Beranda > Tak Berkategori > Yaya Rukayadi:”Paten Temulawak Tetap Milik Indonesia.”

Yaya Rukayadi:”Paten Temulawak Tetap Milik Indonesia.”

Selasa, 4 September, 2007 oleh Merry Magdalena

JAKARTA, Netsains - Temulawak disulap menjadi ginsengnya Indonesia? Keajaiban sains bisa saja melakukannya. Itulah yang tengah ditekuni oleh Dr.Yaya Rukayadi. Demi mewujudkan impiannya itu, Kang Yaya, demikian ia akrab disapa, memboyong temulawak ke Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, untuk diteliti. Di sana lelaki kelahiran Sumedang 17 Agustus 1964 ini tercatat sebagai pengajar dan peneliti senior. Mengapa Kang Yaya yang hobi menulis cerpen berbahasa Sunda ini tertarik dengan temulawak? Yuk ikuti obrolan santai dengan Kang Yaya yang suka ngabodor alias melawak ini dengan Netsains.

Netsains (NS): Jika temulawak sukses menjadi andalan nasional, maka hak patennya dimiliki siapa ya Pak? Bapak sebagai penelitinya atau milik bersama dengan peneliti luar yang ikut terlibat?

Yaya Rukayadi (YR): Aduh kalau berbicara tentang paten, kita mesti ngerti dulu tentang paten itu ya, kan paten itu ada yang nasional dan ada yang internasional. Kami tidak mempatenkan temulawak di Korea karena temulawak kan milik umum , yakni Indonesia. Adapun senyawa bioaktif yang kami temukan juga sudah tidak bisa dipatenkan, karena ternyata senyawa itu sudah ditemukan oleh orang Jepang tahun 1970-an. Jadi yang kita patenkan adalah kegunaan dari senyawa bioaktif itu, itupun baru sebatas negeri Korea, bukan dunia, bukan internasional. Jadi jika ada orang Indonesia mau menggunakan senyawa aktif itu, silakan saja kami telah sepakat untuk membebaskannya. Sejauh ini patennya ditulis atas nama saya dan segenap rekan saya disini terutama bos saya. Tapi sekali lagi paten yang kami buat hanya berlaku di Korea, tidak menyangkut Indonesia, jadi jangan takut so far temulawak masih milik Indonesia. Banyak orang bicara paten, tapi sebenarnya orang tak tahu apa itu hakekat paten, itu sangat disayangkan, mestinya kalau belum mengerti ya belajar dulu apa itu paten, jangan terus ngomong paten tapi sebenarnya tidak tahu.

NS: Kenapa bapak tertarik dengan temulawak?

YR: Wah, jawabannya bisa banyak ya, diantaranya begini, di Situraja Sumedang, kampung halaman saya, tiap pagi ada orang jualan dodol koneng gede, koneng gede itu adalah bahasa Sunda-nya dari temulawak ya. Saya sangat menyukai dodol itu, enak sekali, apalagi kalau kelapanya banyak, sewaktu saya kecil, sewaktu saya tinggal di Situraja Sumedang ya sarapan pagi saya itu adalah dodol temulawak atau dodol koneng gede itu, nih saya kasih gambarnya dodol temulawak itu ya. Karena saya suka dodol koneng gede itu, jadi saya sangat tertarik dengan temulawak. Sampai sekarang saya kalau pulang ke Situraja selalu mencari dodol temulawak dan mencari tepungnya untuk dibawa ke Korea sehingga saya bisa membuat dodol temulawak di Indonesia.

Alasan yang ilmiahnya, ternyata setelah diteliti, ya kandungan senyawa bioaktif pada koneng gede atau temulawak itu ternyata banyak sekali ya, apalagi salah satu senyawa bioaktif yang saya kerjakan sekarang ini boleh dikatakan sebagai “angle compound, satu senyawa tapi punya banyak kegunaan, antikankernya ada, antibakterialnya ada, antifungalnya ada, hepatoprotektifnya ada, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu kan temulawak sudah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan. Temulawak juga kan edible ya, bisa dimakan, jadi bisa sebagai makanan, minuman, sekaligus bisa jadi obat kan.

NS: Kira-kira berapa lama lagi studi bapak sukses dan bisa komersil?

YR: Lho kan salah satu angle compound yang kami isolasi dari temulawak sudah dimasukan ke odol produksi LG Korea, ini sudah lama beredar di pasaran Korea, makanya kami mendatangkan temulawak dari Indonesia yang notabene tanaman asli Indonesia. Sebentar lagi kan produk-produk lain seperti yogurt yang mengandung temulawak, permen dan lain sebagainya akan beredar di pasaran Korea. Kalau ditanya sampai kapan saya meneliti temulawak, maunya sih selamanya, kan penelitian itu tidak pernah selesai, masih banyak aspek yang belum diketahui, ginseng saja yang sudah leading masih tetep diteliti sampai sekarang, apalagi temulawak.

NS: Di Korea menjadi warga kehormatan karena apa Kang? Dan apa privilege-nya? hehehe..

YR: Saya menjadi warga kehormatan Korea, bukan karena risetnya, karena di Korea periset handal banyak sekali, dan kalau tidak salah penghargaan itu hanya diberikan kepada mereka yang melakukan significant terhadap kota Seoul khususnya dan Korea umumnya di bidang keagamaan, sosial budaya dan olah raga. Saya selain sebagai peneliti saya juga sudah hamper 6 tahun menjadi penyiar di KBS (Korean Broadcasting System) World Radio pada acara “Ajang Jumpa Kita” subprogram “Nafas Kehidupan Korea”, sebuah program diperuntukan bagi mereka yang menggunakan bahasa Malay-Indonesia.

KBS World Radio itu semacam RRI-Indonesia, yang hebatnya program itu disirkan dalam 11 bahasa di dunia, dan salah satunya Indonesia. “Nafas Kehidupan Korea” adalah sebuah program mingguan yang memperkenalkan tentang keseharian kehidupan orang Korea serta sejumlah tempat wisata, belanja, dan acara-acara menarik lainnya di Korea (http://world.kbs.co.kr). Menurut riset bahwa program saya itu secara nyata menaikan popularitas Korea, untuk itu saya dianugerahi Honorary Citizenship, dengan berbagai hak dan kewajibannya. Kewajiban khususnya ya tidak ada ya, cuman saya banyak mendapatkan keuntungan diantaranya saya bebas masuk objek wisata di Seoul, diundang keberbagai acara resmi, nanti kalau sudah tua diatas 65 tahun saya punya hak seperti orang Korea, dan lain sebagainya (http://english.seoul.go.kr/today/news/city/1244459_3326.html).

NS: .Kapan mau kembali ke Indonesia Kang?

YR: Kapan mau kembali ke Indonesia? Hampir tiap 3 bulan saya bolak-balik ke Indonesia untuk berbagai urusan terutama riset. Kalau menetap kembali di Indonesia kapan ya? Maunya punya lab dan kebun koleksi tanaman obat sendiri, sehingga bisa mengembangkan apa yang ada dalam pikiran ini. Tapi untuk membangun itu, tentu saja perlu uang, nah tabungan saya masih belum cukup untuk itu. Sementara ini belum ada rencana kembali dan menetap di Indonesia, tapi kan manusia hanya berencana, Allah yang menentukan, jadi kalau tiba-tiba Kang Yaya berada di Indonesia, itu suatu perjalanan skenario hidup yang harus dijalani, yang penting “try to do my best” dimana saja berada.

NS: Selain temulawak, ada tanaman lain yang sedang bapak teliti?

YR:Banyak ya khususnya tanaman obat Indonesia, bahkan sekarang kami sudah mengembangkan sayap ke tanaman obat Thailand, yang sedang saya fokuskan saat ini adalah temu kunci, pala, dan vanilla.

NS: Banyak spesies tanaman Indonesia yang belum tergali manfaatnya, justru sebagian patennya sudah dimiliki asing, bagaimana komentar bapak tentang itu?

YR: Ini tantangan bagi kita bangsa Indonesia, dan perlu kerja keras serat kerjasama antar instasi yang kokoh dan solid. Kita harus segera melakukan riset tentang barang kita, lalu publikasikan secara internasional bahwa kita juga sedang mengerjakannya. Tanpa publikasi internasional mana bisa kita dikenal orang dan mana bisa orang tahu bahwa sedang bekerja dengan tanaman tertentu.

Saya yakin lembaga riset Indonesia yang terkait sedang melakukan penelitian temulawak misalnya, tapi mana buktinya? Publikasi internasional itulah bukti nyata, tapi mana dari Indonesia, ada sih tapi jumlahnya sangat minim. Tapi di lab tempat saya bekerja, publikasi ilmiah temulawak bertarap internasional sudah sangat banyak, sehingga orang tahu bahwa di lab kita sedang berlangsung penelitian temulawak. Terus terang saya harus mengatakan bahwa ilmuan Indonesia masih minim melakukan publikasi internasional, sangat-sangat kurang, sayapun mungkin kalau tinggal di Indonesia belum tentu punya banyak publikasi internasional mengingat kondisi yang tidak saling mendukung.

Tentang paten sudah saya singgung diatas kan, tapi yang jelas kalau kita mengajukan paten misalnya di Korea, semuanya sudah jelas, sudah “puguh” jalur dan tahapan serta “guide line”- nya itu, dan sudah disosialisasikan pada masyarakat dengan akses yang sangat mudah. Tidak bertele-tele dan biayanya sudah jelas misalnya 300 dollar per paten, dan dalam jangka waktu setelat-telatnya 3 bulan pasti sudah ada putusan, sudah jelas nasib paten yang kita usulkan itu. Nah bagaimana di Indonesia hal ini apakah sudah segalanya jelas dan mudah? Saya tidak tahu. Kalau orang Indonesia ingin punya banyak paten ya lembaga yang mengurus patennya juga harus dibereskan supaya kerjanya jelas, efisien dan mudah. Di Korea juga ahli-ahli hukum khusus bidang paten (patent lawyer) sudah sangat banyak, bagaimana di Indonesia? Saya tidak tahu.

NS: Apakah bapak optimis dengan kondisi perkembangan sains di Indonesia?

YR: Optimis? Wah kalau bicara optimal pasti ada kondisi yang harus dicapai ya. Misalnya suatu enzim akan memberikan aktivitas optimum asalkan suhunya sekian, pH-nya sekian dengan waktu inkubasi sekian. Nah riset juga gitu, kalau kondisinya dirubah kearah yang kondusif saya yakin bisa, bahkan bisa lebih hebat toh Indonesia punya banyak scientist yang handal. Bukan saja sarana dan prasarana risetnya yang mesti dikondisikan juga hal-hal lainnya, misalnya kenaikan pangkat.

Ini dulu ya saat saya masih di Indonesia, koq banyak sekali orang menjadi professor tanpa publikasi internasional, ini kan aneh, atau banyak sekali orang yang menjadi APU (ahli peneliti utama) tanpa satupun publikasi internasional, heran kan? Karena memang tak disyaratkan barang kali ya? Tapi coba kalau disyaratkan minimal mesti punya 3 publikasi internasional pasti para peneliti dan dosen itu akan berlomba untuk publikasi internasional. Di Korea, kualitas dosen dan peneliti itu ditentukan oleh berapa banyak dan nilai publikasi internasional.

Yang lebih menyedihkan ada beberapa orang yang bekerja sudah cukup lama di lembaga riset Negara yang terkenal, tapi tidak mengerti apa itu impact factor (IF), padahal pangkat dia naik terus, bagaimana ini ? Masa seorang peneliti tidak mengerti IF sebuah jurnal internasional, salah satunya karena yang bersangkutan tidak pernah publikasi internasional yang ujung-ujungnya karena untuk kenaikan pangkat tak ditentukan dengan publikasi internasional, sedih dan prihatin kan kalau seorang peneliti negeri tidak mengerti apa yang harusnya dimengerti!

Kredit foto: Dokumen pribadi

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>