Konstruksi Industri Nasional Berbasis Muatan Lokal
Untuk bersaing dengan negara maju, kita butuh kiat tersendiri pada sektor industri. Tak mungkin kita terus menerus menjadi pengimpor. Muatan lokal adalah salah satu celah dimana kita bisa memberi nilai tambah. Bagaimana caranya?
Berkaca pada sejarah pergaulan bangsa-bangsa, sektor industri selalu memegang peranan penting dalam pembangunan reputasi sebuah bangsa dihadapan bangsa lain. Betapa tidak, sejatinya kegiatan berindustri merupakan kegiatan yang membubuhkan nilai tambah pada suatu atau sejumlah komoditas ekonomi tertentu. Sehingga hasil alam tidak sekedar diperjualbelikan apa adanya akan tetapi terdapat campur tangan manusia (added value) dengan segala potensi intelektual yang dimilikinya untuk mengolah bahan-bahan mentah tersebut lebih lanjut menjadi komoditas yang memiliki nilai manfaat lebih untuk manusia. Kualitas manusia yang terlibat dari aktivitas industri itulah yang memiliki kekuatan untuk memilah mana bangsa yang insan-insan didalamnya mampu melakukannya dan mana yang tidak mampu.
Sebuah bangsa dapat dikelompokan menjadi bangsa maju terukur dari aktivitas industrinya yang -pada umumnya- mapan, sementara bangsa lain dikelompokan menjadi bangsa berkembang terukur dari kemampuan nya dalam melakukan industrialisasi potensi-potensi ekonominya yang pada umumnya masih dalam pencarian jatidiri.
Sejumlah teori tentang langkah-langkah pembangunan industri sudah cukup sering diajukan. Akan tetapi, pemilihan sektor industri seperti apa yang tepat, dan bagaimana industri tersebut dapat berjalan secara sinambung dalam hubungan yang terjaga dan dijaga oleh masyarakat merupakan masalah mendasar lain nya yang seringkali luput dari pembahasan.
Pembangunan Industri
Pembangunan industri harus memiliki orientasi yang jelas, yang tergambar dari capaian nya berupa hasil (output), keluaran (outcome), dan dampak (impact) yaitu keterlibatan masyarakat dalam aktivitas itu, sehingga meningkatkan harkat kehidupannya. Hal ini mengandung arti bahwa, selain capaian-capaian fisik yang kasat (tangible) seperti kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan terdapat juga capaian yang tidak kasat mata (intangible) yang perlu dijadikan ukuran atas keberhasilan pembangunan industri di sebuah negara, hal-hal tersebut misalnya adalah keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap aktivitas industri yang ada.
Boleh jadi sebuah rencana pembangunan industri akan menghasilkan produk-produk yang monumental jika diukur dari penggunaan teknologi yang mutakhir misalnya, akan tetapi tidak memiliki keselarasan dengan pembangunan masyarakat secara sosiologis sebagai pemangku kepentingan utama dari aktivitas berindustri. Pada model pembangunan industri seperti ini kesinambungan industri yang bersangkutan diragukan karena masyarakat tidak menganggap industri yang ada didekatnya sebagai bagian dari kehidupan sosial utamanya. Yang pada gilirannya industri tersebut hanya akan terbangun diatas rasa memiliki, kemauan untuk menjaga, serta tingkat partisipasi masyarakat yang amat rendah.
Sebaliknya, jika proses pembangunan industri dimulai dari pemilihan sektor industri strategis yang cocok dengan budaya masyarakat hingga terjadi pelibatan masyarakat dalam industri tersebut yang menyehatkan, mendidik serta meningkatkan kualitas kehidupannya, dan hasilnyapun dapat dinikmati dalam bentuk kesejahteraan yang bertambah serta pekerjaan yang bermartabat. Maka rasa memiliki dari masyarakat terhadap industri yang bersangkutan akan lebih bermakna.
Pada negeri seluas Indonesia, yang wilayahnya terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan segala keragaman budaya didalamnya, melakukan penyeragaman terhadap pola kebijakan pembangunan industri kepada seluruh daerah hanya akan menambah jarak psikologis antara industri dengan masyarakat, dan industri yang sudah dibangun tidak akan terjamin keberlangsungannya.
Muatan Lokal
Setiap daerah memiliki muatan lokal yang potensial, baik itu berupa potensi alam, potensi pengetahuan sumberdaya manusia yang bersifat lokal-tradisional, potensi sosio-kultural, yang dengannya diperlukan perlakuan yang khusus pula. Sehingga pembangunan industri yang ideal untuk dikembangkan adalah pembangunan industri berbasis muatan lokal .
Adapun untuk membangun industri berbasis muatan lokal dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, mendapatkan data tentang potensi muatan lokal daerah yang dapat diberdayakan untuk pembangunan industri strategis di daerah masing-masing, potret yang utuh ini menjadi syarat mutlak digulirkannya strategi ini, arah kebijakannya tidak lagi satu arah atas-ke-bawah akan tetapi merupakan interaksi yang iteratif antara pemerintah dengan masyarakat itu sendiri. Untuk itu segala perangkat negara yang memungkinkan untuk bekerja mendapatkan data-data seperti ini perlu dikerahkanbaik itu oleh Badan Pusat Statistik maupun oleh Departemen Teknis.
Kedua, merumuskan strategi implementasi berbasis muatan lokal tersebut dengan berdasarkan kepada data yang telah didapatkan dari tahap sebelumnya.
Keempat, merumuskan strategi pemasaran satu atap atas barang dan jasa yang dihasilkan dari industri lokal yang penanganannya dikoordinasikan antara departemen teknis terkait. Kelima, membuat purwarupa dari pembangunan industri berbasis muatan lokal ini pada sejumlah daerah pilihan berikut dengan sistem pemasarannya untuk kemudian diterap-ulangkan di daerah lainnya di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, melalui strategi ini, kita bisa memulai membangkitkan lagi moralitas masyarakat kita yang sudah sangat jatuh dilanda kesulitan yang tak kunjung berhenti. Menjadikan bangsa kita bermartabat dihadapan bangsa-bangsa lainnya. Dengan segala kekayaan yang dimilikinya, baik itu alam, budaya maupun seluruh potensi insani yang tercermin dari cara kita berindustri.













Beri Komentar