Beranda > Artikel > Ketika Saintis Berevolusi Menjadi Nazi

Ketika Saintis Berevolusi Menjadi Nazi

Senin, 31 Desember, 2007 oleh Hosea Handoyo

Pertama-tama sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, beberapa hal perlu diklarifikasi:

  • Penulis tidak mempromosikan suatu agama atau kepercayaan tertentu, tetapi lebih melakukan refleksi pada masyarakat di sekitar penulis yang sarat akan ke-Kristen-an; ke-Kristen-an menjadi tokoh antagonis utama dalam topik ini.
  • Latar belakang permasalahanyang dipaparkan berada dalam ruang lingkup Eropa dan Amerika Serikat, mungkin ada beberapa posisi atau perspektif yang tidak sesuai dengan kondisi Asia, khususnya Indonesia.

Saat dunia sedang panas-panasnya dengan kaum ekstrimis agama dan politik, dunia sains memiliki ‘perang’ tersendiri yang cukup panas dalam 10 tahun kebelakang. Natal 2007 menjadi sebuah momen yang unik di Eropa, khususnya di Dundee, Skotlandia. Annual Christmas Lecture 2007 dari University of Dundee dan Dundee City Council bertajuk, “Why Evolutionism is Right and Creationism is Wrong” (Mengapa Evolusionisme Benar dan Penciptaan Salah) dari Steve Jones, pakar genetika terkemuka Inggris.

Beberapa kalangan masyarakat dan gereja berkeberatan dengan topik tersebut mengingat momen Natal dengan topik yang anti-agama. Tak pelak lagi, Steve Jones berargumen bahwa evolusi yang dipaparkan Darwin sudah menjelaskan eksistensi manusia di muka bumi jadi manusia tidak perlu lagi mencari-cari ‘kambing hitam’ atas pertanyaan eksistensi manusia. Steve Jones bersikukuh bahwa ‘tuhan’ tidak diperlukan dalam hidup manusia. Umat manusia sudah sepatutnya atheists di tengah perkembangan teknologi dan sains yang sangat maju.

Richard Dawkins, profesor Public Understanding of Science Oxford University, telah galak mengkampanyekan ide-ide atheisme berdasarkan evolusi sejak 1976 melalui bukunya yang berjudul “The Selfish Gene” (Gen Egois) hingga terakhir dalam “God Delusion” (Buaian Tuhan) di tahun 2006. Ia memiliki logika:

  • Manusia percaya pada Tuhan karena tidak dapat menjelaskan keberadaan mereka di bumi yangakhirnya dijelaskan oleh penciptaan bumi dalam 6 hari pada Kitab Kejadian (Alkitab)
  • Evolusi Darwin sudah menjelaskan proses penciptaan dan keberadaaan Manusia

Kesimpulannya: manusia tidak perlu lagi percaya akan Tuhan.

Dawkins menambahkan bahwa sains sudah mampu menjelaskan banyak pertanyaan yang 2000 tahun lalu tidak terjawab seperti anak pengidap epilepsi dan bukanlah kerasukan setan. Percaya pada Tuhan tidaklah berbeda dengan percaya dengan Santa Claus atau dongeng-dongeng mimpi lainnya. Sains dipercaya mampu memberikan jawaban atas semua pertanyaan manusia, mungkin tidak sekarang tapi pasti suatu saat nanti. Argumen ini didukung juga oleh Christopher Hitchens dan tokoh-tokoh American Humanists Association.

Teoritis

Di lain pihak, beberapa tokoh seperti Ken Ham, Dr. Dino, dan banyak kaum penginjil di Amerika Serikat bersikukuh pada proses penciptaan 6 hari seperti tafsiran literal Alkitab atau Harun Yahya dari kaum Muslim. Mereka berargumen bahwa evolusi masih bersifat ‘teoritis’ karena hingga saat ini, evolusi masih belum menjawab proses terbentuknya sel dari sup organik secara meyakinkan.

Debat ini tidak behenti sampai di situ, terdapat pula orang-orang seperti CS Lewis, Alister McGrath, dan

Francis Collins yang memiliki argumen bahwa evolusi merupakan suatu bukti ke-mahakuasa-an Tuhan. Alister McGrath, Professor Scientific Theology Universitas Oxford, beragumen bahwa sains tetaplah sebuah ‘alat’ yang terbatas. Menurutnya, justru lewat sains ia mampu melihat kebesaran Tuhan. Francis Collins, project leader Human Genome Project, malah meyakini bahwa evolusi adalah cara Yang Kuasa menciptakan manusia atau lebih popular dengan sebutan Theistic Evolution.

Perbedaan pandangan yang kian meruncing diantara atheistic-scientists and believer-scientists merambat tidak hanya pada debat terbuka tetapi sudah memasuki diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat. Kaum atheistic-scientists diam-diam menghambat para calon mahasiswa sains yang dikategorikan ‘believer’. Bagi mereka, ‘believer’ hanyalah orang-orang yang tidak memiliki intelektual sains. Ironisnya, sains mulai berkembang dengan menunggangi pergerakan Protestanisme sesaat setelah Jaman Kegelapan (Dark Age) di Eropa.

Diskriminasi

Michael Moore boleh memiliki film dokumenter “9/11 Fahrenheit” atau “Sicko”, kini giliran Ben Stein menguak ‘konspirasi kaum biologi intelektual’ dalam “Expelled: No Intelligence Allowed”. Diskriminasi ini malah oleh beberapa pakar sosiologi akan mempengaruhi proses pemberian dana riset dan pada jangka panjang berujung di Asia dimana populasinya jatuh dalam kategori ‘believer’.

Nah bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda, sebagai saintis akan melangkah? Kaum atheistic-scientists mungkin membenci para fundamentalis agama, walaupun kini mereka seolah-olah berusaha menjadi NAZI atau Al-Qaeda secara tidak langsung. Menjadi fundamentalis – yakin bahwa merekalah yang paling benar. Isu yang mungkin belum ‘hot’ di Indonesia ini bisa menjadi satu refleksi tersendiri bagi masyarkat kita yang majemuk. Akhir kata, saya sedikit mengutip Albert Einstein, “Science without religion is blind, religion without science is lame.” (Sains tanpa agama adalah buta, agama tanpa sains adalah membosankan).

Referensi singkat:

1. Ben Stein to battle `anti-religious dogmatism`, Bill Berkowitz, Top Scoops, Scoop Independent News, 11 September 2007.
2. http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1211593,00.html
3. Francis Collins, The Language of God, 2006
4. Alister McGrath, Dawkins Delusion, 2007
5. Richard Dawkins, God Delusion, 2006
6. http://www.expelledthemovie.com/playground.php

Kredit foto: www.artexpression.com/images/HAD/jpgs/2001.jpg

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Hosea Handoyo
Tanggal: Senin, 31 Desember, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Hosea Saputro Handoyo (1985) earned his Bachelor of Life Sciences (Hons.) at HAN University of Profesional Education. Currently, he is pre-PhD program at The Sir James Black Centre, Medical Research Council - Protein Phosphorylation Unit, University of Dundee, Scotland, UK. In this lab, he is supervised by Sir Philip Cohen Besides his study/internship, he is active in many organizations related to science and social studies internationally. With big interest in biotechnology, education, and society, he aims to integrate science in society: empowering public awareness to sciences state-of-the-art and enabling scientists to engage with sociaetal aspects. As a scientist, he feels that public needs more scientific education and leaving the superstitious beliefs behind. A case that he observes in Indonesia for example, there people believe that mentally-handicapped children believed to be possessed by demons. However, as a normal citizen, he also feels that many scientists just sit behind their bench and do their experiments in the lab without informing the public. Through effective education and strategic communication, he has faith that this dillemma can be overcome. In spare time, he likes to read books, write articles, listen to music, art, theater, walk on the park, have adrink and philosophical discussion.

Tulisan Terkait:

Banner

3 Komentar untuk “Ketika Saintis Berevolusi Menjadi Nazi”

  1. Pengertian ateistik?

  2. apakah materi tercipta dengan sendirinya?

  3. ga setuju deh… ga semua scientist jadi nazi kok…banyak yang justru makin dekat sama Tuhan….contohnya ilmu falak kan dari Arab…mereka Islam dan tetap Islam sampe mati… nama2nya lupa…tapi pasti orang banyak sudah tau kok…yang jadi nazi biar aja…urusan mereka ndiri. Saya sebagai orang awam bukan scientist ,pernah liat planet berjajar dengan mata telanjang, merinding…ingat kita ini kecil banget, yang bikin dan atur planet cs kan Maha Hebat!!

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>