Di zaman serba digital ini, resep obat yang biasa kita kenal bisa dihadirkan dalam bentuk digital juga. Wow, kenapa bisa begitu? Bagaimana caranya? Mari berkenalan dengan steganografi.
Steganografi merupakan suatu seni untuk menyembunyikan pesan di dalam pesan lainnya sedemikian rupa sehingga orang lain tidak menyadari ada sesuatu di dalam pesan tersebut. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani steganos, yang artinya ‘tersembunyi’, dan graphein, ‘menulis’ sehingga kurang lebih artinya “menulis terselubung”.
Penyembunyian atau penyamaran pesan ini dibuat sedemikian rupa sehingga pihak lain tidak mengetahui bahwa ada ‘pesan lain’ dalam pesan yang dikirimkan. Hanya pihak penerima yang sah saja yang dapat mengetahui ‘pesan lain’ tersebut. Dalam steganografi pesannya sendiri tetap dipertahankan hanya dalam penyampaiannya disembunyikan dengan berbagai cara. Pesan dalam steganografi, terlihat seperti pesan biasa sehingga kecil kemungkinan untuk dicurigai.
Teknik-teknik
Teknik penyembunyian pesan ini ada bermacam-macam, dari cara yang kuno pada jaman dahulu hingga yang canggih di abad komputer ini. Penyamaran pesan dapat juga menggunakan media digital seperti video klip, gambar digital, file dokumen dan lain-lain yang difungsikan sebagai penutup pesan. Steganografi komputer digunakan karena banyak format file digital yang dapat dijadikan media untuk menyembunyikan pesan.
Resep merupakan permintaan tertulis kepada apoteker untuk menyiapkan obat tertentu. Meski pasien memegang resep di tangannya, biasanya pasien tidak tahu menahu tentang arti dari resep yang dipegangnya. Hal ini pada mulanya dimaksudkan menjaga perasaan pasien jika mengetahui penyakitnya atau tidak sembarangan mengulang obat ketika mendapati gejala yang serupa karena bisa jadi penyakitnya berbeda. Untuk itu seringkali resep ditulis dengan tulisan yang tidak jelas sehingga kemudian tulisan dokter dikenal sebagai tulisan yang jelek. Selain untuk menyingkat waktu, tulisan serupa itu dimaksudkan menyamarkan pesan dalam resep agar tidak mudah disalahgunakan. Namun cara ini mempunyai kelemahan dan kelebihan.
Resiko
Kini produk obat sudah semakin beragam. Kesamaan nama produk nyaris tak terhindarkan. Resiko bahaya timbul jika obat yang namanya serupa disalahartikan karena tidakjelasnya tulisan dalam resep. Maka kemudian resep lebih sering ditulis dengan tulisan yang lebih jelas. Di satu sisi, ini meminimalisir resiko kekeliruan pembacaan resep namun ini juga berarti informasi dalam resep pun menjadi terbuka terhadap pasien.
Mungkin sudah saatnya merintis bentuk resep digital. Dengan teknik steganografi, sifat rahasia resep dapat dipertahankan sekaligus risiko kekeliruan pembacaan dapat ditekan karena tidak lagi berbentuk tulisan yang tidak jelas. Kerahasiaan dan kejelasan dipenuhi dengan baik dengan teknik steganografi. Selain itu dalam bentuk digital, resep tidak perlu dibakar, dimana ini merupakan ketentuan pada resep bentuk kertas. Ini berarti data pasien akan tersimpan lebih lama.



Sangat menarik usul anda untuk membuat resep digital. Di zaman digital ini penggunaan resep digital sebagai pengganti resep tertulis sangat baik. Mungkin nantinya pasien akan dapat memasukkan resep yang ditulis ke dalam flashdisk atau CD dan membawanya ke sebuah apotik. Namun, dalam penggunaan resep digital, perlu juga untuk menjaga keaslian atau autentifikasi dari suatu resep digital tersebut, karena data digital dapat diduplikasi (seperti halnya pembajakan video CD yang berupa data digital). Oleh karena itu perlu juga untuk diperhatikan keamanannya.
resep digital ini baru sekadar wacana atau sudah dicoba? kalau cara transfernya melalui flashdisk atau CD ya kurang efektif. memangnya berapa banyak pasien kita yang berobat trus bawa2 cd atau flashdisk? resep digital bisa dpakai di rumah sakit yang punya sistem informasi computerized. i
saya sedang berpikir ttg resep digital yang lain, yang aplicable untuk dokter. kalau tertantang kita bisa diskusi.
salam. dr.Aft
Konsep ini baru tahap wacana. Memang faktor itu pula yang jadi perhatian saya, saya berharap dengan memublikasikannya di sini, bisa ada masukan-masukan. Resep digital dalam bentuk lain? Tampaknya menarik, kira-kira seperti apa ya?
Mas, saya juga tertarik nih, apalagi saya mau skripsi nih, ini tema yang cukup menarik. K’lo menurut saya, apakah mungkin jika resepnya bukan dalam bentuk softcopy, tapi dalam bentuk hardcopy, misalnya seperti kartu yang nantinya bisa discan melalui barcodenya di apotek tujuan…
Saya menunggu informasi selanjutnya untuk berdiskusi…
best regards,
DT
Bisa saja terwujud serupa itu. Jadi lebih praktis ya.
wacana ini sangat menarik,
sangat aplikatif.
saya juga tertarik di bidang ini
kebetulan salah satu keahlian saya adalah
di bidang pengolahan sinyal informasi
(salah satunya juga steganografi ini).
mungkin yang jadi masalah adalah
medianya dalam bentuk apa?
apakah gambar digital yang disisipi pesan yang kemudian dikirim?
atau bagaimana?
apakah saudara punya usul?
trimakasih..
tlg balas ke email aja yach
Dear all,
saya sekarang sedang implementasi untuk resep obat digital,
media yang saya pakai untuk menampung resep ini adalah QRCode (barcode 2 dimensi), untuk lebih jelas mengenai QRCode mungkin bisa googling terlebih dahulu. Imlpementasi saya ini telah beberapa kali melakukan pengujian untuk encode dan decode, dan hasilnya so far rata2x di atas 98% akurat. Hanya saja saya masih bingung untuk implementasi yang sesungguhnya di rumah sakit dan apotik. Bila berminat saya sangat terbuka sekali untuk berdiskusi, by imel bisa hubungi saya di irene.suswanti@yahoo.com
regards,
IS