Beranda > Artikel > Kapan Teknologi Satelit Indonesia Berjaya Kembali?

Kapan Teknologi Satelit Indonesia Berjaya Kembali?

Senin, 12 Nopember, 2007 oleh Atmadji W Soewito

Kita pernah mengalami kejayaan di bidang teknologi satelit. Kini tinggal kenangan sudah. Megapa bisa begitu? Akankah kita terus terpuruk?

Sebagai negara yang secara geografis terbentang paling panjang di katulistiwa, Indonesia memiliki posisi geografis yang unik yang tidak dimiliki oleh negara lain, khususnya untuk teknologi satelit. Begitu juga karakteristik kepulauan dari Indonesia menjadikan satelit sebagai solusi yang pas untuk membuka isolasi daerah-daerah yang terpencil. Bayangkan jika anda saat ini sedang berada di kepulauan di Indonesia Timur sana, cara apa yang bisa anda pakai untuk menelpon kerabat anda di Jakarta selain melewati satelit?

Satelit yang saya maksudkan disini adalah wahana angkasa yang ditempatkan manusia di angkasa untuk keperluan tertentu, khususnya telekomunikasi, selain broadcasting dan penginderaan jauh. Obyek ini nyaris seperti barang abstrak, karena dia tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang.

Unik

Teknologi satelit, meskipun sudah lama ada, adalah teknologi yang mahal, sehingga tidak aneh, bahwa negara sebesar Indonesia yang terbentang sejauh 40 derajat longitude, hanya memiliki kurang dari 10 satelit saja yang dioperasikan oleh operator satelit Indonesia. Langit Indonesia lebih banyak didominasi oleh satelit milik negara lain yang menguasai teknologi dan bisnis satelit meskipun pasar mereka adalah kita-kita juga.

Secara teoritis, seluruh lapisan langit yang berada mulai dari ketinggian puluhan hingga puluhan ribu kilometer adalah ruangan yang terbuka yang layak dan lazim dipakai untuk penempatan wahana antariksa.

Satelit ada yang beroperasi di stratosfir di ketinggian puluhan kilometer, maupun di ketinggian ratusan kilometer yang dikenal sebagai satelit orbit rendah, LEO (Low Earth Orbit), atau yang berketinggian puluhan ribu kilometer, yaitu .satelit-satelit geostasioner GEO (Geosynchronous Orbit).

Indonesia sebetulnya adalah salah satu pelopor yang visioner sekaligus pernah menjadi penyelenggara laboratorium besar bagi penggelaran teknologi satelit. Pada tahun 70-an, Indonesia adalah negara ketiga di dunia setelah Amerika dan Canada yang menggelar komunikasi domestik menggunakan satelit.

Meskipun demikian, barangkali karena terbatasnya dana dan sasaran yang tidak fokus, keahlian yang sudah dimiliki Indonesia pada tahun 70-an pelan-pelan seperti terbuang begitu saja, dan posisi penguasaan teknologi satelit oleh Indonesia saat ini terbatas pada usaha peluncuran satelit orbit rendah antara lain TUBSAT-nya LAPAN, dan pabrikan-pabrikan perangkat elektronik didarat yang memanfaatkan satelit sebagai pemancar ulang.

Mahalnya teknologi satelit untuk aplikasi telekomunikasi ini antara lain karena satelit membutuhkan tiga teknologi sekaligus, yaitu teknologi payload, teknologi bus satelit, dan teknologi peluncur.

Teknologi bus satelit dan payload memang biasanya diajarkan kepada para ahli dari perusahaan pembeli satelit yang diikutkan dalam program training, meskipun tidak berarti secara otomatis membuat teknologi itu menjadi mudah.

Sementara peluncuran satelit ke orbit geostasioner karena begitu strategisnya masih tetap menjadi milik elit negara maju.

Begitu juga biaya peluncuran obyek ke orbit geostasioner pun masih menelan biaya puluhan ribu US dolar per kilogramnya.]

Pengguna

Sebagai bangsa yang lebih banyak menjadi pengguna teknologi daripada pembuat teknologi, saat kita harus memilih antara kepentingan industri barang modal atau kepentingan jasa turutan dari suatu teknologi, biasanya kita cenderung akan memilih yang kedua, kenapa?

Jasa turutan biasanya lebih bersentuhan langsung dengan orang banyak, dibandingkan dengan penguasaan teknologi pembuatan barang modal yang dipandang hanya menjadi kepentingan elit ilmuwan, industrialis dan negara industri pembuatnya.

Jadi dalam waktu dekat, isu apa sebenarnya yang sangat strategis dari satelit? Satelit secara teknologi bersaing dengan jaringan terestrial, dan memang persaingan industri barang modal itu mungkin bukan menjadi kepentingan terbesar kita karena industri kita disitu masih lemah Kepentingan terbesar kita justru adalah yang terkait dengan penggunaan sumber daya alam kita, yaitu spektrum frekwensi, dan kebebasan kita untuk tidak didikte kepentingan bisnis negara lain.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, kebutuhan spektrum frekwensi kita berbeda dengan negara-negara industri di daerah sub-tropis, Negara-negara itu memiliki curah hujan yang lebih sedikit, sehingga bisa menggunakan band frekwensi 11-13 Gigahertz atau bahkan lebih tinggi lagi, dibandingkan kita yang harus memakai band 4-6 Gigahertz.

Begitu juga kondisi geografis mereka adalah sepenuhnya daratan sehingga bisa memakai jaringan komunikasi darat tidak membutuhkan komunikasi satelit se-intensif kita.

Saat ini dimana kebutuhan spektrum untuk komunikasi mobile terus membengkak, dan negara-negara industri komunikasi mulai mengincar daerah frekwensi 4 Gigahertz yang lazim kita pakai untuk komunikasi satelit, akankah kita kembali tergusur seperti biasanya?

Kredit foto: www.skycontrol.net

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>