Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (Belum ada rating)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Mudik Lebaran dengan Peta Virtual

JAKARTA, Netsains – Berencana mudik tapi takut dengan perubahan iklim tak menentu? Jangan takut, kini ada peta virtual yang bisa memantau kondisi cuaca lokasi mudik.

Mudik di Hari Raya itu biasa. Tapi di zaman perubahan iklim tak menentu kini, sebaiknya pemudik waspada akan kondisi cuaca. Dengan peta virtual, kini pemudik terbantu melakukan perjalanan mudik.

Adalah Weather and Climate Prediction Laboratory (WCPL) Institut Teknologi Bandung (ITB) yaang mengembangkan peta virtual Info Mudik Lebaran 2007 di situs http://weather.geoph.itb.ac.id/mudik/.

Dibuat dengan aplikasi Google Maps, peta ini mampu memberi data kondisi cuaca sejumlah daerah di Indonesia. Penggunaannya cukup mudah. Kita cukup menunjuk dengan kursor daerah yang kita tuju, maka akan keluar grafik data cuaca setempat mulai dari suhu, kelembapan, dan kecepatan angin. Ada petunjuk arah angin serta apakah cuaca berawan atau hujan. Tersedia pula jadwal Imsakiah yang diperbarui sesuai dengan saat kita mengakses situs tersebut.

Satelit

Selayaknya peta biasa, peta virtual ini dilengkapi dengan informasi Lintang dan Bujur untuk menunjukan posisi. Citranya mampu diperbesar dan diperkecil, juga menampakan citra yang didapat dari satelit atau grafis biasa.

Sumber informasi cuaca didapat dari pencitraan satelit geostationary MTSAT Infra Red (IR) kanal . Sedangkan data orisinil yang nyaris real time didapat dari Universitas Kochi dengan resolusi horisontal hingga 1800 x 1800 piksel dan format pencitraan Portable Gray Map (PGM).

Sementara informasi cuaca didapat dari pemodelan cuaca global National Centers for Environmental Prediction (BCEP) dimana data orisinilnya dihasilkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Data ini melalui interval 3 jam dalam formal Grided Binary (GRIB). GRIB ini sendiri merupakan format data matematis yang biasa digunakan dalam ilmu meteorologi untuk menyimpan data historis dan ramalan cuaca. Format ini dijadikan standar oleh World Meteorological Organization.

“Kami di WCPL ITB sudah berpengalaman menjalankan model cuaca reigonal dengan menurunkan skala Global Forecast System (GFS) dengan mengunakan model Penn State/NCAR MM5. Model ini menjangkau Indonesia dan sejumlah negara tetangga dengan resolusi horisontal 30 kilometer,” jelas tim WCPL dalam situsnya.

Semoga saja ramalan cuaca di peta virtual ini tidak meleset terlalu jauh sehingga aktivitas mudik Lebaran bisa berjalan lancar.

Kredit foto: http://weather.geoph.itb.ac.id/mudik/

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.