Shinta “Bubu” Dhanuwardoyo: “Batik Indonesia Terbaik di Dunia”
JAKARTA, Netsains - Nama Shinta Dhanuwardoyo identik dengan Bubu Awards. Jika orang ditanya, “Shinta mana?” Dijawablah, “Shinta Bubu,”. Tak heran, memang perempuan lulusan Master of Business Administration International Business di Portland State University, Oregon USA ini lebih dikenal dalam sepak terjangnya di dunia desain web. Padahal ada hobi lain yang tergolong unik, yakni mengoleksi dan mengulas tuntas seluk beluk batik. Kenapa perempuan langsing ini bisa jatuh hati pada batik? Inilah obrolan ringannya dengan Netsains.
Netsains (NS): Sejak kapan menyukai batik?
Shinta Dhanuwardoyo (SD): Saya mulai mengkoleksi batik sejak 12 tahun yang lalu karena waktu itu saya sudah mulai kerja dan ada sedikit uang disisihkan . Tetapi sebetulnya saya kenal batik sejak saya kecil. Saya ingat almarhum eyang putri saya dari bapak saya koleksi batik banyak sekali di dalam lemari, di wiron dan digulung dengan rapi. Aroma dari batik itu jika lemarinya di buka mempunyai kenangan tersendiri untuk saya. Beliau sering menggunakan kain dan kebaya untuk acara-acara tertentu. Saya juga ingat sekali bahkan di tempat tidur eyang saya di alasi dengan kain batik yang halus dan dingin.
NS: Apa yang membuat kamu suka? Desainnya atau keantikannya atau karena terpengaruh kebiasaan keluarga?
SD:Menurut saya batik yang terbaik yang pernah di buat di dunia adalah batik Indonesia. Saya adalah orang yang sangat appreciate akan heritage dan art. Batik mempunyai unsur semua itu. Orang Indonesialah yang mempunyai kesabaran untuk membatik berbulan bulan dan menghasilkan mahakarya yang indah dan halus. Saya belum lihat negara lain melakukan hal yang sama.
NS: Kesukaan itu ditunjukkan dengan mengoleksi atau juga hingga mempelajari seluk beluk batik? Misalnya jenis-jenis batik dan asal muasalnya?
SD: Saya mengkoleksi dan juga coba mempelajari secara otodidak melalui buku2 batilk yang ada dan juga belajar dari orang yang lebih jago. Saya tertarik dengan batik dari segala daerah dan coba melihat keunikan masing2. Saya juga mengkoleksi batik batik antik yang sudah berpuluhan tahun dan beberapa ada yang seratus tahun umurnya. >
NS: Kini membuat desain bati sudah bisa menggunakan komputer. Menurut kamu, apakah itu lebih baik atau justru mengurangi nilai seni batik itu sendiri?
SD: Ada berbagai macam cari mendesain batik, komputer adalah satunya dan di gunakan untuk memudahkan pengerjaan. Jadi kalo mau bicara mass production, komputer is the way to go. Untuk berbicara seni murni saya rasa ya nilainya lebih tinggi jika batik di desain dengan tangan.
NS: Dikaitkan dengan bidang kamu yakni web design, adakah keinginan untuk membuat desain web yang “berbau” batik? Desain tersebut bisa dijadikan template dan dapat digunakan siapa saja yang berminat.
SD: Saat ini saya mempunyai blog mengenai hobi saya yang berhubungan dengan seni, budaya dan batik. Dan desain dari blog ini memang bernuansa batik. Tetapi saya belum membuat sebuah template web yang bernuansa batik yang bisa di pasarkan. That’s a good idea…hehehe, coba nanti kita kembangkan.
NS: Menurut kamu, apakah batik bisa jadi industri yang maju dibantu oleh IT? Misalnya komersialisasi batik melalui web dan dijual secara online?
SD: Yang pastinya melakukan edukasi mengenai batik bisa sekali di lakukan melalui online. Contohnya melalui website dan blog. Yang pasti audiencenya juga mencakup dunia. Di blog saya www.batikantik.com, salah satu misi saya adalah untuk memperkenalkan batik Indonesia yang antik maupun yang baru. Saya coba memberi edukasi bagaimana batik Indonesia itu sangat versatile bisa di pakai oleh siapa saja dan di berbagai macam ocassion. Karena blog ini masih baru tapi ke depannya saya akan sharing beberapa koleksi batik-batik saya (antik maupun baru) dan saya akan jelaskan dari sisi desain dan asal muasal. Berjualan batik online sudah ada di benak saya tapi belum sempat dijalankan, yang menjadi goal utama saya adalah melakukan edukasi dulu, jika orang sudah tertarik baru saya akan menjalakan e-commerce.
NS: Apakah sudah ada yang menjalankan e-commerce batik itu?
SD: Saya rasa ada, tapi belum ada yang melakukan secara professional dan mempunyai web yang termaintain dengan baik.
NS: Batik dan IT adalah dua hal yang sangat berbeda. Satu adalah karya seni, satu lagi teknologi. Namun menggabungkan antara keduanya pasti mengasyikan sekali. Adakah terbersit di benak kamu akan hal itu? Menggabungkan batik dan IT?
SD: Ya pastinya why not, jika IT dapat memajukan keberadaan Batik Indonesia kenapa tidak. Banyak cara untuk menggabungkan BATIK dan IT, dan salah satunya sudah di bahas tadi yaitu mendesain batik dengan komputer.
NS: Apa kesibukan kamu saat ini?
SD:Saya sibuk mengurus Bubu.com, perusahaan web development dan media interactive company yang sudah saya rintis sejak 11 tahun yang lalu. Juga sejak tiga tahun yang lalu saya mengurus Bubu Chikka, perusahaan saya yang bergerak di Mobile apllications dan content provider. Kita juga telah melaunch satu situs untuk jual beli dan lelang namanya www.lalulelang.com, situs ini layaknya seperti ebay.com tapi bedanya kita juga bermain di mobile. Jadi pengguna yang tidak bisa di depan PC, dapat mengikuti lelang dll melauli hp mereka masing- masing.
NS: Selain batik, bidang apa lagi yang kamu sukai?
SD: Hobi saya juga mengkoleksi perhiasaan dan aksesoris antik dari Indonesia dan manca negara. Saya mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap karya anak bangsa dan juga saya sangat sentimentil dengan nilai historis dari sesuatu benda. Saya sangat senang sekali juga kepada barang kerajinan tangan Indonesia yang punya kualitas tinggi dan desain yang unik dan menarik. Kadang-kadang saya turut membantu para pengrajin untuk memberi masukan bagaimana bisa meningkatan kwalitas dan desain dari karya mereka.
NS: Ada anggapan umum yang mengatakan bahwa perempuan kurang dominan di dunia teknologi. Bahkan ada yang menganggap bahwa mayoritas perempuan itu gaptek. Apa komentar kamu tentang hal ini?
SD: Hmmm, di liat dari sudut mana ya? Kalo di lihat di kota-kota besar banyak kok perempuan sudah sangat IT minded dan tidak gaptek. Contohnya Merry sendiri. Dimulai dari penggunaan handphone yang canggih dan mereka sudah dapat surfing di internet. Jika kita melihat perempuan di pedesaan ya mungkin, karena memang kegunaan dari IT sendiri belum terlalu penting dan mungkin tidak menjadi sebuah prioritas. Jika sepertinya dunia IT di dominasi oleh kaum pria, karena awalnya stereotyping bahwa IT itu adalah dunianya pria. Tapi saya banyak melihat perubahan itu sekarang, di dunia maupun di Indonesia sendiri, sudah banyak perusahaan teknologi yang blue chip yang mempunyai pemimpin perempuan, contohnya our very own ibu Betti Alisjahbana of IBM.














saya mau tanya kominitas disain perhiasaan di internet dimana ya? thx
Saya… boleh dibilang mencintai batik, dan saya ingin sekali bisa belajar membatik. Dan saya senang sekali ternyata ada juga tulsan yang selama ini saya cari-cari: BATIK INDONESIA TERBAIK di DUNIA!!! Ya… di dunia, sebetulnya kepengen sich saya yang bisa menyandang Terbaik di Dunia dengan batiknya he…he… Karena untuk menjadi yang TERBAIK dan sampai pada TINGKAT DUNIA bukanlah hal yang sangat mudah. Saya mengenalkan batik pada lingkungan dekat saja… kadang memendam emosi.
Tipsnya apa sich…, kiat-kiat apa yang membuat anda bisa sangat sesukses ini. Sementara saat ini juga saya berbisnis batik walau masih kecil-kecilan. Saya mengambil batik sebagai ladang bisnis, karena saya senang, hobi, dan cinta akan batik jadi saya senang menjalaninya, dengan harapan batik akan dicintai oleh masyarakatnya, karena pemesan batik terbanyak adalah orang dari luar.
Saya nantikan tanggapannya dan saya sangat berterimakasih sekali, akan sangat membantu meningkatkan motivasi saya.
Alamat email saya: arsyback@gmail.com
waaahhhh…….. dari pendidikan yang ditempuh…….. panteeeeeeeeeeeees…. webnya nendang… sekarang saya sedang belajar membuat web juga, walau tidak menempuh pendidikan seperti anda, bisa nggak ya… web saya bisa sebagus web anda…????!!! Yang pasti web yang bisa menarik banyak pengunjung….