Beranda > Artikel > Menjaga Simpul Antara Sains dan Agama

Menjaga Simpul Antara Sains dan Agama

Jumat, 9 Nopember, 2007 oleh Yockie Suryo Prayogo

Sains dan agama , dua hal yang di dalam pemahaman saya sebagai awam selalu menggelitik, mengundang pertanyaan didalam hati. Saya yakin bukan hanya saya seorang diri yang merasakan hal ini.

Seperti kita pahami dalam catatan sejarah kita tentang masuknya ajaran Islam ke wilayah Nusantara (baca:tak perlu saya uraikan disini karena akan mengundang banyak perdebatan dan anda bisa membacanya sendiri dibuku-buku sejarah).

Maka jelas intinya bahwa Islam menyebarkan ajarannya juga menggunakan pendekatan-pendekatan budaya . Saya akan membatasi pembicaraan saya hanya dengan pendekatan budaya Jawa -karena saya orang Jawa- tanpa menafikkan atau mengenyampingkan Islam masuk lewat pendekatan budaya-budaya lainnya.

Yang saya pahami lingkungan masyarakat semenjak saya kecil hingga dewasa erat hubungannya dengan nilai-nilai agama , bicara soal kepatutan alias kepantasan dan hal-hal lain yang bersifat “tanda kutip” harus dihindari tanpa ada larangan tertulis.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan sains, maka sebagai salah satu implikasinya masyarakat kitapun mengalami proses transformasi budaya dengan mencoba me-remix budaya-budaya serapan yang baru.

Tak ada yang salah dan luar biasa dalam sebuah proses perjalanan peradaban manusia , kecuali hanya satu pertanyaan saya, “Dimanakah mereka zaman ini menempatkan nilai-nilai agama?”

Kontraversi dari akibat pergeseran dan gesekan-gesekan budaya tersebut telah menuai lahirnya berbagai ragam ekspresi dalam cara menghayati agama .

Dulu semasa saya kecil masyarakat sekeliling antara lain memahami sebagai berikut:

“Sebelum kau mampu melakukan seluruh ibadah kewajiban perintah agamamu selama 40 kali (saja) tak terputus , jangan engkau merasa nyaman untuk disebut kyai”

Saya hanya mencoba mencari solusi bagi pertanyaan dalam hati , “Kok para kyai-kyai muda dan kyai seleb (yang istrinya seperti gerbong kereta api) yang juga merasa halal berjualan ayat-ayat suci tersebut semakin jauh dari cerminan perilaku ulama atau para kyai yang saya pernah pahami dulu?” Bahkan ada di antara mereka menggebu-gebu saat berceramah di masjid-masjid dengan menyebarkan faham eksklusivitas dalam agama . Walaupun dalam ajaran agama yang sama .

Memang Tuhan ada berapa ? Atau mungkin mereka sudah merasa kenal dengan Allah melebihi orang lain. Semoga tidak semakin banyak orang yang muncul lalu mengaku sebagai pembawa wahyu Nabi . Sementara tanpa kita sadari Allah sudah mengetuk hati berkali-kali , namun tak kita ambil peduli .

Karena Dia menggunakan tangan fakir miskin dan rakyat jelata, yang sama sekali tak menarik minat seperti tontonan televisi beserta kyai-kyainya .

Sains dan agama, bagaimana dan di sebelah yang manakah, simpul-simpul hubungan antara keduanya harus dijaga dan yang harus dipelihara?

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Yockie Suryo Prayogo
Tanggal: Jumat, 9 Nopember, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Pengamat budaya, pemusik, mantan keyboardis God Bless, blogger renungan kehidupan, terlibat dalam sejumlah proyek musik seperti Kantata Takwa, Swami, dan masih terus berkarya hingga kini.

Tulisan Terkait:

Banner

1 Komentar untuk “Menjaga Simpul Antara Sains dan Agama”

  1. menurut saya di dalam Islam atau Al-Quran. antara sains dan agama itu saling mendukung, entah jika di agama lain.

    sebenarnya saya nyakin agama itu berdasar dari satu Tuhan, namun karena agama tersebut telah diacak-acak oleh manusia, maka diturunkanlah agama terakhir sebagai penyempurna dan telah dijamin kitab sucinya tidak akan diacak-acak lagi.

    namun ada juga pendapat yang bilang jika agama diturunkan sesuai kadar kemampuan otaknya saat itu.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>