Indikator Trend-Following dan Countertrend (Matematika Di Balik Strategi Trading II)
Sekitar 70% dari kisaran harga pasar bergerak dalam rentang harga yang tetap atau lebih dikenal dengan istilah sidways/range-bound. Sehingga bisa diartikan bahwa hanya 30%-nya yang bergerak sesuai trend atau trending.
Dalam istilah statistik, pasar-pasar komoditas dan keuangan disebut leptokurtic – dimana harga bergerak pada kisaran harga dasar (harga utama). Lalu mengapa kita banyak menjumpai analis-analis teknikal dan system trading mekanik/automatic dibuat untuk mengidentifikasi trend? Ketika harga keluar dari kisaran harga dasar, maka harga mulai menunjukkan trend. Dan dalam jargon trading itu dikenal dengan istilah fat tails, jika harga sudah menunjukkan trending itu berarti pasar menawarkan resiko rendah dan kesempatan keuntungan besar. Sehingga bagi trader yang mengikuti pola trend-following, bertransaksi pada saat-saat seperti ini biasanya bisa mengoptimalkan keuntungan dengan memperkecil resiko kerugian. Perhatikan ilustrasi transaksi yang diambil dengan startegi trend-following berikut ini.

Pada gambar di atas, dapat dilihat bagaimana mengambil posisi BUY dan SELL pada pair GBP/USD dalam pasar mata uang dengan hanya menggunakan Moving Average 29 pada periode chart harian.
Variasi populer lainnya dari indikator matematis moving average ini adalah two-moving average crossover system.

Masuk posisi BUY saat Moving Average periode pendek (5 hari) memotong ke atas Moving Average periode panjang (29 hari). Dan masuk posisi SELL saat Moving Average periode pendek (5 hari) memotong ke bawah Moving Average periode panjang (29 hari). Kapanpun MA 5 memotong ke atas atau ke bawah MA 29, disanalah posisi BUY dan SELL dilakukan.
Sebagai indikator kontra posisi dari indikator trend-following seperti twomoving average crossover, indikator-indikator countertrend matematis seperti Relative Strength Index (RSI) menunjukkan tendensi kapitalisasi berbaliknya kecenderungan harga.

Pada tahun 1978, J. Welles Wilder; yang banyak merumuskan banyak indikator teknikal matematis, membuat indikator RSI. Indikator RSI mengindikasikan apakah harga pasar sudah overbought atau oversold. Kekuatan pasar diukur dengan menggunakan rumus berikut:
dimana: RS = Rata-rata dari x hari saat harga tutup pasar naik (UP) atau rata-rata dari x hari saat harga tutup pasar turun (DOWN). Biasanya digunakan periode (x) 14 pada chart harian atau mingguan untuk menghitung RSI. Untuk menentukan rata-rata nilai UP, kita menjumlahkan point total dari setiap hari yang tutup naik dan dibagi dengan 14. Untuk menentukan rata-rata nilai DOWN, kita menjumlahkan point total dari setiap hari yang tutup turun dan dibagi dengan 14.
Sebagian besar trader mendefinisikan sebuah pasar telah mengalami overbought saat RSI tutup di atas 70 dan oversold saat RSI tutup di bawah 30.
Penggunaan RSI sendiri bisa dikombinasikan dengan indikator Trend-Following sebagai sinyal masuk dan keluar posisi di pasar.
Jika posisi trend menunjuk BUY dan RSI menunjukkan oversold, maka ambil posisi BUY. Keluar jika RSI menunjukkan overbought. Demikian pula sebaliknya.
Chart Source: MetaTrader













Beri Komentar