Penghambat Kemajuan itu Bernama Sindroma Struktural
Semua orang dengan status dan kedudukan apapun, punya hak untuk mengekspresikan ide dan opininya. Lebih bagus lagi kalau ide dan opininya itu bermanfaat bagi orang lain. Tanpa memandang gelar, status, predikat, tingkat ekonomi, dan sebagainya.
Setiap kali mengajak orang untuk menulis di Netsains, banyak yang ragu. Awalnya saya kira karena belum ada honorarium atau apa. Ternyata jawaban mereka nyaris senada: “Saya malu sama tulisan saya. Minder sama penulis lain yang ngetop-ngetop di situ. Apa boleh nulis opini saja?”. dengan gemas saya tegaskan: “Semua jenis tulisan adalah opini. Yang membedakan adalah referensi berupa data, angka, fakta atau daftar pustaka.”.
Menurut kamus Encarta , opini didefinisikan sebagai pandangan pribadi tentang sebuah isu, terutama jika mewakili penilaian personalnya. Berdasar definisi ini, saya berani bilang bahwa semua tulisan adalah opini, baik pribadi maupun tim. Thesis, berita, artikel, paper, adalah opini. Sebab mewakili cara pandang penulisnya, tapi menjadi berbobot akibat didukung dengan sederet referensi akurat yang bisa dipercaya. Untuk tulisan ilmiah, ada metodologi ilmiah yang diikuti, sehingga tulisan tersebut dikategorikan sebagai tulisan ilmiah. Jadi bukan “omdo” alias omong doang.
Itu saja tidak cukup untuk membangkitkan naluri menulis mereka. Padahal mereka adalah jurnalis, blogger, yang sehari-hari sudah biasa menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Setelah diinvestigasi, ada yanng menjawab ,” Ngga ah, aku minder. Apa sih arti opiniku? Bukan pakar. Lagian aku cuma staf biasa di kantor, bukan siapa-siapa. Ngga megang jabatan penting.”
Sindroma Struktural
Saya tergelitik bertanya, “Apakah hanya pakar dan mereka yang punya jabatan tinggi yang boleh beropini?”. Kasus ini saya jumpai bukan saja saat mengelola Netsains. Sejak menjadi jurnalis beberapa tahun silam, kerap saya bertemu dengan orang yang saya pikir layak diwawancarai sebagai narasumber, untuk dikutip menjadi tulisan. Tapi mereka banyak yang mengelak, “Maaf, jangan kutip omongan saya barusan. Silakan wawancara bos saya saja.”.
Begitu saya wawancara bosnya, justru Si Bos tidak paham apa-apa. Jawabannya klise, tidak layak kutip. Si anak buah memiliki pemahaman dan kompetensi lebih baik dari Si Bos. Apa daya, Si Anak Buah tak mau namanya disebutkan, dia berkeras agar bosnya saja yang dipublikasikan di tulisan saya.
Akhirnya saya muat hasil wawancara dengan Si Anak Buah yang Lebih Pintar dari Bosnya itu dengan sebutan: “Menurut sumber terpercaya…”. Dan apa boleh buat, nama Si Bos yang Lebih Bodoh dari Anakbuahnya itu saya kutip sekilas sambil lalu demi “menyelamatkan” anak buahnya.
Dugaan saya adalah:
1. Ada aturan di institusinya bahwa yang boleh diwawancarai jurnalis hanya bos.
2. Aturan itu tidak ada, hanya Si Anak Buah sudah hapal tempramen bosnya yang tidak suka ada anak buah yang lebih ngetop dari dia.
3. Si Bos tidak punya tempramen buruk itu, namun Si Anak Buah memang berperilaku rendah diri alias kurang PEDE.
Jika boleh dikatakan ini merupakan Structural Syndrome, dimana seseorang tidak percaya diri akibat jabatan strukturalnya kurang membanggakan. Sebuah kondisi yang sangat disayangkan. Sebab menurut saya, setiap individu pada dasarnya memiliki potensi yang layak dikembangkan. Jika di institusinya dia menduduki jabatan struktural rendah, maka pengembangan potensi itu bisa dilakukan di luar institusinya, dimana mereka memiliki kebebasan menuangkan ide dan opini tanpa harus berpikir “Saya hanya bawahan.”.
Kompetensi
Berkaitan dengan profesi jurnalis, banyak teman jurnalis berpikir bahwa mereka hanya kuli tinta, hanya layak menulis berita, tidak lebih. Padahal dalam penulisan berita, kita bisa memasukan opini kita. Tapi baiklah, bisa saja ada perusahaan media yang menggencet jurnalisnya agar terus terkungkung sebagai “kuli tinta” belaka. Buruh yang tak boleh beropini. Ini juga yang melatari tulisan Atmakusumah Astraatmadja dalam tulisannya Wartawan Indonesia: Besar di Luar, Kecil di Dalam Perusahaan Sendiri. Sebab banyak bermunculan jurnalis yang lebih PEDE di luar lingkungan perusahaannya daripada saat berada di dalam perusahaannya sendiri.
Netsains saya buat untuk mewadahi semua opini atau ide setiap orang sesuai dengan bidang kompetensinya. Tanpa ada aturan dia harus profesor, pucuk pimpinan perusahaan, konglomerat, seniman tenar, orang berkuasa di negara, dan sebagainya. Saya yakin, setiap individu memiliki kompetensi di bidangnya kendati tidak menduduki jabatan struktural yang mengesankan, memiliki gelar sarjana sepanjang kereta api atau berdarah ningkat dari kalangan terhormat, dan sebagainya. Semua kualifikasi di atas adalah nilai plus demi mendukung tingkat kompetensinya. Dan mengutip omongan Onno W. Purbo: “Nilai manusia itu dilihat dari manfaatnya kepada orang lain. ” , maka saya ingin kita semua meningkatkan nilai diri kita sebagai manusia.
Bahkan sejumlah ilmuwan hebat kadang menulis email kepada saya, “Kalau bisa saya diajarin nulis popular dong.”. Saya sendiri jadi tersipu, mendadak kena Structural Syndrome. Bukan apa-apa kok mau mengajari orang hebat?
Kredit foto: Aji Bagjaraya











Beri Komentar