Beranda > Artikel > Kerinduan Seorang Penulis Sains Indonesia

Kerinduan Seorang Penulis Sains Indonesia

Kamis, 29 Nopember, 2007 oleh Merry Magdalena

Menjadi penulis sains di Indonesia tidak secemerlang di negara maju. Nasibnya nyaris sama dengan saintis itu sendiri. Bagaimana bisa?

Profesi penulis bukan suatu hal yang menjanjikan, di Indonesia. Entah jika di negara berkembang (atau miskin?) lainnya. Yang jelas setahu saya penulis seproduktif Seno Gumira Ajidarma atau Fira Basuki pun tetap memiliki profesi lain sebagai sumber dapur mengepulnya. Apalagi jika di belakang nama penulis itu ada embel-embel spesialisasi lagi. Penulis sains alias science writer misalnya.

Sains sendiri bukan hal yang komersil, diminati, dan dihebohi di republik kita ini. Jadi memilih profesi sebagai penulis sains bisa diartikan sebagai “menjatuhkan diri dan menimpakan tangga” terhadap diri sendiri

Tak Harus Ilmuwan

Apa itu penulis sains? Davide Castelvecchi, penulis sains dan teknologi majalah Science New, mendefinisikan, “Penulis sains bukanlah saintis, penulis teknologi atau pendidik. Hal yang paling dibutuhkan seorang penulis sains adalah kemampuan literal, akses ke informasi dan mengolahnya sama lancar dengan kita mengoperasikan iPod.”

Menurut lelaki yang tertarik pada fisika ini, hal yang disukai banyak penulis sains adalah betapa mereka sangat aware dengan bagitu banyak penemuan ilmiah, cerita yang ada di baliknya, dan seterusnya. Itu semua merupakan kisah yang kadang terlewatkan oleh kebanyakan penulis dan agak sulit juga menarik perhatian publik. Yang terakhir ini bisa saya tambahkan, publik negara berkembang (atau miskin?) seperti Indonesia dimana sains belum jadi santapan utama.

Beda ya dengan penulis Teknologi Informasi (TI)? Jelas berbeda. TI memang bagian dari sains, namun seorang penulis sains tidak mengkhususkan diri pada aplikasi TI. Di Indonesia yang namanya buku TI belakangan ini cukup membanjir di toko-toko buku. Isinya rata-rata serupa, panduan teknis atau tutorial untuk mengoperasikan suatu program komputer. Yang paham hanyalah mereka yang memang berminat dan berkecimpung di bidang serupa. Penulis buku dan artikel TI rata-rata adalah mahasiswa, dosen, praktisi TI, atau sekadar pemerhati TI. Intinya mereka orang yang memang mampu mengoperasikan TI.

Sedangkan penulis sains tidak harus mampu melakukan eksperimen di laboratorium atau melakukan oprekan komputer untuk bisa menulis tentang DNA atau program komputer teranyar. Justru penggunaan bahasa teknis semampu mungkin dihindari demi semua kalangan pembaca memahaminya. Penulis sains diharap mampu mengolah berita, artikel, paper, segala referensi sains menjadi tulisan yang menarik, mudah dicerna siapa saja, dan menambah pengetahuan pembaca.

Di luar negeri kita mengenal nama seperti Jenny Gristock yang menulis sains untuk New Scientist, The Guardian, The Times Higher, dan Parliamentary Monitor. Atau sebut saja mendiang Jerry E. Bishop, jurnalis sains yang berkarir 42 tahun di The Wall Street Journal. Mereka fokus di bidang penulisan sains, segala jenis cabang ilmu, mulai dari ekspedisi penggalian situs arkeologi, ekspedisi angkasa luar, sampai perkembangan kloning manusia, hingga filsafat. Nyaris tidak ada batasan. Dan di “sana”, jelas profesi sebagai penulis sains sangat menjanjikan seiring dengan bidang sains yang memang sudah cukup popular.

Kerinduan

“Saya memutuskan jadi penulis sains karena ini adalah pekerjaan paling pantas buat saya,” papar Alisa Machaleck yang menulis kesehatan untuk National Institutes of Health. Tentu saja pantas karena juga mendapatkan penghasilan finansial yang pantas pula. Sehari-hari Machaleck membuat pers rilis, artikel feature, buklet edukasi sains, penulisan di web dan profil ilmuwan. Sungguh menyenangkan, menurut saya yang juga sempat mengelola halaman Ilmu dan Pengetahuan di harian Sinar Harapan yang kini sudah dihapus.

Apakah saya seorang penulis sains? Ya, pernah, ketika saya masih mengelola halaman itu dengan rasa cinta, menikmati, tanpa peduli harus mengisi satu halaman sendirian karena teman kerja sakit atau redaktur tak bisa hadir di kantor. Saya menikmati saat-saat mewawancarai ilmuwan seperti Prof.Sangkot Marzuki, Johnny Setiawan, Endang Sukara, Inez Loedin, dan sebagainya. Saya mencintai saat-saat menghadiri jumpa pers tentang temuan terbaru ilmuwan, ekspedisi ilmiah suatu tim sains, dan sejenisnya. Saya sangat merindukan masa-masa itu sama seperti saya merindukan masa kecil yang tak bisa terulang.

Dan kini saya terseok-seok mengelola situs ini, Netsains. Saya memulai segalanya dari nol, bahkan minus. Membuat sebuah media online khusus sains dan teknologi tidaklah semudah membalik telapan tangan memang. Tapi dengan bantuan bagitu banyak teman dan sahabat, apa yang tidak mungkin?

Referensi:

2 Komentar untuk “Kerinduan Seorang Penulis Sains Indonesia”

  1. Selamat berjuang! Andai saya mampu, pasti saya bantu. Saya hanya seorang guru sains di daerah.

  2. nice choose….
    memang sangat sulit biat nentuin pilihan bahwa kita harus mengambil apa yang mampu membuat kita hidup…

    menulis,,,yah,,,itu pilihannya,,,untuk hidup memilih untuk menulis…’

    akan tetapi kita hidup tidak hanya dengan pekerjaan…so,,think fres..

    pekerjaan adalah salah satu didalam hidup kita,but masih banyak hal selain pekerjaan. jadi,,get your really choose…

    it’s Fantastic!!!!

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>