Beranda > Artikel > 3 Tahun Tsunami Aceh: Bagaimana Teknologi Bisa Meramal Bencana

3 Tahun Tsunami Aceh: Bagaimana Teknologi Bisa Meramal Bencana

Sabtu, 22 Desember, 2007 oleh Andrianto Handojo

Seperti yang sudah-sudah, tepat peringatan bencana besar selalu diiringi isu. Tsunami akbar yang meluluhlantakkan Aceh dan Sumatera Utara akhir tahun 2004 silam tak pernah bisa kita lupakan. Masalahnya adalah, bencana alam itu sulit dideteksi oleh kecanggihan teknologi paling hebat sekalipun.

Akan banjirkah hari ini? Untuk menjawabnya, orang memeriksa meteran pada sungai yang sering menebar banjir, misalnya di Jakarta pada pintu air Manggarai. Hatipun lega jika permukaan air pada meteran masih dalam batas aman.

Akan tsunamikah hari ini? Sekarang jawabannya lebih sukar. Sumber tsunami itu adanya di tengah laut. Apakah untuk mengukurnya harus dipasang meteran yang sedalam laut? Bagaimana jika kedalamannya lebih dari ratusan meter?

Instrumen Sakti

Akalpun dicari. Oleh karena tsunami biasanya dipicu oleh gempa bumi yang kuat di laut, kemunculannya dapat diketahui secara tidak langsung dengan perantaraan seismometer (pengukur gempa) yang dipasang di darat. Hasil pengukuran dari beberapa seismometer akan memberikan informasi tentang kekuatan serta lokasi pusat gempa, dan dari situ dapat disimpulkan apakah tsunami terjadi.

Namun orang tetap ingin mendeteksi tsunami di laut. Akurasi dan kecepatan mengetahui memang sangat penting, supaya tersedia cukup waktu bagi penduduk di daerah yang akan diterjang untuk menyelamatkan diri. Kemungkinan mengukurpun ditelusuri, apakah misalnya memakai gelombang radar yang dipantulkan permukaan laut. Dari beberapa alternatif, pilihan jatuh pada pendeteksian tekanan air.

Seperti yang dipahami, pada setiap sentimeter persegi luas, tekanan 1 atmosfir setara dengan kira-kira 10 m tinggi air. Dengan mengukur tekanan yang menindih dasar laut, seluruh kedalaman air dapat diketahui, termasuk menarik kesimpulan berapa banyak permukaannya turun dan naik.

Lewat serangkaian kerja keras riset, akhirnya orang berhasil membuat instrumen yang sakti, mampu membedakan perubahan tekanan sekecil 10-6. Artinya pada laut sedalam 4000 m, perubahan tinggi permukaan laut yang hanya 4 mm sudah bisa dirasakan! Kepekaan yang begitu tajam amat bermanfaat, karena tinggi cikal bakal tsunami mungkin sekadar beberapa cm saja, baru menjelang pantai gelombangnya menjadi sedahsyat sebuah gunung air.

Instrumen tersebut dapat dirakit bersama seismometer untuk membaca kekuatan gempa di dasar laut. Juga pengukur suhu guna mengoreksi pembacaan tekanan, sebab tekanan tergantung pada berat jenis air, yang pada gilirannya dipengaruhi suhu. Tidak lupa baterai atau accu untuk menyediakan daya listrik. Keseluruhan perangkatnya seringkali disebut OBU (ocean bottom unit).

Buoy

Masalahnya kemudian, bagaimana melaporkan hasil pengukuran ke stasiun pengamat. Sebab air laut enggan memberikan kesempatan lewatnya gelombang elektromagnetik, padahal gelombang radio sudah biasa bertugas menyiarkan sinyal di udara.

Maka gelombang akustik pun dikerahkan, mirip dengan gelombang SONAR (SOund NAvigation and Ranging) dari kapal selam. Pemancar akustikpun dipasang pada OBU. Sebagai konsekuensinya, diperlukan unit lain pada permukaan laut guna menerima kabar akustik dari OBU, lalu meneruskannya ke udara sebagai sinyal radio. Tugas ini diemban oleh buoy (unit apung) yang mengambang pada permukaan laut dan menjalin komunikasi dengan stasiun pengamat via satelit.

Sekaligus, unit apung boleh dimanfaatkan sebagai tempat mangkalnya beberapa instrumen. Misalnya untuk mengukur suhu air laut, suhu udara dan kecepatan angin. Yang penting juga, pada buoy terpasang penerima GPS (global positioning system) yang memberikan data eksak derajat lintang dan derajat bujur unit apung, sehingga lokasi OBU dipastikan pula.

Agar buoy tetap dekat mendampingi OBU dan tidak berjalan-jalan diajak oleh ombak, unit apung dijangkar ke dasar laut dengan kabel baja, tali nylon atau rantai. Jadilah buoy dan OBU dua sekawan yang akrab dan bertugas memata-matai ancaman tsunami.

Kembali pada pertanyaan semula, akankah hari ini tsunami beraksi, pada prinsipnya tidak bisa dipastikan, karena gempa bumi tidak pula dapat diramalkan. Yang pasti dan perlu, orang berusaha mendeteksi sedini mungkin munculnya tsunami agar kemungkinan kesedihan dan kerugian dapat ditekan serendah-rendahnya. Sudah cukup terjadi bencana paling nestapa tiga tahun yang silam, pada tanggal 26 Desember 2004. ***

Kredit foto: anwariksono.wordpress.com/…/pilkada-aceh-2006/

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>