Beranda > Artikel > Chris Lie,Ilustrator GI Joe: “Industri Komik Indonesia Tidak Mendukung”

Chris Lie,Ilustrator GI Joe: “Industri Komik Indonesia Tidak Mendukung”

Rabu, 26 September, 2007 oleh Merry Magdalena

JAKARTA, Netsains - Pehobi komik pasti tak asing dengan tokoh GI Joe, Return to Labirynth atau Ninja Tales. Ya, itu adalah serial komik yang diproduksi di luar negeri. Namun penggambarnya adalah orang Indonesia. Salah satunya adalah Chris Lie, alumni Arsitektur ITB melanjutkan ke Fulbright scholar pada2003-2007 dan Savannah College of Art and Design (MFA in Sequential Art; Excelsus Laureate-2006).

Mengapa Chris lebih suka bekerja bagi industri komik luar? Bagaimana tanggapannya mengenai komik Indonesia? Berikut obrolan eksklusifnya dengan Netsains.

Netsains (NS) :Apa kegiatan sekarang? Masih terlibat dalam project komik di LN? Komik apa saja? Terlibat sebagai apa? Ilustrator atau lainnya?
Chris Lie (CL): Sesuai dengan profesi saya sebagai komikus, kegiatan saya setiap hari adalah menggambar dan memanage beberapa proyek komik. Kebanyakan proyek yang saya kerjakan terbit di luar negeri, baik dalam bentuk komik, action figures (mainan), game card, ataupun PC game. Untuk komik antara lain serial Return to Labyrinth (Tokyopop), Drafted series (Devil’s Due), dan beberapa cover untuk komik GI Joe. Sedangkan untuk toys dan game, saya bekerja sebagai concept designer, kebanyakan untuk perusahaan mainan Hasbro.

NS:. Apakah banyak orang Indonesia yang ikut dalam project komik di LN?
CL: Setahu saya sudah lumayan banyak, terutama di bidang pewarnaan komik.

Return of Labyrinth, Tokyopop. Salah satu karya Chris.

NS: Sejak kapan menyukai bidang ini? Diawali dari hobi atau memang sejak dulu ingin berkarir di bidang komik dan ilustrasi?
CL: Cita-cita saya ingin menjadi astronot, tetapi ketika SMA saya baru sadar bahwa sekolahnya tidak ada di Indonesia. Kemudian saya ingin menjadi pelukis, tetapi kurang direstui. jadilah saya mengambil jurusan Arsitektur di ITB. Ketika kuliah, saya mulai mengenal dunia komik dari teman-teman kuliah. Keingintahuan saya berubah menjadi tekad saya untuk “bisa hidup” dari membuat komik, tidak hanya membuat komik sebagai hobi, tetapi sebagai profesi. Ternyata tidaklah mudah melakukan hal tersebut di Indonesia, butuh 8 tahun untuk bisa mencapai apa yang saya impikan ini.

GI Joe, Hasbro. Karya lain Chris.

NS: Menurut kamu, kenapa ya industri komik dalam negeri kita ngga bisa maju? Masalah bakat, manajemen, atau ekonomi?
CL: Dilihat dari sisi komikusnya sendiri, hanya segelintir yang bisa menghasilkan karya yang berkualitas. Namun harus dipahami bahwa miskinnya jumlah komikus di Indonesia juga karena iklim industrinya yang tidak mendukung. Profesi komikus tidak bisa hidup layak di Indonesia. Sehingga tidak bisa disalahkan apabila mereka yang awalnya tertarik menjadi komikus terpaksa banting setir menjalani profesi lain yang bisa menghidupi keluarga.

Akibat soal kualitas, penerbit kurang berminat menerbitkan komik lokal. Di lain pihak penerbit besar juga tidak mau berkorban untuk membiayai komikus menghasilkan karya yang baik dan mempromosikan secara maksimal. Hal ini pun bisa dimaklumi karena sebagai pengusaha, penerbit harus bisa menghasilkan keuntungan, sementara komik Indonesia kurang laku.

Dengan minimnya jumlah komik Indonesia yang beredar di toko buku, pembaca tidak tahu dengan keberadaan komik Indonesia. Kita tidak bisa menyalahkan pembaca yang punya hak untuk memilih komik mana yang bagus menurut selera mereka.

Kesimpulan saya, ini adalah merupakan lingkaran setan. Harus ada usaha dan kesadaran bersama antara penerbit, komikus, pembaca, plus ada dukungan dana dan kebijakan dari pemerintah supaya komik Indonesia punya peluang untuk bangkit dan bertarung dengan komik luar. Istilahnya harus ada bantuan dari pemerintah.

NS: Sains dan teknologi di Indonesia kan masih kurang popular, jika ada pengenalan sains dan teknologi melalui komik, menurut kamu bagaimana? Apakah akan efektif?
Menurut saya, komik adalah salah satu media informasi dan pembelajaran yang efektif, tetapi tetaplah harus didukung oleh media yang lain. Saya mengetahui bahwa banyak LSM yang telah menggunakan komik sebagai media penyuluhan mereka ke daerah-daerah. Dengan bertambah maraknya LSM menggunakan komik dalam waktu 10 tahun terakhir ini, kemungkinan besar keefektifan komik sudah terbukti.

NS: Siapa komikus idola kamu?
Tidak jauh-jauh, komikus filipina bernama Leinil Yu.

NS: Apa kamu ada obsesi bikin karakter komik sendiri? Kalau ya, yang seperti apa?
CL: Obsesi tentu saja ada dan terus bertambah tiap hari. Sebagian sudah terealisasi, sebagian belum. Komik terbaru saya Drafted yang mulai bulan ini terbit bulanan di Amerika, adalah hasil kolaborasi saya dengan mantan editor X-Men, Mark Powers.

6 Komentar untuk “Chris Lie,Ilustrator GI Joe: “Industri Komik Indonesia Tidak Mendukung””

  1. beginilah kondisi industri komik indonesia, saling tunggu, malas berjuang, seharusnya kita perjuangkan perindustrian komik indonesia, jangan tunggu orang bergerak, memang bayaran di luar negri lebih besar.

  2. Ambisiku menciptakan sebuah cergam yg menggambarkan tanah airku dengan segala kekayaannya, tetapi sekarang masih tahap belajar. Mungkin setelah lulus kuliah nanti ingin mengumpulkan teman-teman yang seideologi dan sehati dengan saya, yakni menyukai dan cinta budaya Indonesia. Jangan sampai nanti budaya kita yang kaya ini, dibeli atau diakui oleh orang-orang kapitalisme yang berkarya hanya untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya… MERDEKA

  3. Tunggu di 2009 akan ada komik Indonesia dengan sentuhan profesionalisme ;)

  4. Benar, kita selalu saling tunggu untuk bergerak, cinta kita sama komik indonesia hanya bisa kita buktikan dengan perbuatan, meski berbuah caci maki….bukan dengan sikap ragu-ragu.

  5. apa nama freeware pembuat komik……ksi tau donk please

  6. Coba Comiclife kerens tuh…

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>