Beranda > Artikel > Asimetri Informasi Sebagai Pemicu Ketimpangan Bisnis

Asimetri Informasi Sebagai Pemicu Ketimpangan Bisnis

Selasa, 30 Oktober, 2007 oleh Eko Nugroho

Asimetri bukan saja dikenal dalam ilmu matematika, tapi juga ekonomi. Kondisi asimetri informasi memicu situasi ekonomi yang timpang. Bagaimana solusinya? Bisa dikatakan Internet adalah salah satu jawabannya.
Dalam ilmu ekonomi dikenal suatu keadaan atau kondisi yang dinamakan asimetri informasi atau ketidakseimbangan informasi. Asimetri informasi ini terjadi ketika salah satu atau beberapa pihak yang terlibat dalam suatu proses transaksi memiliki informasi yang lebih baik atau lebih banyak dibandingkan dengan pihak lain yang juga terlibat dalam proses transaksi tersebut.
Setiap produsen pasti mengetahui lebih banyak atau memiliki informasi lebih baik tentang kualitas produknya dibanding konsumen. Setiap calon pekerja tentunya memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kemampuan dirinya dalam bekerja dibanding perusahaan tempat ia melamar kerja. Perusahaan asuransi kesehatan umumnya tidak memiliki pengetahuan yang memadai akan kondisi kesehatan aktual dari calon kliennya. Hal-hal tesebut di atas adalah beberapa contoh dari asimetri informasi.

Nobel Ekonomi

Kondisi ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1963 oleh Kenneth J. Arrow, seorang ahli ekonomi Amerika dan salah satu penerima hadiah Nobel 1972 untuk bidang ekonomi. Pada tahun 1970, George Akerlof, dalam artikelnya yang terkenal : “Market for Lemons”, menggunakan istilah asimetri informasi atau information asymmetry untuk menggambarkan kondisi di atas. Untuk risetnya mengenai asimetri informasi George Akerlof bersama A. M. Spence dan J. E. Stiglitz memperoleh hadiah Nobel bidang ekonomi pada tahun 2001. Semenjak saat itu, penelitian mengenai asimetri informasi berkembang semakin pesat. Pada tahun ini, hadiah Nobel bidang ekonomi diberikan kepada tiga orang: Leonid Hurwicz, Eric S. Maskin, Roger B. Myerson, untuk riset mereka mengenai mechanism design yaitu suatu subjek khusus dalam ilmu ekonomi yang membahas cara atau mekanisme untuk bisa mencapai suatu hasil yang optimal ketika asimetri informasi terjadi.

Kembali pada contoh pertama di atas, setiap produsen pasti mengetahui lebih banyak atau memiliki informasi lebih baik tentang kualitas produknya dibanding konsumen. Kita sadar bahwa pengetahuan mengenai kualitas suatu produk adalah hal yang penting. Salah satu hal yang diungkapkan oleh Akerlof dalam “Market for Lemons” adalah tanpa adanya suatu jaminan kualitas, asitmetri informasi dan perbedaan kualitas produk dapat berdampak pada hilangnya pasar produk tersebut. Untuk menghindari terjadinya hal ini kemudian kita mengenal istilah garansi atau jaminan yang diberikan oleh produsen untuk produk yang mereka hasilkan.

Garansi ini adalah satu bentuk upaya untuk memperkecil asimetri informasi, karena dengan adanya garansi ini konsumen memperoleh informasi tambahan bahwa produk tersebut telah memenuhi standar kualitas tertentu. Selain dari garansi yang diberikan oleh produsen kita juga mengenal garansi atau jaminan yang diberikan oleh lembaga-lembaga tertentu. Di Indonesia kita mengenal Badan Standarisasi Nasional, PT. Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), yang secara langsung maupun tidak langsung bertugas untuk memberikan informasi mengenai kualitas suatu produk atau jasa pada konsumen.

Contoh Kasus

Salah satu faktor penting untuk memperkecil ketidakseimbangan informasi adalah kemudahan dalam memperoleh informasi itu sendiri. Mari kita melihat kasus sederhana yang kita temui sehari-hari. Ketika kita dihadapkan pada sejumlah pilihan produk keperluan rumah tangga rutin, umumnya kita tidak mengetahui kualitas produk-produk tersebut selain dari paradigma bahwa semakin mahal harga suatu produk semakin baik kualitas yang dimiliki. Secara tidak langsung hal ini telah merugikan konsumen dan juga menghambat terciptanya persaingan usaha yang lebih sehat.

Banyak pihak semakin sadar bahwa penyampaian informasi mengenai kualitas suatu produk dan jasa sangatlah penting dan dengan adanya media internet hal tersebut bisa lebih dioptimalkan. Hanya saja kita tidak bisa memungkiri, walaupun internet berkembang cukup pesat di Indonesia, cakupannya masih sangat terbatas, sehingga masih dibutuhkan suatu institusi khusus dan media lain selain internet yang mampu memberikan informasi mengenai kualitas suatu produk secara lebih efektif.

Di Jerman terdapat suatu organisasi independen bernama Stiftung Warentest. Organisasi ini bertugas untuk melakukan penelitian mengenai kualitas suatu produk atau jasa. Setiap bulan organisasi ini menampilkan hasil penelitiannya dalam bentuk majalah. Berbagai merk produk dan jasa diteliti secara seksama kemudian diberi nilai akhir dan kriteria tertentu yang menggambarkan kualitas dari produk dan jasa tersebut. Nilai akhir tersebut berkisar antara 0.5 dan 5.5, dimana nilai 0.5-1.5 = berkualitas sangat tinggi, 1.6-2.5 = berkualitas tinggi, 2.6-3.5 = berkualitas menengah, 3.6-4.5 = berkualitas memadai dan nilai 4.6-5.5 = berkualitas rendah.

Keberadaan organisasi ini memberikan banyak keuntungan, baik bagi produsen maupun bagi konsumen. Para produsen yang produknya dinilai berkualitas baik bisa memanfaatkan hasil penelitian organisasi ini sebagai alat pemasaran, umumnya mereka menampilkan nilai akhir atau kriteria yang mereka peroleh dalam kemasan mereka. Hal ini tentunya juga sangat membantu konsumen, karena dengan ditampilkannya nilai akhir atau kriteria suatu produk, konsumen bisa dengan mudah mengetahui kualitas produk tersebut.

Keberadaan organisasi ini juga membatu proses pembelajaran bagi konsumen. Dengan adanya informasi yang memadai, konsumen bisa lebih bijaksana, baik dalam membelanjakan uang mereka maupun dalam menentukan produk mana yang baik bagi mereka dan lingkungan. Secara tidak langsung keberadaan organisasi ini juga membantu terciptanya persaingan yang sehat, karena siapapun dan dalam skala industri apapun, selama mereka mampu menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas maka mereka akan memiliki kesempatan untuk terus berkembang.

Pasar produk kebutuhan sehari-hari adalah satu contoh dimana penyampaian informasi mengenai kualitas suatu produk atau transparasi kualitas bisa memberikan efek signifikan bagi peningkatan kualitas produk tersebut juga membantu menciptakan persaingan kompetitif yang akan menghasilkan keuntungan bagi semua pihak. Saat ini, kebutuhan akan adanya transparasi kualitas dengan kata lain tuntutan untuk memperkecil asimetri informasi semakin meluas.

Akreditasi, sertifikasi, fit and proper test atau uji kelayakan, adalah beberapa istilah yang belakangan ini sangat mudah kita temukan, bukan hanya di bidang ekonomi, melainkan juga dibidang lainnya seperti politik dan pendidikan. Istilah-istilah tersebut menggambarkan kesadaran akan adanya asimetri informasi dan berbagai upaya untuk mencapai transparansi kualitas guna mencapai hasil yang lebih baik. Upaya-upaya tersebut sangat perlu dihargai dan perlu kita dukung bersama, namun seperti yang penulis coba uraikan di atas, dibutuhkan suatu organisasi yang profesional dan media pendukung yang memadai untuk bisa mencapai transparansi kualitas yang optimal.

1 Komentar untuk “Asimetri Informasi Sebagai Pemicu Ketimpangan Bisnis”

  1. Pagi,
    Saya Isnadya salah seorang mahasiswi dr perguruan tinggi swasta d jkt.Saat ini saya sedang membuat skripsi mengenai asimetri informasi. tapi saya mengalami kendala dalam penghitungannya. dapatkah anda membantu saya?

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>