Terry Mart: “WWW itu Penemuan Sampingan Fisika.”
JAKARTA, Netsains - Walau namanya berbau “bule”, Terry Mart Indonesia tulen. Fisikawan dan pengajar di Universitas Indonesia ini sempat menyandang Habibie Award 2001. Bidang yang ditekuninya lebih bersifat teoritis daripada terapan. Kenapa ia tidak berharap dapat Nobel? Kenapa Internet dikatakan hanya temuan sampingan dari fisika? Ikuti orbrolan lelaki yang berulangtahun pada 3 Maret ini dengan Netsains.
Netsains (NS) Apa yang membuat Pak Terry tertarik dengan fisika? Sejak kapan meminatinya?
Terry Mart (TM):Saya tertarik dengan fisika sebenarnya sejak SMP. Tapi tidak seantusias waktu saya di kelas satu SMU. Waktu itu kan di kelas 1 ada yang namany penjurusan IPA dan IPS.Kayaknya IPA itu benar-benar menantang dan “singa”nya di IPA itu adalah Fisika dan Matematika. Sejak itu saya mulai tekun di kedua bidang ini meskipun bisa dikatakan tidak tahu apakah ada karir atau masa depan d situ.
NS: Banyak aplikasi fisikawan Indonesia yang pastinya bagus-bagus, namun sayang terendap saja di lemari perpusatakaan. Menurut bapak, kenapa itu bisa terjadi? Memang ilmunya yang kurang membumi atau kalangan industri dan publiknya yang sulit mencerna?
TM:Mungkin ini maksudnya banyak hasil penelitian fisikawan yang bagus-bagus namun hanya berakhir di lemari perpustakaan. Menurut saya begini. Sains dan teknologi (enjiniring tepatnya) itu merupakan dua hal yang berbeda dengan batas yang tidak terlalu jelas dan kadang berubah. Namun perbedaan keduanya adalah: yang dicari sains adalah “discovery” sedangkan yang dicari teknologi adalah “rekayasa”. Yang eharusnya langsung berinteraksi dengan industri adalah rekayasa. “Discovery” berinteraksi dengan rekayasa dan pemikiran masyarakat. Nah fisika itu sains, kecuali fisika teknik.
Penemuan Einstein yang menghebohkan selama seratus tahun tetap berakhir di perpustakaan dan pemikiran, tidak pernah masuk industri. Beberapa penemuan “sampingan” bisa dirasakan oleh masyarakat. Misalnya WWW yang sekarang kita kenal sebagai Internet pertamakali ditemukan di CERN, laboratorium fisika partikel di Geneva, Swiss. Namun WWW bukan tujuan utama riset di CERN. Penemuan WWW dipicu oleh kebutuhan kolaborasi fisikawan partikel dari berbagai negara di Eropa untuk melihat reaksi partikel mereka secara real-time dari negara mereka masing-masing.
Sekitar 7 tahun yang lalu, ketika saya kembali ke Jerman untuk research stay, saya melihat grup fisika atom, tempat saya dulu kuliah fisika eksperimen di Universitas Mainz, memperoleh penghargaan “masa depan Jerman”, untuk penemuan mereka mencitrakan paru-paru manusia 3 dimensi, berwarna, real-time, dengan menggunakan interaksi spin Helium-3. Grup tersebut selama puluhan tahun kerjanya mempolarisasi Helium dan mereka sangat ekspert di bidang tersebut.
Mereka diberi dana besar puluhan tahun hanya untuk mempolarisasi spin Helium, hingga mereka menjadi “jagonya” polarisasi sedunia. Hasilnya selama puluhan tahun adalah paper di perpustakaan! Baru pada tahun 2000 terpikir bahwa gas Helium tidak berbahaya jika dihirup, dan dengan detektor yang biasa mereka gunakan, mereka masih bisa mendeteksi polarisasinya meski Helium sudah berada di paru-paru. Muncullah ide “spin imaging’ seperti yang ada pada MRI, dan sebagainya.
Di Indonesia, problemnya kita belum punya kepakaran apa-apa yang sehebat, misalnya, orang Mainz tersebut. Kita mayoritas jago kandang dalam bidang kita masing-masing. Dan kita diharuskan riset yang langsung menghasilkan sesuatu yang dapat dipakai industri. Menurut saya ini hanyalah fatamorgana.
Terbukti bahwa hasil riset kita sangat sedikit. Kalau pun dipaksakan toh hasilnya
hanyalah ecek-ecek. [Lihat artikel saya: Iptek Indonesia di Titik Nadir, Tanggung Jawab Siapa? (Kompas Senin 8 Mei 2006)]
NS: Generasi muda kita sesungguhnya juga banyak yang jago fisika. Indonesia jadi langganan juara Olimpiade Fisika dunia. Tapi selalu jadi pertanyaan, kenapa bidang sains dan teknologi kita masih tertinggal?
TM: Masalahnya itu terdapat pada sistem dan budaya masyarakat kita yang senang seremonial, budaya amtenaar, tidak mau melihat yang essensial, TBTC (terlalu banyak dan terlalu cepat) keinginannya, dll. Budaya ini merambah dan terefleksi hingga kemana-mana, pun hingga ke pemerintahan, sekolah, universitas, dan lain-lain. Saya percaya statistik. Prosentase manusia jenius yang lahir di Indonesia, Cina, Amerika, Eropa, sama saja. Jika dibina, tentu saja kita sejajar dengan bangsa lain. Masalahnya kita baru membina hingga tingkat olimpiade SMA, belum sampai “olimpiade sebenarnya” yaitu riset! [Lihat tulisan saya yang berjudul: "Inilah Olimpiade Fisika Sebenarnya!" (Kompas Jum'at 1 Oktober 2004)]
NS: Apa iya fisikawan dan ilmuwan eksak lain yang hebat-hebat di Indonesia hanya berpotensi menjadi dosen pengajar atau ilmuwan lab saja, belum mampu mengkomersilkan hasil temuannya?
TM:Mengkomersialkan hasil temuan tentu saja setiap orang mau. Tapi kalau pertanyaannya dibalik: apa kita yakin kita ini hebat-hebat? Kok dalam segala hal (pun dalam hal moral) kita kalah dengan bangsa lain! Di sini saya skeptis.
NS:Apa obsesi Pak Terry sebagai fisikawan di Indonesia?
TM: Saya memiliki obsesi untuk dapat terus riset di bidang saya hingga saya pensiun. Tampaknya saya sudah mencapai “point of no return”, hanya ini yang bisa saya kerjakan. Saya tidak berbakat jadi birokrat, pengusaha, seniman, pemain sinetron, tokoh masyarakat, dan lain-lain.
NS: Masih sedikit fisikawan yang mau menulis di media massa, kalaupun ada jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Pak Terry dan Yohanes Surya termasuk dari yang sedikit itu. Apa yang memotivasi Pak Terry menulis di media massa? Ingin sharing ilmu atau bagaimana? Bukankah lebih membanggakan kalau tulisannya dimuat di jurnal ilmiah internasional?
TM: Memang sangat disayangkan. Butuh kerja keras juga untuk mempopulerkan topik-topik riset yang biasanya hanya bisa dimengerti oleh orang sebidang. Sekitar empat tulisan populer saya ditolak Kompas tahun ini!
Anda bisa lihat di homepage saya tidak ada tulisan populer di media massa untuk tahun 2007. Saya pun mulai malas menulis. Saya yakin banyak penulis pemula yang mengalamai hal seperti ini. Nah, tampaknya hal ini juga tergantung pada kebijakan media massa kita. Jika media massa kita mau memberi kesempatan luas bagi para ilmuwan saya yakin akan banyak ilmuwan yang menulis.
NS: Adakah aplikasi fisika yang kini sedang Bapak kembangkan? Kalau ya, apakah itu?
TM:Penelitian saya adalah penelitian teoretis. Eksperimennya dikerjakan di akselerator-akselerator di Jerman, Jepang dan Amerika. Kami mencoba mencari tahu sifat-sifat partikel, atau mencari partikel baru (seperti pentaquark yang menghebohkan beberapa tahun silam). Di samping itu kami juga “melirik” bintang netron, bintang tua yang sudah redup namun belum runtuh karena adanya larangan Pauli. Aplikasinya kita serahkan ke peneliti applied physics. Saya juga mencoba ekonofisika, namun saya agak skeptis untuk yang terakhir ini.
NS: Masih bercita-cita ingin meraih Nobel kah?
TM: Saya kira saya tidak akan pernah dapat Nobel, karena bidang yang saya tekuni bukanlah bidang-bidang frontier. Kalau mau bicara secara statistik, maka peluang saya untuk TIDAK DAPAT NOBEL adalah 99,99999999999999999% dengan sisanya 0,0000000000000001% hanyalah statistical fluctuation. Oleh sebab itu saya tidak pernah bercita-cita untuk dapat hadiah Nobel.











Beri Komentar