Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 1,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Kontribusi Gas Rumah Kaca pada Pemanasan Global

globalwarmingGas rumah kaca disebut sebagai pemicu pemanasan global. Apa itu sesungguhnya gas rumah kaca? Mengapa kaca punya kontribusi dalam hal ini? Lantas apa hubungannya dengan gas CO2? Tidak ada kata terlambat untuk menyadari proses pemanasan global dan bahayanya.

Sesungguhnya kaca merupakan sebuah penemuan yang luar biasa. Sanggup memisahkan suasana nyaman di dalam dari hawa yang kejam di luar, sekaligus membuat orang bisa melihat pemandangan luar rumah. Bayangkan seandainya kaca belum ditemukan, dan penutup jendela masih dari kayu atau lempengan logam. Namun demikian di samping jasanya itu, ada lagi sifat kaca yang berhubungan dengan gelombang lain.

Keluarga Besar

Cahaya tampak, yang memungkinkan kita menikmati tamasya warna, hanyalah salah satu anggota dari keluarga besar gelombang elektromagnetik. Saudara-saudara dalam keluarga besar ini dibedakan atas panjang gelombangnya. Terhitung sulung adalah gelombang radio, yang panjang gelombangnya beberapa meter hingga lebih dari ratusan meter. Cahaya tampak menjadi salah satu adiknya, dengan panjang gelombang kurang dari 0,7 mikrometer (1 mikrometer = 0,001 mm). Saudara dekat cahaya tampak bernama infra merah, yang bersebelahan dengan warna merah dari cahaya tampak.

Setiap anggota keluarga mempunyai sifat dan kemampuannya sendiri. Gelombang radio menyampaikan siaran berita dan musik, pancaran infra merah menyampaikan panas. Gelombang radio berasal dari antena pemancar, infra merah bersumber pada benda panas.Lalu sedikitnya ada dua perbedaan antara pancaran infra merah dan cahaya tampak. Pertama, infra merah bersifat tidak terlihat.Kedua, infra merah tidak mampu menembus kaca.

Dengan demikian hanya terang cahaya matahari yang dapat memasuki ruang depan rumah dengan menerobos kaca jendela. Energi yang dibawa cahaya akan mengenai lantai, kursi, meja, dan perabot lain. Lama kelamaan oleh energi tersebut, benda-benda menjadi panas, dan pada gilirannya mengeluarkan infra merah. Tetapi pancaran infra merah akan dibendung oleh kaca, gagal untuk keluar, menjadikan ruangan semakin panas.

Gejala ini dimanfaatkan di negara dingin ketika udara yang beku tidak membolehkan tumbuhnya sayuran yang sangat dibutuhkan. Dibuatlah bangunan yang seluruh dinding dan atapnya dari kaca. Maka gejala yang menghinggapi ruang depan rumah tadi terulang di sini. Hawa di dalam menjadi cukup hangat bagi tanaman seperti tomat, ketimun, meskipun mungkin salju bertebaran di luar. Bangunan ini dikenal sebagai “rumah kaca”.

Di pihak lain, di daerah panas seperti Jakarta, bangunan yang banyak menggunakan kaca merupakan sarana yang ampuh untuk menyiksa manusia di dalamnya atau memboroskan energi penyejuk udara.

Selimut

Pernahkah berada di sebelah nyala lampu pijar 100 watt? Hangat? Panas? Di siang hari Indonesia, energi dari matahari yang jatuh pada tiap meter persegi tanah bisa mencapai enam kali harga itu. Tentu sudah akrab kita dengan rasa teriknya. Lalu apakah dengan demikian bumi menjadi semakin panas?

Jangan kuatir. Jika penghuni rumah merasa beruntung dengan penemuan kaca, penghuni dunia patut berterima kasih karena gas nitrogen dan gas oksigen dalam atmosfir kita bersifat transparan, baik untuk cahaya tampak maupun untuk pancaran infra merah.

Dengan demikian ketika bumi dan segala benda di permukaannya dipanaskan oleh matahari, infra merah yang terbit dari benda-benda dapat bebas terbang ke angkasa. Pergi membawa serta panas yang membuat gerah. Suhu permukaan bumi pun tidak bakal naik secara drastis, keseimbangan tercapai, dan kehidupan berlangsung nyaman.

Tetapi sayang, ada jenis-jenis gas yang menghambat infra merah. Yang populer ialah karbon dioksida (CO2), keluar antara lain sebagai sisa pembakaran dari mesin mobil dan cerobong pabrik. Tatkala industri dan jumlah mobil meningkat, bertambah pula gas penghambat infra merah dalam atmosfir. Terbentuklah semacam selimut, yang membuat naiknya suhu permukaan bumi. Orang menyebutnya “efek rumah kaca”, mengacu pada gejala dalam bangunan kaca seperti dijelaskan sebelumnya. Contoh gas rumah kaca yang lain ialah metan (CH4) dan dinitro oksida (N2O).

Betapa nyaman sebenarnya bumi hasil rancangan yang asli, dapat diketahui dengan menengok dua planet tetangga, Venus dan Mars. Di samping lebih dekat ke matahari, Venus mempunyai atmosfir dengan CO2 yang jauh lebih banyak dari pada bumi. Akibatnya permukaan planet bersuhu di sekitar 462°C, lebih panas dari pada oven di dapur. Mars lebih jauh dari matahari dibandingkan bumi, dan jumlah (massa) CO2 disana sangat rendah. Ini membuat suhu permukaan Mars rata-rata 53°C di bawah nol.

Bukan hanya gerahnya udara bumi yang dikuatirkan. Naiknya suhu berarti mencairnya banyak es di daerah kutub. Dan karena dengan berat yang sama, volume air lebih besar dari pada volume es, melelehnya banyak es berarti meningkatnya permukaan laut. Tidak masalah jika kenaikan muka laut hanya belasan sentimeter. Tetapi jika sudah belasan meter atau lebih, akan banyak kota pantai yang terhapus dari peta dunia.

Sementara itu yang namanya cuaca rumitnya bukan main, segudang faktor bermain di situ, seperti jumlah pancaran matahari, kandungan uap air di udara, luas hutan maupun permukaan air, dan lain sebagainya. Musim berlangsung mulus jika tercapai keserasian di antara berbagai faktor tadi. Sebaliknya, kenaikan suhu karena CO2 pasti akan mengganggu keseimbangan, dan dapat melahirkan cuaca yang berkarakter aneh. Hujan terus menerus di musim kering, misalnya. Apabila cuaca yang abnormal berlangsung terus, akibatnya sungguh serius. Tidak saja kemungkinan badai atau banjir, tetapi juga gagal panen, berjangkitnya hama akibat gangguan pada siklus kehidupan binatang penyebabnya, kekeringan luar biasa yang menyurutkan cadangan air tawar, dan sebagainya.

Dewasa ini pemerintah sejumlah negara, badan internasional, para ilmuwan, LSM, mencurahkan pikiran dan perhatian untuk mencegah terjadinya bencana yang dikenal sebagai pemanasan global. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mengurangi emisi CO2 ke udara, antara lain lewat kesepakatan yang disebut Protokol Kyoto. Dikerahkan juga akal untuk mencari proses industri, cara pembangkitan energi, produksi kendaraan dan mesin yang kurang mengeluarkan karbon dioksida.

Tentu khalayak ramai diharapkan semakin menyadari persoalan yang ada, dan beramai-ramai ikut berupaya menyelamatkan bumi.

 Tentang Penulis: Andrianto Handojo

Andrianto Handojo Andrianto Handojo mengajar pada Program Studi Teknik Fisika ITB sejak tahun 1980 dan mulai tahun 1999 menjadi guru besar dengan bidang keahlian optika. Andrianto Handojo mengajar sebagai guru besar dengan bidang keahlian optika pada Program Studi Teknik Fisika ITB, tetapi secara umum menyukai fisika, gemar membaca dan ingin berbagi keingin-tahuannya lewat ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 7 komentar-komentar dahsyat di artikel ini!

  • Ddew mengatakan:

    Tolong jelaskan donggg tentang terjadinya global warming?? Aqu masih gg ngerti..

    • - Ozon yang menipis.
      Ozon adalah lapisan pelindung bumi, supaya suhu di permukaan bumi tetap stabil. Gw pernah dengar kalau di bulan (tanpa ozon), bagian yang terkena sinar matahari dapat mencapai suhu >50 derajat celsius dan di bagian yang tidak terkena sinar matahari mencapai <-10 derajat celsius.
      - Efek rumah kaca yang berlebih
      Efek rumah kaca terjadi karena kumpulan gas karbon dioksida (CO2). Sebetulnya ERK ini bermanfaat untuk menghangatkan planet, tapi kalau berlebihan dapat menyebabkan global warming dan perubahan iklim.

  • westy mengatakan:

    makasih yah buat bahannya….

    ngebantu banget buat tugas dan skripsi gw…

    kabarin yahhh klo ada info semiotik lagi…

    hehehe

  • Rina Yuliani mengatakan:

    tugas file dan gambar T.I.K IX F

  • iena aceh mengatakan:

    tolong donk ceritainnn efek gas rumah kaca terhadap fotosintesis, bingung ni………. hehehe…
    apa pengaruhnya ………….???????
    thanks……

    • Andrianto HandojoAndrianto Handojo mengatakan:

      Reaksi fotosintesis terjadi pada daun tumbuhan, yaitu mengambil CO2 dan uap air dari udara, yang dengan bantuan cahaya matahari diubah menjadi senyawa karbon untuk hidup tumbuhan, termasuk menimbunnya sebagai kayu. Hasil lain reaksi ialah dilepasnya oksigen ke udara. Jadi secara ringkas, tumbuhan melalui fotosintesis mengambil CO2 dari udara dan menggantinya dengan O2.

      Gas rumah kaca CO2 sejauh ini dituduhkan sebagai yang bikin gara-gara pemanasan global. Di samping ditimbulkan oleh asap pembakaran, kendaraan dan industri, penebangan hutan dipandang besar kontribusinya karena menyebabkan berkurangnya daun yang menyerap CO2. Oleh karena itu penanaman kembali hutan dan penghijauan dipandang sangat penting untuk memelihara bumi dan manusianya.

  • pengaruh nya adalah ketika energi matahari memasuki permukaan bumi kita, cahaya matahari mejadi panas dan menghangat kan bumi.permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagai panas sebagai radiasi infra merah gelombang panjang keluar ke angkasa,sebagaian terperangkap di atmosfer bumi.Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbon dioksida, dan metana akan menjadi perangkap radiasi ini. gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Akumulasi radiasi matahari di atmosfer Bumi ini menyebabkan suhu Bumi menjadi semakin menghangat.
    tu anak smp aja tahu

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.