Ketika Universitas bagai sebuah Pusat Perbelanjaan
Sebuah analogi menarik pernah dituliskan di sebuah kolom karir di jurnal Science: “Sebuah universitas berbasis penelitian itu bagaikan sebuah pusat perbelanjaan, sedangkan para ilmuwan baru bertindak sebagai penyewa ruang toko.” Dalam analogi ini, universitas bersedia mendukung tahap awalan dalam penelitian yang dilakukan para ilmuwan, dengan syarat bahwa para ilmuwan tersebut dalam waktu singkat dapat menghasilkan keuntungan dan mendukung keberadaan universitas.
Hal inilah yang nantinya akan mungkin terjadi, saat sejumlah perguruan tinggi di Indonesia memberikan status ‘pegawai BHMN’ bagi para penelitinya. Ironisnya, selama menjalani pendidikannya, kebanyakan ilmuwan yang bekerja di universitas hanya ditempa keras mengenai seluk-beluk penelitian tanpa pernah sama sekali menyadari perlunya kemampuan manajerial. Sebetulnya, apa saja kemampuan manajerial yang harus dimiliki?
- Visi yang jelas
Bagaikan menjalankan sebuah bisnis, maka seorang ilmuwan pun perlu memiliki visi yang jelas dalam menggerakkan tim penelitiannya. Untuk itu, hal pertama yang diperlukan adalah menjabarkan tujuan penelitian yang jelas dan nyata. Setelah itu ‘tujuan besar’ dari penelitian itu dapat dibagi-bagi dalam skala yang lebih kecil. Dengan demikian maka penyusunan langkah, serta perancangan anggaran keuangan, dapat dibuat supaya masing-masing ‘tujuan kecil’ dapat diraih sesuai dengan skema waktu dan dana yang disediakan.
- Pencarian sumber daya
Berbekal visi yang baik, maka proposal keuangan yang berkualitas dapat disusun. Tujuan penelitian yang jelas dan realistis akan lebih mudah meyakinkan tim penilai bahwa semuanya dapat dikerjakan dengan baik dan sesuai rencana. Ingat, jumlah dana yang dicantumkan dalam proposal harus dirancang, sedemikian sehingga tidak terlalu rendah (jika ini terjadi, rencana anda akan berantakan) atau terlalu tinggi (hal ini memberikan kesan tidak realistis terhadap perencanaan yang anda buat). Untuk itu, lakukan survey yang akurat untuk mengetahui besar dana yang diperlukan.
- Pengendalian sumber daya
Kemampuan mengendalikan perputaran sumber daya pun tidak kalah pentingnya. Prioritas yang baik harus disusun, sedemikian sehingga dana serta peralatan yang dimiliki dapat digunakan dengan optimal. Jika anda terlalu boros, maka di jangka panjang anda akan harus membatalkan sejumlah rencana penelitian (atau bahkan harus mengurangi anggota peneliti di tim anda). Sebaliknya, anda pun tidak boleh terlalu berhemat, karena itu bisa berarti publikasi yang anda hasilkan pun minim jumlah dan kualitasnya (juga ingat: pada sejumlah proyek penelitian, dana yang tersisa tidak dapat dialihkan ke dalam anggaran tahun berikutnya).
- Inter-personal
Ketika memimpin sebuah tim penelitian, seorang ilmuwan tidak cukup mengandalkan kemampuan penelitiannya, tapi juga harus menggunakan keahlian inter-personal-nya (dalam bahasa Inggris, hal ini umum disebut sebagai ‘people skill’ atau ’soft skill’). Karena bagaimanapun, sebuah tim terdiri dari sejumlah *manusia*, yang memiliki sisi psikologis, di mana setiap anggota tim memerlukan pendekatan yang unik. Pewujudan keahlian jenis ini, misalnya, dapat berupa perhatian yang cukup terhadap anggota tim serta anggota keluarga dan teman dekat mereka.
- Transfer ilmu
Umumnya, sebuah tim penelitian selalu terdiri dari anggota senior maupun junior. Untuk memastikan kelanggengan dari keberhasilan yang diraih tim, transfer pengalaman dan keahlian perlu dilakukan. Ingat, ini tidak hanya berarti bahwa anggota tim yang senior melulu menggurui rekan juniornya, melainkan dapat juga sebaliknya. Sementara para anggota senior dapat membagikan pengalaman dan intuisi yang telah dilatihnya, para anggota junior harus diberi kebebasan mengekspresikan sudut pandangnya yang masih segar. Tugas seorang pemimpin tim adalah memastikan agar atmosfer kerja di lingkungannya kondusif untuk transfer ilmu seperti di atas.
- Fleksibilitas
Semua keahlian di atas baru bisa diperoleh dengan banyak berlatih. Dan tentunya tidak ada satu ‘resep umum’ yang jitu dipakai oleh setiap orang untuk setiap kasus. Paham yang dianut Fabio Capello dalam menyusun strategi tim sepakbola dapat juga diterapkan di sini, “You have to find a way to play according to the players you have in the squad”. Dalam konteks tim penelitian, seorang ilmuwan harus kreatif, fleksibel, dan jeli menyesuaikan strategi yang dipakai sesuai sumber daya (manusia dan barang) yang dimilikinya.
- Manajerial versus Penelitian?
Banyak peneliti berpendapat bahwa menghabiskan waktu untuk menguasai keahlian manajerial tidak banyak menfaatnya, bahkan dapat mengurangi waktu yang bisa dipakai untuk menjalankan penelitian. Pendapat ini tidak lah valid jika peneliti tersebut ingin dapat memimpin sebuah tim yang mampu melakukan penelitian berkualitas dunia. Terlebih lagi, saat status kepegawaian di sejumlah perguruan tinggi Indonesia nanti menjadi sepenuhnya di bawah sistem BHMN, maka pembangunan sebuah tim penelitian tidak lagi jauh berbeda dengan pembangunan sebuah tim bisnis, dan kemampuan manajerial di atas akan menjadi sangat bermanfaat.
Referensi
1. Science Careers (9 Nov 2007): ‘Managing Scientist’
2. Science Careers (9 Nov 2007): ‘Toward a Philosophy of Resource Management’














Beri Komentar