Pernah mendengar atau mengalami bertransaksi di pasar modal, saham, index, atau forex dan sejenisnya? Tentu anda pernah mendengar adanya indikator pergerakan pasar. Atau jika anda belum pernah mengalaminya, pada artikel ini akan saya coba bahas mengenai beberapa strategi trading berdasarkan perhitungan matematika.
Berbeda dengan strategi trading klasik yang menganalisa kapital dari pergerakan harga dan analisa fundamental untuk menghasilkan prakiraan kecenderungan harga pasar. Strategi trading matematik lebih pada menganalisa data yang telah lewat untuk menunjukkan indikator arah pergerakan harga pasar dan manajemen resiko.
Strategi trading matematik dapat dipecah menjadi dua metode; metode untuk menghasilkan indikator pergerakan pasar, dan perhitungan manajemen resiko sesuai tingkat kekuatan modal terhadap pergerakan pasar.
Matematika dan Strategi Teknikal
Strategi dan analisa indikator yang paling mudah, popular dan tetap dijadikan acuan sebagian besar trader di dunia adalah Moving Average.

Moving Average adalah rata-rata harga dari beberapa data pergerakan harga yang sudah lalu. Sebagai contoh, jika anda ingin mengetahui rata harga dalam 29 hari yang lalu. Anda tinggal menjumlahkan harga (pembukaan, penutupan, atau rata-rata perhari) dan membaginya 29.
Setiap hari, data ini tentu akan berubah dikarenakan pada setiap akhir hari ke-30 maka hari ke-1 akan tergantikan dengan hari ke-2 dan bergeser seterusnya seperti itu.
Teori dibalik penggunaan analisa Moving Average 29 adalah jika harga bergerak di atas Moving Average, itu berarti harga cenderung tidak akan jatuh di bawah harga terendah dalam 29 hari yang lalu. Jika harga mulai jatuh di bawah Moving Average, itu menunjukkan kekuatan harga pasar mulai berbalik arah.
Moving Average tidak hanya menunjukkan kepada anda kecenderungan harga pasar, namun juga kuantitas resiko sehingga moving average merupakan indikator teknikal yang sangat objektif dan matematis.
Pada artikel berikutnya, akan saya bahas mengenai matematika di balik trading strategi lainnya. So, jangan lewatkan artikel berikutnya!



Halo mas Syariful…
Menurut aku , pensettingan atas suatu angka dalam trading menjadikannya subyektif. Metode curve fitting tidak menyelesaikan masalah. dinamika market terlalu besar. harus ada metodologi dimana angka MA akan tersetting secara objektif dari apapun jenis marketnya dan menjadi harmoni dengan market itu sendiri.
jadi setiap market-finansial instrumen- memiliki MA yang berbeda2 tergantung pergerakan dari marketnya itu sendiri
ketidak tepatan angka MA akan menghasilkan noise signal yang terjadi diluar ritme market itu sendiri
dari mana Mas menemukan angka 29 itu?
Menurut aku, metodologi trading dengan MA harus berpijak dari paham cycle time market, dimana market dipercaya (yang percaya ini aliran trend follwing) akan membentuk suatu siklus dalam waktu tertentu dan kalibrasi harus selalu dilakukan, sesuai harmonisasi market itu sendiri.
Pertanyaannya siklusnya siklus apa ?
siklus waktu dimana pergerakan market itu membentuk titik puncak ke titik puncak lainnya, atau dapat juga titik terendah dengan titik terndah yang lainnya.
Persis dengan siklus menstruasi seorang wanita, bisa 32, 28, dsb. dimana wanita tersebut punya trendnya sendiri mengenai siklus menstruasinya dalam setiap bulannya. dan trading ibarat melakukan program KB dengan sistem kalender
Salam
artikel bagus pak tolong publish yang lain lagi, dan banyak
bisakah dibuktikan dgn time frame berapa MA29 sesuai teori yg ada, trims