Beranda > Artikel > Pencurian Kreativitas Tanpa Batas oleh Malaysia

Pencurian Kreativitas Tanpa Batas oleh Malaysia

Sabtu, 27 Oktober, 2007 oleh Budi Rahardjo

Pencurian kreativitas kita oleh Malaysia belakangan ini layak dibanggakan. Sebab hal itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia punya kreativitas tanpa batas. Layakkah kita marah? Ada yang membuat kita layak marah, yakni ketika yang dicuri adalah kekayaan yang jauh lebih berharga.

Sekarang sedang ramainya dibahas tentang masalah “peminjaman” lagu Indonesia oleh Malaysia. Lagu Rasa Sayange, Jali-Jali, dan mungkin masih ada yang lainnya digunakan sebagai lagu untuk promosi Malaysia. Kemudian ada beberapa karya lain, seperti batik dan wayang, yang juga diklaim merupakan milik Malaysia. Banyak orang Indonesia yang kemudian marah, kesal, dan sakit hati dengan kejadian ini. Saya pun pada mulanya termasuk yang demikian, tetapi kemudian saya menyadari bahwa ini sebetulnya merupakan tanda yang bagus. Lho kok bisa?

Apa-apa yang diambil oleh saudara kita di Malaysia itu adalah produk dari kreatifitas. Mereka bukan sumber daya alam yang tidak terbarukan. Kalau yang diambil adalah pulau atau minyak, itu boleh membuat kita marah sebab itu merupakan sumber daya yang terbatas. Kita tidak bisa membuat pulau dengan mudah. Lagu, batik, wayang dan yang senjisnya adalah produk dari kreatifitas intelektual yang tersedia tanpa batas. Artinya, kita bisa buat lagi!

Membuka Mata

Kejadian ini seharusnya bisa membuka mata kita bahwa kreatifitas orang Indonesia memang luar biasa. Karya-karyanya bisa tak lekang oleh waktu. Atau, bahkan semakin lama terasa semakin baik? Ini adalah kekuatan dari bangsa Indonesia. Kekuatan ini yang harus tetap dipertahankan.

Jika ada karya yang dibeli, diambil, dipinjam, atau apalah, ya kita tidak usah marah. Upaya untuk negosiasi mempertahkan kekayaan intelektual tetap dilakukan, tetapi yang lebih penting lagi adalah adanya upaya untuk menghasilkan karya-karya baru yang (lebih) bagus. Jangan kita berhenti dengan membuat karya untuk kepentingan komersial semata.

Yang perlu kita khawatirkan adalah jika kita tidak mampu menghasilkan karya melalui kreatifitas ini. Artinya, sumber daya (alam) yang terbatas semakin habis dan sumber daya kreatif yang (seharusnya) tidak terbatas juga tidak muncul. Nah, kalau ini terjadi kita perlu bersedih.

Apakah kita masih sanggup menghasilkan karya yang bagus ataukah kita cukup puas dengan menghasilkan karya yang sekedar jadi? Ayo! Jangan sampai kreatifitas ini yang kemudian diambil juga. Mari kita asah terus kreatifitas kita dengan menghasilkan karya-karya. Siap?

3 Komentar untuk “Pencurian Kreativitas Tanpa Batas oleh Malaysia”

  1. Iya sih… tapi knp di ambil? but we rich! HAHAHA.. his(sory) rich too but little low.. Sarannya sih: jangan diambil yach? wayang,lagu,model,pulau kita kok dicolong gitu? udara disewa,kan malaysianya PASTI gak mau keseniannya dicolong ama kita jg kan?

  2. gw stuju bgt kata dosen gw, hubungan negeri kita ama malaysia tuh “unfair relation”…
    yg rugi dari dulu ampe skrg siapa?
    mari kita berpikir sejenak…

  3. Maaf Pak kalu saya boleh sedikit kritik.
    Sebaiknya gambar motif atau desain batik yang Bapak share disini, resolusinya mohon dikecilkan. Jika gambar besar, saya khawatir motif batik kita akan semakin mudah diadopsi Pihak luar.

    Matur sembah nuwun

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>