Beranda > Artikel > Selebriti, Produk Teknologi Tanpa Humaniora?

Selebriti, Produk Teknologi Tanpa Humaniora?

Jumat, 7 Desember, 2007 oleh Yockie Suryo Prayogo

Selebriti, mahluk apakah sebenarnya itu? Kita tidak perlu memaksakan diri hingga mempersulit diri sendiri untuk mencari arti secara filosofis atau apapun maknanya kecuali hanya perlu kita pahami sebagai kelompok orang-orang yang suka berpesta.

Pesta, adakah sesuatu yang salah dengan kegiatan berpesta? Tentu saja tidak semudah itu kita boleh mendiskreditkan arti sebuah kegiatan berpesta. Saya ingin langsung ke topik bahasan yang ingin saya tuju, yakni pesta selebritis itu sendiri.

Satu jam yang lalu saya menyaksikan sebuah siaran teve kabel tentang sebuah program talk show gaya Amerika yang berjudul Oprah Winfrey Show.

Menjadi cukup mengejutkan karena kali ini Oprah beserta warga Amerika pada khususnya sepertinya sedang menyelenggarakan sebuah tema critic introspections’pada diri masyarakatnya sendiri yakni masyarakat Amerika.

Polling masyarakat di sana menunjukkan betapa dalam beberapa tahun ini saja telah terjadi pergeseran nilai perihal kepedulian sosial yang selama ini mereka banggakan sebagai negeri paling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hak azasi .

Perhatian

Nyatanya kini di Amerika lebih banyak orang menonton acara-acara selebriti seperti lebih mempedulikan Anna Nicole seorang model yang meninggal dunia akibat over dosis atau juga Britney Spears yang digundulin rambutnya, dibandingkan dengan perhatian masyarakat Amerika terhadap kepedulian sosial dan kemanusiaan akibat perang Irak yang ternyata semakin hari semakin menuai ketidakjelasan nasib bangsa Irak itu sendiri.

Juga berbagai kecurigaan demi kecurigaan yang satu persatu muncul di tengah- masyarakat sipil Amerika atas segala kekeliruan tindak-tanduk politik yang dilakukan oleh pemerintahnya sendiri yang selama ini juga berusaha mereka tutup-tutupi. Mereka juga menyebutkan bahwa seyogyanya bangsa Amerika juga mempelajari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama lain seperti Muslim misalnya. Agar toleransi hidup bersama antar umat beragama diseluruh dunia bisa dilakukan lewat cara-cara yang lebih beradab,yakni saling memahami masing-masing wilayah kedaulatan dalam agamanya sendiri-sendiri.Serta bisa menghindari kesalah pahaman yang sebetulnya tidak perlu terjadi.

Oprah dan berbagai pendapat warga Amerika juga meng-kritisi secara tajam perilaku masyarakat Amerika dewasa ini yang semakin meninggalkan nilai-nilai kesucian dalam norma-norma ikatan perkawinan, dimana hal tersebut jelas hukumnya yang wajib di-junjung tinggi sesuai nilai-nilai dalam ajaran agamanya oleh sebuah bangsa yang mengatas-namakan masyarakatnya, dengan sebutan masyarakat yang beradab.

Disebutkan bahwa 51 persen dari warga Amerika saat ini lepas dari aturan lembaga perkawinan yang sah di mata agama dan Tuhan-nya. Hanya 49 persen yang masih mempertahan perkawinan yang sah sesuai aturannya. Belum lagi maraknya kawin dan cerai yang praktis meningkatkan jumlah angka anak-anak yatim piatu korban perceraian kedua orang tua.

Inikah Amerika hari ini ?

Demikian pertanyaan mereka pada dirinya sendiri yang dengan segera diprotes oleh seluruh peserta yang mewakili keberadaan rakyat Amerika disana. Menarik untuk dicermati bagi kita yang berada jauh dibalik benua mereka, yakni di benua Asia dan di negeri kita sendiri negeri Indonesia.

Oprah Winfrey dan warga Amerika sedang berusaha menghentikan dalang mesin perusak peradaban ini yakni hegemoni industri hiburan yang berkembang amat pesat sebab secara kebetulan terfasilitasi oleh temuan-temuan teknologi yang juga amat menakjubkan.

Humaniora

Di mata kita sepertinya mereka baru menyadari bahwa teknologi tanpa humaniora yang berakibat melahirkan berbagai ketegangan barulah mulai mereka sadari dampaknya terhadap masyarakat mereka sendiri. Memang terasa bedanya dengan bangsa-bangsa di Eropa yang terkesan jauh lebih sigap mengantisipasinya, mungkin memang latar belakang budaya sebagai alat tolak ukurnya.
Sementara kit, bangsa Indonesia ini justru semakin menggebu-gebu dengan bangga menepukkan dadanya bila semakin fasih dan lancar menjadi salah satu penggunanya teknologi canggih namun kering makna dan manfaatnya .

Demikian juga dengan budaya kawin cerai lalu kawin lagi lalu cerai lagi justru menjadi sumber berita tontonan yang memiliki value tinggi bagi mendukung perkembangan dunia industri informasi negeri ini sendiri .

Heran!

Bila diibaratkan seekor monyet yang tidak mau sedemikian bodohnya mengikuti perilaku keledai untuk terjerumus kedalam selokan kedua kalinya. Di sini di negeri ini justru kita bangga dengan baju keledai yang dipertahankan sebagai identitas eksistensi diri.

Siapakah gerangan pengelola negara ini dan seperti apakah wajah mereka sebenarnya. Benarkah foto-foto yang terpampang di tembok-tembok dengan bingkai-bingkai megah itu adalah wajah mereka yang asli?

Masihkah kita bangga dengan sebutan selebriti yang sebenarnya nggak paham betul apa maksudnya kecuali hanya sebatas memahaminya sebagai simbol-simbol profesi saja,lalu mengapa tidak dipanggil cukup dengan sebutan ”artis” misalnya. Kurang megahkah dan terasa kurang mewahkah? Sedemikian pentingkah kemegahan dan kemewahan yang cukup diwakili keabsahannya dengan simbol dan istilah?

Nyatanya orang-orang yang mengaku pintar baik didunia politik maupun didunia bisnis industri hiburan kita tak lebih dari barisan orang-orang yang pandir.

Diedit seperlunya dari http://jsop.net
Kredit foto: www.alibaba.com

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Yockie Suryo Prayogo
Tanggal: Jumat, 7 Desember, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Pengamat budaya, pemusik, mantan keyboardis God Bless, blogger renungan kehidupan, terlibat dalam sejumlah proyek musik seperti Kantata Takwa, Swami, dan masih terus berkarya hingga kini.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>