayaan alam tersebut. Kalman berharap pemerintah mengeluarkan undang-undang mengenai riset bioteknologi yang jelas, sehingga investor tidak ragu ragu untuk menanamkan modal di Indonesia. sehingga riset bioteknologi di Indonesia pun dapat berkembang dengan luas.

Roadshow ini didukung pula oleh Kementerian Ristek, HAN University of Applied Sciences Belanda, Agricinal, Innogene Kalbiotech, Sanbe Farma, dan Ganesha Operation serta kerja sama dengan Netsains, Lab School Rawamangun Jakarta, Yayasan Taruna Bakti Bandung, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Acara ini diadaptasi dari BioPop, sebuah program pengenalan sains kepada masyarakat di Eropa yang telah sukses di Bologna , Italia dan Delft , Belanda pada tahun 2005-2006.

Untuk itu, IBSF mengundang Terry Vrijenhoek, MSc., ketua GeNeYouS, peneliti muda, dan juga salah satu steering committee BioPop untuk turut hadir dan sharing dengan kita semua. Terry akan mengenalkan sains yang tidak ‘boring’ bagi kita semua. iBiotech 2008 ini akan menampilkan berbagai eksperimen bioteknologi interaktif dan menarik bagi pelajar kelas 7 hingga 12.

Berminat ingin menengok kegiatan ini? Silakan saja stand by di kota-kota ini.

  • Jakarta 3 Maret 2008 Lab School Rawamangun
  • Bandung 5 Maret 2008 Kompleks Taruna Bakti, Jl. Riau
  • Yogyakarta 7 Maret 2008 Fak. Farmasi Universitas Gadjah Mada
  • Surabaya 10 Maret 2008 Fak. Kedokteran Universitas Airlangga

Kredit foto http://www.ibiotech-online.org/

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 3 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.