Beranda > Artikel > Tiga Kesalahan Fatal yang Dilakukan Penulis

Tiga Kesalahan Fatal yang Dilakukan Penulis

Kamis, 4 Oktober, 2007 oleh Merry Magdalena

Ada tiga kesalahan fatal yang sering dilakukan penulis sehingga tulisannya kurang diminati orang, padahal ia menulis topik yang sangat bagus. Apa sajakah itu?

Buku yang baik adalah buku yang membuat kita ingin segera menelepon penulisnya dan berbincang-bincang dengannya. Begitu ungkap Jerome David Salinger melalui tokoh Holden dalam masterpiece-nya, Catcher In The Rye . Kata “buku” di sini bisa diganti dengan tulisan, artikel, puisi, esai, atau apapun itu. Jika kita tidak berminat pada suatu tulisan, otomatis kita juga tidak ingin berurusan dengan penulisnya. Bisa dikatakan demikian.

Bagaimana agar tulisan kita disukai? Jawabannya sangat relatif, sebab suka atau tidak suka bukan hal yang dapat dijabarkan dengan logika. Tapi setidaknya ada standar untuk mengkategorikan sebuah tulisan layak disuka atau tidak.
Netsains telah menerima puluhan -barangkali mencapai seratus lebih- sejak mulai beroperasi tiga bulan silam. Pengirimnya adalah ilmuwan, mahasiswa, jurnalis, pemerhati sains dan teknologi, pengajar, praktisi teknologi, dan sebagainya. Mulai dari yang masih kuliah S2, sampai yang sudah profesor, atau sekadar lulusan S1. Apakah tulisan mereka menarik? Sekali lagi, itu sangat relatif.

Memang tidak ada tulisan yang sempurna, itu sudah pasti. Berikut akan saya ulas sejumlah kesalahan yang kerap dilakukan penulis.

1. Menganggap pembaca sudah pasti paham dengan sejumlah istilah yang dipakainya.

Hal ini pernah saya bahas dalam artikel Mengapa Ilmuwan Harus Menulis Ilmiah Populer . Penulis kerap menggunakan istilah teknis atau ilmiah yang tidak semua orang paham. dan istilah itu digunakannya tanpa disertai keterangan definisinya.
Misalnya: “Open Source sudah dapat menggantikan propietary dalam beberapa hal sejak memakai GUI sehingga user memahami command dengan mudah.”
Mereka yang berkecimpung di bidang komputer sudah pasti dapat mengerti apa itu Open Source, propietary, GUI, user, dan seterusnya. Namun bagaimana dengan pembaca yang ternyata adalah ahli botani yang lebih banyak berkutat dengan tanaman? Tidak perlu dijabarkan secara khusus, namun penjelasan definisi bisa diikuti dalam anak kalimat yang cukup menarik dan tidak terkesan menggurui.
Misalnya: “Sistem operasi komputer Open Source yang kodenya terbuka dan bebas bea lisensi kini sudah bisa menggantikan sistem operasi kode tertutup dan komersil alias propietary. Sebab Open Source sudah memakai Grafik User Interface (GUI) atau grafik pengguna antarmuka.” Dan seterusnya.

2. Tidak mengindahkan ejaan dan kaidah bahasa.

Berapa tahun kita belajar Bahasa Indonesia? Bagi orang Indonesia yang lahir dan hidup di Indonesia, tentunya sejak lahir. Belajar kaidah Bahasa yang baik tentunya sejak bersekolah. Tambahkan saja dengan usia Anda kini. Ironisnya, banyak orang Indonesia yang kadang mampu menulis dengan baik dalam bahasa Inggris namun tak mampu menulis dalam Bahasa Indonesia. Maaf, walau sudah berpendidikan S3 sekalipun, banyak orang Indonesia yang tidak mengindahkan ejaan dan kaidah bahasa ibunya dengan baik.

Yang paling banyak dilakukan adalah penggunaan kata “di” sebagai awalan dan kata depan. Masih kerap dijumpai tulisan salah seperti: “dirumah”, “di lakukan”, “di makan”, “dikantor”. Masih banyak penulis bingung, kapan kata “di” dipisah atau disatukan dengan kata berikutnya.
Sering juga dijumpai penulis yang sangat suka menggunakan garis miring atau kolom buka dan kolom tutup.
Misalnya:

Buku-buku komputer/TI banyak diterbitkan (dipublikasikan) oleh sejumlah penerbit yang sekedar mencari keuntungan semata (materialistis tanpa memikirkan apakah buku itu memang berguna bagi masyarakat).

Jika ingin mengungkapkan sesuatu yang bercabang, sebaiknya hilangkan garis miring dan kolom buka kolom tutup seperti itu. Pembaca akan terganggu dengan kehadiran garis miring dan kolom yang tidak terlalu dibutuhkan. Garis miring hanya mengesankan bahwa penulisnya malas. Sedangkan kolom buka tutup mengesankan penulisnya tidak sanggup merangkai kalimat dengan baik. Penggunaan kolom buka tutup yang paling tepat adalah ketika kita menulis kependekan dari suatu nama atau nama lain yang dipakai secara standar.
Misalnya: Daerah Khusus Ibukota (DKI). Ikan duyung (Dugong dugong) adalah spesies mamalia laut yang dilindungi.
Terlalu banyak kaidah dan ejaan bahasa yang dilanggar dan tak cukup dibahas di sini.

3. Membuat lead yang kurang menarik.
Lead adalah kalimat pembuka yang selayaknya dimuat menarik agar pembaca mau melanjutkan membaca tulisan itu. Banyak penulis pemula yang kurang menyadari kekuatan sebuah lead. Akibatnya, tulisan yang bagus cenderung diabaikan oleh orang akibat sejak awal kurang dirangsang dengan lead yang menarik.
Sebut saja tulisan mengenai seniman yang menggunakan komputer dalam berkarya. Lendy Widayana mengawali tulisannya dengan kalimat:

“Berkarya sebagai kartunis dan dunia seni rupa sejak tahun 1973, Keo Budiharijanto yang akrab disapa dengan Pak Keo, telah masuk debut nasional sebagai ilustrator berbagai media, majalah dan buku.”
Kalimat yang bagus sesungguhnya, tapi tak bisa dikatakan sebagai lead yang menarik. Pembaca yang bukan peminat seni rupa akan malas melanjutkan. Tapi akan berbeda jika diberi lead:

“Seniman yang berusia lanjut memakai komputer dalam berkarya, dialah Keo Budiharojanto.” Dan seterusnya.
Dengan lead semacam itu, penulis menarik minat lebih banyak pembaca. Bukan hanya mereka yang menyukai seni saja, tapi juga orang awam, bahkan pehobi komputer.
Lead sangat menentukan seberapa banyak orang akan membaca atau melanjutkan membaca tulisan kita sampai tuntas.

Untuk saat ini, itu saja dulu yang saya ulas mengenai seluk beluk menulis bagi publik. Dengan memperbaiki tiga kesalahan besar di atas tadi, maka seorang penulis sudah selangkah besar lebih baik daripada sebelumnya.

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>