Lembang, NETSAINS – Indonesia dan Malaysia boleh saja bersitegang soal asal muasal Rasa Sayange dan reog Ponorogo. Tapi dalam urusan sains dan teknologi, keduanya ternyata penuh canda tawa. Itulah yang terjadi di observatorium Boscha, Lembang, Sabtu (15/12) kemarin. Angkasawan Sheikh Muszaphar menebar senyum ke pengunjung yang terdiri dari anak-anak sekolah sampai Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. Bahkan keduanya saling berseloroh.
“Tahu ngga apa yang menarik dari pekerjaan sebagai astronom? Mereka itu bekerjanya di malam hari. All night long!” demikian seloroh Kusmayanto yang disambut dengan gelak tawa hadirin. Muszaphar yang ternyata berdarah Minang itu juga tak luput dari celetukan Sang Mentri. “You are the most handsome man here maybe. Dengan orang seganteng dia, orang tidak akan takut lagi dengan yang namanya sains,” celetuk Kusmayanto.
Wisma Kerkhoven
Persahabatan Indonesia dan Malaysia di bidang sains dan teknologi coba disimbolkan juga dengan penanaman pohon Kayu Besi yang endemik ranah Melayu. Pohon yang sudah masuk dalam status dilindungi ini hanya bisa dijumpai di semenanjung Peninsula Malaysia, Sumatera dan Kalimantan Indonesia. Spesies yang nyaris punah ini ditanam bersama Muszaphar dan Kusmayanto di halaman Wisma Kerkhoven.
Kedatangan Muszaphar ke Boscha adalah atas undangan Kusmayanto dalam acara peresmian Wisma Kerkhoven sebagai salah satu museum astronomi Indonesia di kawasan observatorium Boscha, Lembang, Jawa Barat. Rudolf A. Kerkhoven adalah putra Belanda yang lahir di perkebunan teh Ardja Sari, Gabung, Bandung Selatan tahun 1879. Pecinta astronomi ini mengumpulkan aneka peralatan astronomi dari Zurich dan memboyongnya ke Dinas meteorologi dan magnetik di Jakarta yang kini menjadi Badan meteorologi dan geofisika (BMG). Jabatan terakhirnya adalah direktur observatorium Boscha.
Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung.
Petugas Pom Bensin?
Di kawasan ini sejumlah kontributor Netsains dari Jakarta dan Bandung terlibat dalam ramah tamah dengan Muszaphar yang sibuk tebar pesona dengan pengunjung. Muszaphar yang lulusan Master bidang Ortopedi itu mengikuti proses seleksi Astronot saat pendaftaran dibuka pada tahun 2003. Lelaki bertubuh tinggi tersebut menyingkirkan 11.425 pendaftar untuk terbang bersama pesawat luar angkasa Rusia Soyuz bersama dua orang astronot asal Amerika dan Rusia.
Postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan cukup menjadi daya jual untuk mengubah paradigma masyarakat Indonesia terhadap sains. Menurut sumber dari Malaysia, Muszaphar kini sangat terkenal bahkan lebih terkenal dibanding selebriti papan atas di Malaysia.
Tapi jangan salah, menurut salah satu kontributor Netsains, busana yang dikenakan Muszaphar tak lebih dari “seragam” petugas pengisi pom bensin. “Hmm, jangan-jangan dia tadi habis jaga pom bensin Petronas dekat-dekat sini ya,” celetuk sumber yang tak ingin disebutkan namanya ini. Muszaphar saat itu memang sangat bangga mengenakan busana werpak biru dengan lambang bendera Malaysia di dadanya. Mencolok sekaligus cukup menarik.
Ingin tahu lebih dalam mengenai si ganteng Sheikh Muszapahar? Tunggu saja hasil wawancara eksklusifnya dengan Netsains dalam waktu dekat ini.
Kredit foto: Emmanuel Sunggieng, kontributor Netsains. Foto2 lain ada di http://netsains.blogspot.com.



Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!