Beranda > Artikel > Memotret dari Ruang Angkasa - Setahun Satelit LAPAN-Tubsat

Memotret dari Ruang Angkasa - Setahun Satelit LAPAN-Tubsat

Rabu, 9 Januari, 2008 oleh Andrianto Handojo

Bagaimana wajah bumi dari ketinggian 630 km? Dengan mata telanjang, dari jarak sejauh itu pegunungan, awan, laut, dan bercak berwarna yang menandakan kota dapat dikenali. Jika ingin yang lebih jelas, dibutuhkan alat bantu seperti teropong, atau kamera dengan lensa yang sesuai.

Pada kamera, ukuran citra yang diperoleh tergantung pada jarak fokus lensa dan jarak obyek. Semakin panjang jarak fokus, semakin besar citranya. Ambil contoh seorang model yang bergaya sejauh 6 meter dari sebuah kamera digital. Seandainya lensa kamera mempunyai jarak fokus 6 milimeter, akan terbentuk citra yang tingginya seperseribu dari tinggi model sebenarnya. Terkesan kecil, tetapi sensor dalam kamera digital adalah CCD (charge coupled device) yang juga berukuran mini. Paling luasnya hanya sekitar 5,3 mm kali 4 mm. Dengan demikian ukuran citra akan proporsional dengan besarnya bingkai (frame). Dan sesudah foto dicetak, muncullah gambar keren sang model.

Detail

Namun acapkali tidak cukup bahwa foto itu jadi dan orang yang dipotret betul ada di situ. Dituntut pula agar foto terlihat tajam, segenap detail tampak jelas. Detail itu misalnya garis-garis rambut, atau kalau perlu setiap jerawat pada wajah. Maka kita berbicara tentang resolusi, yaitu bintik terkecil pada obyek yang dapat direkam dan ditampilkan kembali. Di samping oleh ukuran piksel pada CCD, resolusi ditentukan lagi-lagi oleh jarak fokus lensa. Makin panjang jarak fokus, resolusi akan semakin tajam.

Satelit

Resolusi berperan penting dalam memotret bumi dari ruang angkasa. Soalnya orang ingin mengabadikan obyek-obyek yang relatif mungil, sampai yang seukuran rumahpun harus tampak jelas, kalau bisa yang lebih kecil lagi. Di pihak lain ukuran citra harus memadai. Karena itu diperlukan jarak fokus yang amat panjang. Lensanya tidak bisa diambilkan dari kamera saku kita, paling tidak harus dari kelas mirip kanon, seperti yang dipakai para pemotret di pinggir lapangan sepak bola pada saat pertandingan besar.

Kamera dan lensa itu nantinya dimuat dalam satelit yang akan mengorbit bumi. Besarnya tabung lensa akibat jarak fokus yang panjang harus diperhatikan, karena dimensi satelit harus kompak. Pada LAPAN-TUBSAT, kamera utama berjarak fokus tidak kurang dari 1 meter. Sangat panjang. Namun di situ terpasang cermin untuk membalikkan arah cahaya, sehingga karena cahaya dipantulkan bolak balik, jarak fokus 1 m dapat dikemas menjadi ukuran yang ringkas. LAPAN-TUBSAT merupakan satelit yang beredar pada ketinggian 630 km di atas permukaan bumi, hasil kerjasama antara LAPAN dan TUB (Technische Universitaet Berlin).

Dengan kamera utamanya, resolusi atau benda terkecil yang diliput pada permukaan bumi berukuran sekitar 6 meter, kira-kira sebesar truk. Untuk menjamin mulusnya suatu misi pemotretan, kamera harus selalu menghadap bumi. Tetapi tidak ada udara di atas sana, sehingga gerakan-gerakan layaknya pesawat terbang tidak bisa dilakukan. Karena itu untuk mengatur kedudukan satelit digunakan tiga roda pemberat yang diputar, disebut reaction wheels.

Sejak memasuki orbitnya dengan bantuan roket India pada tanggal 10 Januari 2007, sudah ribuan foto yang dijepret LAPAN-TUBSAT dan dilaporkan ke stasiun bumi. Hasilnya dapat disaksikan pada www.lapantubsat.org. Setiap gambar di situ merupakan penggabungan dari sejumlah besar foto yang dipasang berdampingan.

Komersial

Sebagai catatan, sejauh ini satelit komersial paling unggul yang memotret bumi adalah IKONOS milik Amerika Serikat. Jarak fokusnya tidak kepalang tanggung, 10 meter, sehingga hasil pemotretannya tajam luar biasa. Foto-fotonya pun dimanfaatkan oleh Google Earth untuk disajikan kepada setiap mereka yang membuka website tersebut.

Meskipun demikian dibandingkan IKONOS, bagi saya LAPAN-TUBSAT masih menyimpan keistimewaan, karena setiap bagiannya pernah merasakan tangan-tangan anak negeri kita. Untuk membangun satelit yang tugasnya tidak hanya memotret ini, sebuah tim dari Indonesia telah datang ke Berlin dan bersama ahli setempat dengan cermat merangkai dan menguji reaction wheels, sistem elektronik, sensor bintang, perangkat komunikasi, kamera, dan lain-lain. Seberapa kompleks satelit tersebut, dapat disimpulkan dari deskripsi teknisnya pada www.ilr.tu-berlin.de/RFA/sat/lapan/paper/triharj1.pdf.

Berdasarkan segala kerumitan dalam mewujudkan sebuah satelit, yang kemudian sukses berfungsi jauh tinggi di sana, maka selain hasil dari LAPAN-TUBSAT dapat disaksikan, perlu juga ditambahkan: sangat patut dibanggakan. ***

Kredit foto:www.ilr.tu-berlin.de/RFA/sat/lapan/content.htm

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(2 suara, nilai: 3⁄5)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Andrianto Handojo
Penulis: Andrianto Handojo
Tanggal: Rabu, 9 Januari, 2008
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Andrianto Handojo mengajar pada Program Studi Teknik Fisika ITB sejak tahun 1980 dan mulai tahun 1999 menjadi guru besar dengan bidang keahlian optika. Andrianto Handojo mengajar sebagai guru besar dengan bidang keahlian optika pada Program Studi Teknik Fisika ITB, tetapi secara umum menyukai fisika, gemar membaca dan ingin berbagi keingin-tahuannya lewat tulisan.

Tulisan Terkait:

Banner

5 Komentar untuk “Memotret dari Ruang Angkasa - Setahun Satelit LAPAN-Tubsat”

  1. Pak Andrianto,

    Saya salut dengan hasil kerja LAPAN bareng TUB yang telah berhasil menempatkan LAPAN-TUBSAT di orbit. Pencapain ini sungguh sangat membanggakan.

    Mudah-mudahan - dan saya yakin akan hal itu bahwa kedepannya akan semakin banyak karya karya anak bangsa yang dapat mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

    Merdeka,

  2. LAPAN is the best, i love you LAPAN mg bisa membawa kesejahteraan karyawan khususnya dan masyarakat pada umumnya
    colomadu2002@yahoo.com

  3. Ternyata Indonesia juga bisa….

  4. Lapan,kalau saya perhatikan dlm menjalankan programnya seperti jalan di tempat dan tidak mempunyai tujuan yg jelas arah mana yg akan dicapai,bila saya amati hasil karya yg dibuat lapan setingkat universitas di negara maju ,sungguh ironis memang . coba kita bandingkan dengan negara Iran,korea utara,kita sudah tertinggal padahal negara kita jauh lebih besar baik penduduk & wilayah dari mereka,apalagi dibandingkan dgn China/India kita sangat terbelakang,mereka mempunyai visi & misi yg jelas ,mau ke BULAN,dan membangun indutri ruang angkasa.Suatu prestasi sulit dicapai oleh sedikit negara didunia ini.Teknologi ruang agkasa sangat dibutuhkan oleh negara tercinta ini untuk menyatukan dari sabang sampai meroke yg merupakan benua kepuluan. Semoga kritikan ini menjadikan Lapan lebih berperan di dunia Ruang Angkasa & dan mendapat anggaran yg segnifikan dari pemerintah

    Bangkalan,madura,jawa timur ,Indonesia

    Pemuda bangsa Indonesia

  5. Terima kasih kepada Sdr. Lufti Susanto.
    Sebagai pihak di luar LAPAN, boleh saya tuliskan beberapa catatan untuk memperjelas situasi yang ada. Teknologi antariksa niscaya bukan sekadar memindahkan “teknologi daratan” ke tempat jauh di atas sana. Misalnya di tengah ruang hampa, komponen yang mengandung udara atau cairan berpeluang bocor atau meletus. Tanpa berisi cairanpun peralatan bisa terganggu bahkan rusak oleh terpaan hujan partikel dan radiasi kosmik di luar bumi. Tidak ada udara tempat sayap atau sirip bersandar sehingga pengaturan gerak “terbang” satelit menjadi sangat sulit.
    Sedikit contoh di atas membutuhkan keahlian-keahlian khusus yang perlu dihasilkan oleh sistem pendidikan yang ada. Teknologi antariksa harus ditunjang pula oleh kualitas industri dan sarana pengembangan yang mampu menyediakan material dan komponen dengan spesifikasi istimewa. Pasti perlu disertai perangkat kebijakan dan pendanaan dari pemerintah, karena kegiatan keantariksaan dalam jangka pendek tidak banyak memberikan keuntungan ekonomi.
    Kiranya kurang adil apabila tanggung jawab belum majunya kita di antariksa ditimpakan seluruhnya kepada LAPAN.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>