Beranda > Artikel > Gosip Lebih Berpengaruh dari Fakta

Gosip Lebih Berpengaruh dari Fakta

Minggu, 21 Oktober, 2007 oleh Hosea Handoyo

JAKARTA, Netsains - Gosip seringkali lebih dipercaya daripada fakta sesungguhnya. Bagi banyak orang, gosip justru jadi hiburan mujarab. Walau ada juga yang menderita jadi korban gosip. Tapi yang namanya gosip tidak akan pernah ada surutnya. Yuk kita simak kajian ilmiahnya.

Di Indonesia atau belahan dunia lain, gosip sudah jadi salah camilan sehari-hari. Mulai dari rumah, sekolah, tempat ibadah hingga acara-acara infotainmen. ScienceNOW mengangkat topik ‘bergosip ria’ sebagai salah satu topik bahasan dalam edisi online 15 Oktober 2007 kemarin.

Reputasi

Elizabeth Quill, sang reporter, sempat berdiskusi dengan Ralf Sommerfeld. Ralf adalah seorang kandidat Ph.D. di Max Planck Institute (MPI) for Evolutionary Biology, Plön, Jerman mengenai pembentukan ‘image’ dari sisi psikobiologi.

Gosip dapat merusak reputasi seseorang walaupun orang-orang tahu bahwa gosip atau informasi tersebut tidak benar adanya. Beberapa riset terdahulu mengungkap bahwa orang-orang lebih memperhatikan informasi tentang orang lain yang sejenis atau seumur.

Tidak berhenti sampai di situ, orang-orang memiliki tendensi untuk bergosip dengan informasi negatif akan orang-orang yang berkelas lebih tinggi atau lebih dari posisi mereka. Mereka hanya menyampaikan ‘gosip positif’ bila mereka membutuhkan orang-orang tersebut atau teman sepermainan. Dengan begini gosip membentuk reputasi atau image seseorang dan reputasi atau image itu akan menjadi alasan implisit apakah seseorang mau bekerja sama dengannya atau tidak.

Dengan serangkaian simulasi komputer dan partisipasi dari berbagai orang, hasil riset Ralf yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of The National Academy of Sciences. Ia dan timnya mengungkapkan bahwa gosip ternyata lebih besar pengaruhnya dalam menilai seseorang dibandingkan observasi langsung. Orang-orang yang sudah mendengar gosip akan memiliki pandangan yang buruk terhadap sosok tertentu walaupun sosok tersebut tidak memiliki salah sedikitpun. Pengaruh buruk? Tidak selalu! Orang-orang yang berpandangan buruk akan sosok A akan berkumpul dan menciptakan suatu komunitas. Gosip ternyata terbukti mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam kerja grup bahkan mempererat tali silahturahmi.

Apakah dengan riset ini bergosip akan selalu dibenarkan? Tidak juga. Bergosip tetaplah berbohong dan memfitnah. Bergosip akan tetap merusak citra seseorang atau kita sendiri! Tetap ada konsekuensinya. Jadi kalau mau ‘jaim’,jangan bergosip.

Diambil dari www.sciencemag.com 15 Oktober 2007 (Judul asli: Listening to Rumors)

Kredit foto: Hosea Handoyo

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Hosea Handoyo
Tanggal: Minggu, 21 Oktober, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Hosea Saputro Handoyo (1985) earned his Bachelor of Life Sciences (Hons.) at HAN University of Profesional Education. Currently, he is pre-PhD program at The Sir James Black Centre, Medical Research Council - Protein Phosphorylation Unit, University of Dundee, Scotland, UK. In this lab, he is supervised by Sir Philip Cohen Besides his study/internship, he is active in many organizations related to science and social studies internationally. With big interest in biotechnology, education, and society, he aims to integrate science in society: empowering public awareness to sciences state-of-the-art and enabling scientists to engage with sociaetal aspects. As a scientist, he feels that public needs more scientific education and leaving the superstitious beliefs behind. A case that he observes in Indonesia for example, there people believe that mentally-handicapped children believed to be possessed by demons. However, as a normal citizen, he also feels that many scientists just sit behind their bench and do their experiments in the lab without informing the public. Through effective education and strategic communication, he has faith that this dillemma can be overcome. In spare time, he likes to read books, write articles, listen to music, art, theater, walk on the park, have adrink and philosophical discussion.

Tulisan Terkait:

Banner

1 Komentar untuk “Gosip Lebih Berpengaruh dari Fakta”

  1. “orang-orang memiliki tendensi untuk bergosip dengan informasi negatif akan orang-orang yang berkelas lebih tinggi atau lebih dari posisi mereka.”

    hmm…itu menjelaskan kenapa umumnya karyawan suka ngomongin atasan mereka yang buruk2..:-p

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>