Beranda > Artikel > Prof.Andrianto Handojo: “Ilmiah Populer itu Sulit Tapi Perlu”

Prof.Andrianto Handojo: “Ilmiah Populer itu Sulit Tapi Perlu”

Jumat, 10 Agustus, 2007 oleh Merry Magdalena

JAKARTA, Netsains - Dikenal sebagai idealis sejati. Disiplin, agak pelit memberi nilai. Setidaknya itulah gambaran seorang Prof. Andrianto Handojo di mata mahasiswanya di Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Terkenal dengan sejumlah tulisan ilmiahnya di beragam jurnal internasional seperti “Imaging through Scattering Media with the Double Aperture Setup”, dimuat di jurnal bergengsi Optics and Laser Technology tahun 2001 bersama dengan J.Sumihar.
Kepada Netsains.Com, Andrianto mengungkap mengapa ada ilmuwan yang sulit menulis dalam bahasa populer. Berikut obrolan singkat namun padat dan penting Sang Profesor dengan Netssains.Com.

Netsains (NS):.Ada kecenderungan di publik kita bahwa sains dan teknologi itu adalah bidang yang membosankan, rumit dan sulit. Bagaimana agar anggapan itu dikikis, sehingga orang tidak antipati terhadap bidang tersebut?

Andrianto Handojo (AH): Sejauh yang dapat diamati, tulisan ilmiah populer yang diterbitkan dalam media massa di Indonesia biasanya menampilkan topik yang sedang menarik perhatian karena bersifat baru atau membangkitkan rasa kagum. Yang diungkapkan lazimnya adalah kemampuan hebat dan dampak yang besar dari metode atau alat yang ditemukan. Misalnya sampai seberapa jauh kinerja yang dijanjikan, apa prestasi lebih yang dapat dihasilkan dibandingkan penemuan sebelumnya, dan sebagainya.
Sayang sekali, biasanya kurang diberikan keterangan yang jelas tentang bagaimana prinsip serta cara kerja metode atau alat tersebut, apa yang menyebabkan kebaruan atau kehebatannya, bagaimana kinerja atau dampak yang unggul itu dapat dicapai. Dan yang dimaksudkan dengan penjelasan, diharapkan yang betul-betul jernih, dapat dicerna dan dipahami oleh, katakanlah latar belakang pendidikan kelas terakhir SLTP. Artinya diharapkan tidak banyak meminjam istilah canggih yang sesungguhnya masih memerlukan pengetahuan dasar tertentu untuk dapat menangkapnya secara tanpa keliru.

NS: Menurut Prof. bidang teknik saat ini lebih banyak diminati atau justru ditakuti?
AH: Timbul beberapa akibat dari kelangkaan penjelasan tersebut. Salah satunya pada hemat saya, perkembangan sains dan teknologi cenderung untuk tetap berada pada suatu jarak dari khalayak ramai, tidak kunjung menjadi akrab atau dimengerti dengan baik. Justru lebih sering dianggap sulit dan asing. Sementara itu rasa kagum terhadap penemuan bersangkutan tetap ada berkat arus pemberitaan, dan berkat iklan untuk produk yang sudah komersial. Situasi ini acapkali mewujud pada keinginan untuk memiliki, alias membeli hasil teknologi mutakhir. Rasa bangga pun mekar apabila bisa mempunyai produk baru karena menyadari apa saja keistimewaannya, meskipun belum tentu menyadari mengapa bisa demikian istimewa.
Pengertian yang jelas tentang prinsip yang mendasari penemuan sains dan teknologi sangatlah penting, karena membuahkan pengenalan yang lebih erat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan minat dan semangat untuk mempelajari bidang bersangkutan.
Tidak hanya itu. Pemahaman yang mantap akan membentuk gambaran yang lengkap dan mendasar (insight) di dalam pikiran, dan ini membuka peluang-peluang baru. Misalnya dapat memunculkan ide, bahwa untuk mencapai kemampuan atau kinerja yang dijanjikan, sebetulnya tidak usah menggunakan mekanisme seperti yang diberitakan. Mungkin dapat menggunakan cara alternatif yang lebih sederhana, tapi dengan hasil yang tidak banyak berbeda. Contoh tentang ini dapat dikonfirmasikan pada sejumlah pemegang paten Indonesia.

NS:.Optimis kah Prof. bahwa Indonesia bisa mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi?
AH: Optimiskah kita, bahwa Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dalam sains dan teknologi? Barangkali pertanyaan ini perlu dirinci: ketertinggalan di bidang yang mana? Supaya lebih jelas maksudnya, dapatlah dipetik ilustrasi dari bidang yang sama sekali berbeda, tepatnya seni tari. Pada akhir suatu pagelaran tarian Indonesia (dari Yogya) yang sangat indah di Jerman, sejumlah peminat seni berkumpul dan berdiskusi dengan para penyaji tari yang memang piawai. Terdengar seorang peminat Jerman bergumam: “Tentu saja kami tidak bisa menari seperti itu, karena setiap anggota tubuh sampai jemari tangan dan jari kaki harus digerakkan serentak dengan begitu lemas dan anggun”.
Orang Jerman aktivis tari itu menyadari, struktur tubuh mereka tidak selentur orang Indonesia, sehingga tidak bisa mencapai bentuk keindahan yang sudah dipertunjukkan. Kesadaran ini sudah tercermin pada bentuk tari-tarian Eropa yang memang berbeda dari tarian Indonesia yang menampilkan kelemasan tubuh dan gerakan-gerakan yang lentik. Bagi orang sana, tidak banyak manfaat untuk ngotot mengadopsi jenis tari seperti punya kita. Mereka sudah memilih jenis lain yang berbeda, yang tidak kurang unsur keindahannya.
Kembali pada pertanyaan tadi, kiranya perlu balik dipertanyakan: sudahkah kita memilih dan mengutamakan jenis-jenis sains dan teknologi yang lebih cocok dan lebih penting untuk kita? Ataukah kita ingin selalu mengerjakan setiap bentuk sains dan teknologi seperti yang penemuan-penemuannya disinggung di atas? Sementara kondisi kita dari berbagai segi sebenarnya berbeda, mulai dari keadaan alam, bakat manusianya, fasilitas dan ketersediaan dana, dukungan kehidupan industri dan jajaran pekerja teknis, tabungan kemampuan sains dan teknologi sebagai ramuan untuk menghasilkan karya mutakhir, dan lain sebagainya.
Di Tanah Air, pada saat bangun pagi sejak ratusan bahkan lebih dari ribuan tahun yang lalu, kita sudah dikelilingi dengan kehidupan tektonik dan vulkanik yang sibuk. Gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, sudah melekat dengan kehidupan dari abad ke abad. Karena terbiasa dan ditempa di sepanjang masa, mestinya kita menjadi ahli di bidang yang berkaitan dengan gejala alam tersebut. Menjadi tempat bertanya bagi orang lain yang negaranya tidak sekaya kita dalam perbendaharaan fenomena tektonik dan vulkanik.
Namun kita sekarang harus dibantu dalam pengadaan peralatan peringatan dini. Padahal kalau sistem itu dicermati betul (kembali pada perlunya pemahaman prinsip kerja di atas), sesungguhnya terdapat bagian-bagian yang perancangan dan pembuatannya masih dalam jangkauan kemampuan kita.
Saya optimis bahwa kita dapat mengejar, bahkan menyusul, ketertinggalan di bidang seperti itu. Juga di bidang-bidang yang dilandasi ide alternatif seperti yang disebutkan sebelumnya.

NS: Ilmuwan kita kerap mengalami kesulitan untuk menuliskan ide-ide dan temuannya ke dalam bahasa popular yang mudah dikonsumsi awam. Mereka lebih suka menulis di jurnal ilmiah. Mengapa bisa begitu ya? Padahal jika ilmuwan kita mau menulis di media massa dengan bahasa popular, maka ilmu mereka lebih mudah diserap oleh awam atau setidaknya publik terinspirasi dengan tulisan mereka. Bagaimana komentar prof soal hal itu?
AH: Secara umum dan kasar, di Indonesia dapat dibedakan beberapa tipe ilmuwan. Ada yang selalu tekun di laboratorium, asyik melakukan percobaan, fasih memainkan bermacam peralatan, mampu bercerita tentang berbagai pencapaiannya. Namun sayang, mungkin karena kurang sempat atau kurang menyukai, mereka ini jarang menulis.
Ada pula yang rajin melakukan penelitian dan rajin pula menulis dalam jurnal ilmiah. Mereka memanfaatkan kemampuan tambahan, yaitu bagaimana merangkum berbagai hasil percobaan itu menurut alur pemikiran yang konsisten dalam sebuah artikel ilmiah. Mampu menonjolkan bagian-bagian yang relatif baru dan mendukungnya dengan argumentasi yang kukuh, mengaitkannya secara sistematik dengan teori dan temuan ilmiah yang lain. Sebagai bahasa penyajian, biasanya digunakan perumusan matematik serta istilah-istilah yang baku dari bidang ilmu bersangkutan. Seluruhnya tidak selalu mudah.
Ada lagi para ilmuwan yang tekun mengerjakan studi atau melaksanakan penelitian, mungkin sering menulis dalam jurnal ilmiah, tetapi agaknya mempunyai minat dan kemampuan yang lebih. Para ilmuwan ini sudah mempunyai pemahaman yang utuh dan mengakar (insight) tentang ilmunya, sehingga sanggup menghadirkan visualisasi yang jernih, mampu menyajikan perumpamaan yang mudah, menerangkan dalam gaya bahasa lain yang cenderung tanpa matematik serta jauh dari istilah-istilah yang terlalu canggih.
Sebagai contoh, pengertian umum tentang gravitasi adalah gaya tarik yang ditimbulkan oleh gumpalan massa, seperti massa besar matahari yang mengerjakan tarikan terhadap bumi. Tetapi Einstein mengajukan gagasan yang berbeda. Menurutnya, gravitasi tidak lain disebabkan oleh ruang yang melengkung. Yang disebut ruang ialah tempat beradanya segala benda seperti bintang, matahari, bumi. Dinyatakan dalam rumusan-rumusan matematik yang rumit, konsep kelengkungan ruang tentu sangat pelik untuk dimengerti.
Namun entah siapa yang mulai, untuk memudahkan lalu dibayangkan bahwa ruang itu berbentuk seperti jaring yang direntangkan mendatar. Pada jaring yang horisontal ini diletakkan bola matahari, bola bumi dan lain-lain. Oleh beratnya bola matahari, bagian jaring yang ditempati matahari tentu melengkung (cekung) ke bawah. Karena kecekungan ini, bola bumi yang lebih ringan di dekatnya akan longsor berguling. Arah bergulingnya mengikuti lengkungan ke bawah, yaitu menuju bola matahari yang telah memberati bagian jaring tersebut. Nah, inilah gravitasi menurut Einstein. Kecenderungan gerakan bumi ke arah matahari terjadi karena kelengkungan ruang atau jaring, bukan akibat sesuatu tarikan.
Daya visualisasi, seperti menggunakan jaring untuk menerangkan kelengkungan ruang, kiranya dibutuhkan oleh seorang penulis ilmiah populer. Menulis dalam jurnal ilmiah itu cukup sukar, menulis ilmiah populer yang baik bisa lebih sukar lagi.

NS: Apa hobi prof? Siapa penulis dan pemusik favorit?
AH: Saya senang membaca dan musik. Pilihan bacaan terutama yang menuju pada pengungkapan rahasia alam, meskipun ada juga yang lain. Tidak terbatas pada penulis favorit atau idola, asalkan bukunya bagus dan menarik. Namun harus diakui ada pengarang yang saya gemari, yaitu Frederick Forsyth. Di samping amat pandai menata dan menyembunyikan bagian-bagian cerita sampai klimaks, Forsyth menyiapkan naskahnya dengan teliti dan sungguh-sungguh. Banyak tambahan pengetahuan yang saya peroleh dari buku-bukunya.
Tentang musik, lebih kepada mendengarkan karena saya tahu diri bahwa koordinasi antara cita rasa dan keterampilan anggota tubuh tidak cukup mendukung untuk memainkan instrumen musik secara unggul. Banyak musik yang saya senangi, tetapi untuk menyebutkan musisi idola barangkali harus saya ajukan nama komponis Ludwig van Beethoven. Sejumlah karyanya saya kagumi dan nikmati, antara lain Simfoni nomor 3 dan nomor 6.

 

Kredit foto: dokumen pribadi.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(2 suara, nilai: 4.5⁄5)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Jumat, 10 Agustus, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>