Beranda > Artikel > Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan

Senin, 5 Nopember, 2007 oleh Gea OF Parikesit

Anggaran pendidikan sering dituding sebagai penyebab morat-maritnya pendidikan di Indonesia. Betulkah demikian? Apakah dengan uang maka otomatis pendidikan akan membaik?

Beberapa hari lalu, dalam sebuah percakapan di salah satu milis yang saya ikuti, timbul pertanyaan seperti ini, “Apakah mungkin Indonesia memiliki siswa-siswa yang nomor satu cerdasnya?”. Sebuah pertanyaan yang mungkin terasa sederhana, bahkan tidak baru. Tapi sangat kuat mengisyaratkan kepedulian sang penanya akan nasib masa depan Indonesia. Untuk mencari jawabnya, kita perlu lebih dulu melontarkan pertanyaan awalan: negara mana sajakah yang sukses dalam mendidik siswanya, dan apa kiat yang mereka pakai?

Banyak orang berasumsi bahwa kualitas pendidikan dapat diperbaiki dengan uang. Misalnya dengan meningkatkan anggaran pendidikan, seperti yang dilakukan Inggris. Atau bisa juga dengan menyediakan gaji di atas rata-rata untuk profesi guru, dengan maksud agar mendapatkan guru-guru berkualitas, layaknya strategi yang dipakai Amerika. Namun ternyata kedua negara tersebut bukanlah negara-negara dengan prestasi pendidikan tertinggi, setidaknya jika dinilai berdasarkan prestasi murid sekolah dasarnya. Negara-negara terbaik dalam kategori ini adalah Kanada, Finlandia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Lantas, apa persamaan strategi yang dipakai oleh kelima negara tersebut? Ternyata, menurut McKinsey -perusahaan konsultan yang terbiasa dimintai advis oleh perusahaan dan pihak pemerintahan-, resepnya hanya tiga:

  • Pastikan anda mendapatkan guru dengan kualitas terbaik,
  • Ciptakan suasana kondusif agar para guru terpilih tersebut mengeluarkan kemampuan terbaiknya, dan
  • Segera beri bantuan khusus bagi para siswa yang tertinggal, segera begitu mereka membutuhkannya.

Resep di atas begitu sederhananya sehingga banyak pihak dengan skeptis bertanya, “Apakah Inggris dan Amerika tidak pernah menerapkannya sebelumnya?” Ternyata memang tidak.

Berkaitan dengan resep nomor satu, lagi-lagi, ternyata memang uang bukanlah kunci untuk segalanya. Negara Jerman, Spanyol, Swiss menyediakan gaji guru lebih tinggi dari rata-rata, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Sebaliknya, strategi yang dijalankan Singapura dan Finlandia, misalnya, cukup sederhana: jumlah kursi masuk yang tersedia di institusi pelatihan menjadi guru (di Indonesia, dulu disebut IKIP) dibatasi, cukup hanya sebanyak jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia di lapangan. Dengan demikian, saringan masuk menjadi terjaga kualitasnya, para guru yang lulus dari pelatihan tersebut dijamin mendapat pekerjaan, negara tidak perlu menyediakan gaji di atas rata-rata bagi para guru, sementara status profesi guru di masyarakat pun menjadi tinggi.

Sedangkan pada resep nomor dua, negara Jepang memiliki strategi cukup unik: mereka menyediakan forum antar guru, sehingga mereka dapat bertukar informasi, baik keberhasilan dalam menerapkan tips tertentu dalam mengajar maupun kesulitan praktis yang dihadapi di lapangan. Ini berbeda dengan di Amerika, misalnya, di mana kesuksesan seorang guru yang inovatif tidak menular ke guru-guru lainnya, karena memang tidak ada wadah yang kondusif untuk itu.

Resep yang ketiga diimplementasikan oleh Singapura, misalnya, dengan cara menyediakan kelas khusus bagi para siswa yang performansinya termasuk paling rendah di kelasnya. Dalam kelas-kelas khusus ini, para guru berdedikasi membantu para siswa hingga setelah jam sekolah usai.

Sekali lagi, tiga resep di atas mematahkan asumsi bahwa uang adalah segalanya, termasuk untuk memecahkan lingkar masalah di dunia pendidikan. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Pertanyaan yang dilontarkan di awal artikel ini, yaitu “apakah mungkin Indonesia memiliki siswa-siswa yg nomor satu cerdasnya?” bisa dijawab dengan mencoba menilik sejauh mana negara kita telah mencoba menerapkan tiga resep tersebut.

(*) Disadur dari artikel yang dimuat di Economist.com:
http://www.economist.com/PrinterFriendly.cfm?story_id=9989914

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Gea OF Parikesit
Tanggal: Senin, 5 Nopember, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Lahir dan dibesarkan di kota Bandung, Gea Oswah Fatah Parikesit lulus dari program studi S1 Teknik Fisika di ITB pada tahun 2001. Studinya kemudian dilanjutkan di TU Delft (Belanda) hingga ke jenjang S2 dan S3. Bidang yang ditekuninya adalah instrumentasi optika dan mikrofluida.

Tulisan Terkait:

Banner

3 Komentar untuk “Uang Bukan Kunci Perbaikan Kualitas Pendidikan”

  1. Masalah keberhasilan pendidikan di negeri ini menjadi masalah kita semua termasuk saya yang berprofesi sebagai guru. Menurut saya uang memang bukan menjadi tolak ukur keberhailan pendidikan. Seberapa besar sekalipun gaji seorang guru tapi kalau tidak mau terus berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sama saja bohong. Siswa sangat membutuhkan seorang guru yang terus mau menambah wawasan, terutama jika siswa kita berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, mereka butuh pendampingan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Apalagi kurikulum pendidikan di Indonesia tidak mampu untuk mengikuti loncatan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

  2. Tfs..saya melihat justru kpd hal paling dasar, yaitu filosofi pendidikan, mau dibawa kemana arah & tujuan pendidikan,generasi spt apa yang hendak kita didik dan hasilkan, set back?? mungkin.. seperti sistem ranking itu harus ditinjau ulang, UAN UASBN itu jg perlu dikaji ulang..

    Soal uang? ada penelitian menarik ttg Positive Deviance, sy lupa nama profesornya, yaitu anak2 di negara miskin atau berkembang,lingkungan pendidikan carut marut, fasilitas minim, guru kurang kompetensi, tp ada diantara anak2 itu yg menonjol dibanding yg lain, dari segi prestasi dan kemampuan membawa diri.. ternyata anak2 tsb adalah anak2 yg dibesarkan dg kasih sayang, perhatian ortunya ttg nilai2 hidup, menjadi percaya diri, dan punya visi.. Poin yang saya tangkap, institusi keluarga menjadi benteng penting. Masalahnya sejauh mana keluarga berdaya dan diberdayakan? apakah ini matarantai ‘kebodohan’ yang akan terus berulang?

    Lagi, uang memang bukan satu2nya faktor, tetapi sebagai sebuah gerakan masiv untuk perbaikan (dlm konteks bangsa) maka anggaran pendidikan selaiknya dipandang sebagai investasi… Membuat pendidikan lebih terjangkau jg harus dalam perhitungan pemerintah (yang berkuasa).

    Banyak hal, kalau ruang ekspresi dan apresiasi generasi2 yang prestatif juga ga ada, bisa-bisa potensi mereka akan membonsai..

  3. Bu Didin,
    Terima kasih untuk komentar serta masukannya.

    Saya paling tertarik menanggapi poin “filosofi pendidikan, mau dibawa kemana arah & tujuan pendidikan, generasi spt apa yang hendak kita didik dan hasilkan”.
    Dalam opini saya, inti dari pendidikan adalah menyiapkan kemandirian. Untuk saya, prinsip ini cocok diterapkan baik dalam konteks mendidik anak kandung maupun mendidik di lingkup sekolah. Dengan kemandirian, maka pada masanya nanti sang anak didik dapat membuat keputusan sendiri dengan baik dan benar, tanpa harus diberitahu oleh orang yang lebih tua umurnya. Lantas, bagaimana agar kemandirian ini bisa ditanamkan? Di mata saya, kuncinya hanya satu: tanamkan ke anak didik agar selalu jujur dengan dirinya sendiri, hingga selalu berbuat yang terbaik sesuai potensi kemampuannya. Insya Allah, terlepas dari apakah sistem pendidikan menganut pemberian ranking atau tidak, maka sang anak didik akan selalu percaya dirinya, dan mampu meraih kepuasan batin dengan mencapai potensi puncaknya (jadi bukan meraih kepuasan dengan mengalahkan kompetitor2nya).

    Salam, juga untuk pak Yugi dan si kecil Madinah.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>