Yockie Suryo Prayogo: “Musik Adalah Agama Tak Ber-Tuhan.”
JAKARTA, Netsains - Yockie Suryo Prayogo. Nama itulah yang tertera di kolom pengirim emailnya, menandakan bahwa itulah versi paling benar nama mantan keyboardis God Bless ini. Di beberapa media massa, nama Yockie kadang ditulis dalam beberapa versi berbeda.
“Joki - Yoki - Yongky - Yongkie - Jockie…Yockie Suryo Prayogo. Saya tak pernah ber-cita-cita untuk memiliki begitu banyak sebutan nama. Namun harus saya akui bahwa perubahan huruf J menjadi Y bukanlah semata karena pengaruh globalisasi .” Demikian tulis ayah empat anak ini di salah satu blognya. Salah satu? Ya, sebab walau sudah berusia lebih dari setengah abad, seorang Yockie tergolong tidak gagap teknologi. Suami dari Tiwi ini punya akun Multiply, Wordpress, Blogspot, Yahoo 360, bahkan suka chat di Yahoo Messenger.
Saya “mengenal” Om Yockie sejak TK atau SD, saat God Bless masih sering muncul di TV. Yockie adalah personel yang setia sejak God Bless terbentuk sekitar 35 tahun silam. Lelaki kelahiran demak 14 September 1954 ini rajin menulis di blognya tentang apa saja, politik, seni, musik, budaya, teknologi sampai sains. Mengapa ia suka ngeblog? Bagaimana tanggapannya tentang pengaruh kemajuan teknologi terhadap musik? Ikuti bincang-bincang Yockie yang suka bercanda ini dengan Netsains.

Caption:Masa-masa kejayaan God Bless.
Netsains (NS): Apa kesibukan Mas Yockie saat ini?
Yockie Suryo Prayogo (YSP): Masih berkutat didalam ruang studio, menyelesaikan beberapa rekaman musik yang antara lain membuat lagu-lagu pop bersama mas Erros Djarot.
NS: Bagaimana dengan God Bless? Apakah group musik legendaris ini masih akan menelurkan album baru?
YSP: Karena beberapa alasan serta sulitnya menyesuaikan jadwal kerja, sejak tahun 2003 saya mengundurkan diri dari kelompok tersebut .
NS: Saat ini industri musik dimeriahkan dengan munculnya Teknologi Informasi (TI), dimana musik bisa bebas di-donwload melalui komputer, baik berbayar maupun gratis. Menurut mas Yockie, kondisi ini menguntungkan atau merugikan musisi?
YSP: Perkembangan teknologi berjalan seiring dengan perubahan jaman ,dimana kedua-dua-nya kemudian memotivasi munculnya paradigma-paradigma yang baru dalam cara mendengarkan sebuah musik dan lagu. Bagi saya musik dan lagu yang menjadi bebas di-download di Internet adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi . Dengan tidak melibatkan rasa suka atau tidak suka.

Caption: Masa muda..sekarang Om Yockie masih kuat ngga ya lari-lari jauh? hehehe..
Dibanding dengan kebanyakan musisi seangkatannya, Yockie tergolong cukup paham teknologi. Ia sempat mencurahkan kekesalannya jika dianggap “ketinggalan zaman” oleh juniornya. Berikut perikan curhatannya di salah satu posting blognya.
“Anak sekarang emang sering ngga nyadar , dipikir kita ngga eksis di dunia teknologi sebelum mereka…asem deh
Nah itu nasib apes jadi orang tua di Indonesah. Sampai akhirnya tak jelasin ke anak saya , lho..papa ini gini2 juga ngga gaptek2 amat , dulu tahun 1981′an waktu belum muncul yang namanya PC (karena dulu ya cuman ada main frame , midi sama mini komputer , yang CPU nya segede anak gajah & hard disc nya sebesar penggorengan martabak india) papa itu sudah punya sekolahan pendidikan komputer / software house tau..?. (*dengan agak sombong saya njelasinnya,…dumeh ya ben*) Dan sekolahan papa itu satu-satunya third party nya IBM Indonesah…tau..?”
NS: Apakah musisi saat ini juga masih membuat eksperimen di bidang musik digital? Kalau ya, siapa saja mereka? Apakah memang tidak untuk go komersial, melainkan hanya sebagai eksperimen saja?
YSP: Dahulu di era analog (magnetic tape) memang banyak saya jumpai pemusik-pemusik melakukan eksperimen-eksperimen untuk menemukan hasil audio yang ‘baru’ , misalnya melalui posisi mickrophone atau bahkan membangun ruang-ruang sket dan sebagainya. Saat ini dengan perkembangan teknologi yang dilakukan computer bahkan dibantu pula dengan pendekatan grafik visual untuk meng-identivikasi bentuk sebuah bunyi, kita dapat dengan mudah dan akurat mendapatkan apa yang kita inginkan. Karena tools sudah tersedia maka eksperimen tak perlu lagi , wong tinggal pencet (preset) lalu dalam sekejap mata dia muncul (kaya sulap ya..hehe).
Tapi benarkah komputer sudah menjawab semua keinginan kita? Saya melihatnya tidak demikian. Orang bisa saja menjadi malas karena tools sudah tersedia. Jika dia hanya bermain ditataran kulit muka, bahwa lagu adalah sekedar nada dan nada adalah sekedar audio suara. Menyikapi lagu hanya dengan pendekatan hitungan birama tempo atau harmoni suara akan membuat kita menghadapi musik dengan menggunakan pemahaman matematika .Semua dihitung, diukur, seluruh ruang frekwensi yang terbentang dari 20 hz hingga 18 khz divisualisasikan melalui spectrum analyser, ruang kosong akan tampak secara visual lalu disanalah Si Musisi bertindak untuk melengkapinya dengan menambahkan bunyi-bunyian suara. Hingga setelah akhirnya semua frekwensi bergerak, barulah itu semua bisa dikatakan sempurna oleh merek. Dan sepertinya kebiasaan tersebut juga menular ke para penikmatnya (pendengar musik Indonesia). Mereka seolah sudah memilki parameter tertentu untuk mendengarkan lagu-lagu yang bagi mereka terlalu minimalis , lalu mereka langsung nyeletuk “Musiknya sepi nih..” Itu yang saya maksudkan dengan memahami musik dengan pendekatan matematika, hingga pendengarpun didorong untuk mendengar musik juga secara matematis.
Musik adalah energi sebuah perasaan yang keluar dari dalam lubuk hati manusia . Dia tak berbentuk sama , dia tak tak bisa diharapkan keluar dari layar monitor komputer kita. Dia bukan rumusan teori yang bisa diciptakan setelah dipelajari dibangku sekolah . Bagi saya musik seperti sebuah ‘agama’ namun tak ber-Tuhan , karena itu tak perlu fanatik terhadapnya , namun wajib tulus dan ikhlas serta jujur menjalaninya.Karena musik juga sebuah karya seni yang bersandar pada nilai-nilai kesucian. Tak ada karya seni baik yang tak bersandar pada nilai kesucian tersebut. Dan bagi saya salah satu nilai kesucian musik adalah “kejujuran” .
NS: Banyaknya perusahaan rekaman indie sekarang melahirkan banyak pemusik indie. Menurut Mas Yockie, apakah komunitas musik indie mampu bersaing dengan major label?
YSP: Selama daya beli masyarakat masih tinggi tentu mereka hanya menjadi ‘pelengkap penderita’ saja . Tapi kondisi Indonesia saat ini , yang memicu hengkangnya investasi-investasi asing dinegeri ini termasuk major-major label tersebut , membuat mereka yang masih mampu bertahan harus banyak menurunkan biaya program promosi produk mereka. Percuma kan. promosi tinggi namun tanpa pembeli yang memadai. Soal berhasil atau tidaknya? Ya tergantung kreativitas mengolah strategi dan menyiasati kondisi lapangan yang ada.
NS: Kelahiran musisi indie ini menurut mas Yockie sebagai gejala apa ya? Apakah mereka memang lebih idealis atau sekadar pelarian karena selalu ditolak major label?
YSP: Kemajuan dan penemuan teknologi komputer untuk mengeksplorasi musik telah juga memberikan peluang yang besar bagi setiap orang untuk bisa membuat sebuah komposisi lagu tanpa harus melalui jenjang pendidikan yang lebih formal atau bahkan perlu menjadi seorang seniman. Ibarat desain pakaian komputer adalah sebuah ‘mesin jahit’ otomotis yang dengan mudah setiap orang bisa merancang keinginan sesuai seleranya masing-masing .Jadi wajar saja kalau jaman ini juga ‘booming’ bagi lahirnya pemusik-pemusik baru yang tersebar diantara 250 jutaan rakyat Indonesia. Peserta banyak namun kekurangan tempat dan fasilitas penampungan, menurut saya ini tidak ada hubungannya dengan idealisme tetapi lapangan pekerjaan .
NS: Jika dibandingkan dengan era 70-an ketika God Bless berjaya dulu, menurut Mas Yockie bagaimana persaingan industri musik saat ini? Lebih ramai pastinya, tapi lebih sehat dalam kompetisi atau tidak?
YSP: Tidak adil membandingkan kondisi tahun 70-an dengan sekarang begitu saja, karena memang suasana dan segala sesuatunya berbeda.Namun yang bisa dicatat adalah , generasi 70-an misalnya dengan segala keterbatasan serta kondisi yang apapun namanya itu, nyatanya telah mampu membuktikan diri dengan melahirkan banyak karya serta musisi atau penyanyi yang memiliki daya juang dan pengabdian yang tak perlu diragukan bagi negerinya lewat musik dan lagu-lagunya. Sebut saja Bimbo, Leo Kristi, A.Riyanto , Iwan Abdurachman, Titiek Puspa,Gombloh, Ebiet G Ade, Chrisye dan banyak lagi yang saya tidak sebutkan. Di mata saya mereka mereka ini adalah para pelatak dasar fondasi musik dan lagu Indonesia bisa berkumandang dan menjadi bahasa “pop” pemersatu musik Indonesia. Seorang rekan saya berkata namun juga bertanya pada saya; “Lagu-lagu anak muda sekarang musiknya juga bagus-bagus penyanyinya juga semakin bagus dalam mengolah suara (akurasi nada), namun lagu sekarang tidak menjadikan dia bisa bersiul ,menyanyikannya.” Lalu saya coba melakukannya, menyiulkan sebuah lagu yang saya suka dari sebuah group kelompok anak muda yang sedang ternama. Iya, memang benar. Saya hanya bisa menyiulkan 4 hingga 8 bar saja. Selanjutnya membosankan, karena repeatatif atau melodinya diulang-ulang berkali-kali. Sungguh ngga enak bersiul dengan nada yang sama diulang-ulang terus..hehe . Itulah sedikit gambaran saya tentang musik hasil sebuah peradaban yang lahir dari sebuah mesin budaya yang juga menggunakan pendekatan matematika.
NS: Apa obsesi Mas Yockie di dunia musik sekarang?
YSP: Saya tidak pernah merasa punya obsesi dalam bermusik. Saya hanya merasa ingin bermusik sesuai rasa apa yang ada dihati saya . Namun justru anehnya hal tersebut sering membuat orang mengatakan saya terlalu idealis . Aneh bin ajaib kan? Orang mencoba menjalani dengan jujur untuk menemukan jatidirinya dibilang idealis , sementara orang yang berperilaku aneh-aneh mirip orang asing lebih dikatakan ‘membumi’ oleh media masyarakatnya . Rupanya yang terobsesi bukan hanya penyanyi dan musisinya saja namun kritikus dan pengamat bahkan sampai infotainment pun terobses untuk diakui keberadaannya. Tapi sudah adakah landasan sebagai alas pijak yang kokoh untuk kita semua menapaki obsesi kita semua ? Obsesi ditataran estetika, di tataran kesejahteraan ekonomi dan ditataran berkomunikasi dengan masyarakatnya. Akhirnya saya memang menyadari, saya juga terobsesi , terobsesi dalam sebuah masyarakat yang juga sedang terobses ngga jelas.
NS: Mas Yockie tergolong musisi angkatan senior yang langka, sebab masih mau ngeblog. Apa yang membuat Mas suka ngeblog? Adakah musisi senior lain yang juga ngeblog?
YSP:Karena obsesi saya di tataran komunikasi mampet, ya blog lah jawabannya . Masih jauh dari harapan tapi itulah yang saya bisa saya lakukan dan kualitas yang mampu saya berikan. Jauh dari gambaran angan-angan dan mimpi saya. Ya nyatanya memang masih sebatas inilah kemampuan saya. Maaf kalau membuat anda kecewa , saya memang bukan orang yang layak diidolakan, apalagi yang sempurna. Jadi sekali lagi maaf lahir dan batin, bukan karena mumpung lagi di bulan puasa lho.














wah..baru baca
tapi seru juga nih
benar2 “berisi”
thanks atas konten yang sangat menarik ini