Beranda > Artikel > Sampah dan Nasionalisme

Sampah dan Nasionalisme

Kamis, 17 Januari, 2008 oleh Bhayu Adi Prasetya

Isu sampah dijadikan ikon yang menjatuhkan martabat Indonesia di media asing. Betulkah Indonesia jadi identik dengan sampah?

“Satu bukti kuat bahwa Anda berada dalam suatu negara berkembang yaitu sampah yang Anda injak, yang sedikit disebabkan oleh kebiasaan buruk daripada kenyataan bahwa sarana pengangkutan dan pembuangan adalah prioritas yang rendah dan mahal bagi pemerintah yang miskin.”

Begitu kira-kira kalimat pertama artikel pada jaringan situs majalah Time. Artikel itu berisi proyek pengolahan sampah di Denpasar, Bali. Namun, bukan keseluruhan isinya yang membuat saya tersenyum melainkan hanya satu kalimat pembuka tersebut. Bagi saya, kalimatnya cukup menusuk dan menampar.

Ikon Sampah

Ada tiga hal sekaligus yang, entah sengaja atau tidak, ditekankan penulisnya dan membuat saya tersinggung sekaligus malu sebagai rakyat Indonesia. Pertama, sepertinya dalam pikiran penulis, hanya satu kata sebagai ikon sebuah negara berkembang yaitu “sampah”. Kedua, penulis mengkritisi kebiasan buruk masyarakatlah, meski bukan yang utama, penyebab sampah berserakan. Ketiga, penulis menilai pemerintah tak sanggup memberikan sarana pembuangan dan pengolahan sampah yang memadai.

Saya tak ingin melawan pendapat penulis tetapi justru menggali ketiga hal tersebut. Saya tersinggung jika kekhasan Indonesia adalah lingkungan yang penuh sampah. Penulis memang tak mengatakan langsung negara yang dimaksud. Namun, dari isi artikel pun pembaca langsung tahu yang ia tuju siapa. Lagipula, Indonesia juga negara berkembang, kan?

Ketersinggungan saya akhirnya surut setelah menyadari keadaan sesungguhnya. Anda bayangkan para turis yang sebelumnya melihat iklan pariwisata “Visit Indonesia 2008” lalu tiba di negara ini. Kemudian, mereka menyusuri jalan-jalan dan mendapati masyarakat kita seperti merasa nyaman dengan sampah di berbagai tempat umum dan tujuan wisata. Kalau kita sadari, memang benar sampah ada di sekitar kita.

Tertib

Apakah saya salah bila mengatakan mayoritas masyarakat Indonesia, saya juga ikut, tidak tertib membuang sampah? Ah, membuang sampah di sembarang tempat sudah menjadi kebiasaan yang memang benar-benar biasa. Saat ditanya alasannya, kita pasti menjawab tempat sampah yang tersedia kurang atau tak ada di sekitar situ. Jawaban klise yang hanya menunjukkan kemalasan. Sepertinya percuma dari kecil kita diajari membuang sampah pada tempatnya. Kasihan sekali guru-guru Pendidikan Pancasila (PPKn) di sekolah karena yang mereka ajarkan hanya menjadi jawaban rutin saat ulangan.

Bila memang benar-benar tak tersedia tong sampah di tempat-tempat umum, sudah pasti kita menunjuk pemerintah. Kenyataannya, masih banyak tempat belum terdapat tong sampah yang baik dan mengelompokkan jenis sampah. Tidak jarang diberitakan bahwa sampah menggunung di suatu tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, sampah yang terus menumpuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca. Ujung-ujungnya, pemerintah akan mengatakan kurangnya dana menjadi kendala. Begitu miskin kah pemerintah kita, sehingga tak mampu mengadakan sarana pengangkutan, pembuangan, dan pengolahan sampah yang memadai?

Biasanya, meski sudah tersedia tempat sampah di sekitarnya, ada saja yang cuek. Bahkan, tetangga saya pernah membakar sampah-sampah kering di dalam tong sampah depan rumahnya. Tentu saja selain merusak tongnya, ia telah ‘berjasa’ menambah jumlah emisi karbon bumi ini. Lalu, di mana Indonesia yang elok dan indah permai seperti dalam lagu “Rayuan Pulau Kelapa”?

Kalau sudah parah, semua pihak akan saling menyalahkan dan akhirnya lupa pada masalah sesungguhnya. Tidak ada yang berinisiatif, setidaknya dari diri sendiri. Benar, kan? Sampah bukan masalah penting bagi masyarakat kita.

http://www.time.com/time/world/article/0,8599,1701095,00.html

2 Komentar untuk “Sampah dan Nasionalisme”

  1. menurut saya, masalah sampah udah tingkat yg parah bgt di negeri kita, sudah sampai tahap yg membudi daya, buang sampah sembarangan justru biasa dan buang pada tempatnya itu tidak biasa, apalagi sengaja jalan nyari tong sampah buat cm ngebuang sampah seupil… apa kata org? “sok bersih”, “alah buang ajah ketanah, ga da yg ngeliat kok”.
    pemerintah salah tetapi tidak sepenuhnya… walau tong sampah yg di sediakan dibilang tidak mencukupi, sebaliknya berapa org yg menghargai tong sampah yang jumlahnya dibilang dikit itu?, di jalan, adakah 1 tong sampah umum yg terawat?, memang rakyatnya sudah dekil bgt… bukankah lebih baik bercermin daripada berharap ma pemerintah ngelakuin sesuatu?, dari diri kita, nyebar ke anak keluarga kita, ke lingkungan kita, pelan2 akan ada sepetak tempat yg bebas sampah di Indonesia.
    saya pribadi malu sekali kalo buang sampah sembarangan, kadang malah sampah d taro d tas kalo ga nemu tempat sampah, habis itu baru buang kalo nemu tong sampah. seorang yg terpelajar mengerti apa fungsi tong sampah dan tau sampah harus dibuang kemana… bukankah itu pelajaran pas SD? sudah lupa?

  2. yg spesifik dong…

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>