Saat ini, sejumlah negara Asia seperti Jepang, China dan Korea mulai bangkit kembali merebut kemandirian bidang sains dan teknologi. Sejarah sebagai negara terjajah berusaha dihapuskan dan perlahan membuktikan bahwa mereka mampu bangkit. Bagaimana dengan Indonesia? Berikut kilasan perkembangan kebangkitan negara Asia. Bagian terakhir dari dua tulisan.
Pada tahun 1968, PBB, melalui UNESCO, mengumpulkan perwakilan negaranegara Asia dalam sebuah konferensi tentang aplikasi sains dan teknologi bagi pembangunan di Asia di New Delhi. Melalui konperensi ini diraih kesepahaman bahwa otonomi saintifik dipandang vital bagi perkembangan secara merdeka negara-negara Asia. Disadari pula bahwa kemajuan sebuah negara bergantung pada kemampuannya dalam mengenali, menentukan, dan memutuskan masalah saintifik dan teknis, yang menghambat upaya pengembangan ekonomi dan sosial.
Mengabaikan pengembangan riset sains dan teknologi yang orisinal secara terencana dan dinamis dapat membahayakan proses pembangunan secara keseluruhan. Kebergantungan pada pakar asing pada jangka panjang dipandang tidak dapat ditoleransi, baik secara politik maupun ekonomi. Perwakilan negara-negara Asia ini juga mengenali bahwa bagi negara-negara berkembang, sebagian besar masalah kebijakan sains dan teknologi bersumber pada lemahnya kesadaran saintifik pada masyarakat mereka. Oleh karena ini, pengembangan potensi riset nasional, saintis berkualitas, lembaga saintifik dan budaya saintifik harus diupayakan agar kebijakan-kebijakan nasional yang lain dapat dilaksanakan secara efektif.
Kebangkitan China
Pengalaman negara-negara Asia dalam membangun kebijakan sains dan teknologi memperlihatkan kegagalan-kegagalan, yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor seperti: (a) Tiadanya visi tentang masa depan sains dan teknologi (b) Tiadanya kriteria bagi seleksi ataupun evaluasi teknologi impor (c) Kurangnya perhatian akan teknologi dalam negosiasi pemerintah untuk memperoleh bantuan asing, (d) Pengaruh politik nasional terhadappembuatan kebijakan sains dan teknologi (e) Kurangnya keluasan partisipasi masyarakat (f) Lemahnya komitmen bagi implementasi kebijakan. Belajar dari pengalaman, negara-negara Asia menyadari bahwa kebijakan sains dan teknologi harus dievaluasi dan dinilai atas dasar tujuan dan kepentingan sosial, khususnya atas nilai dan dampak kebijakan ini bagi masyarakat.
Pada aspek praktis, sebuah kebijakan sains dan teknologi harus dapat terealisasi dan terkelola, tercapai goal yang dituju, dan juga realistik. Selain itu, kebijakan sains dan teknologi yang baik mempersyaratkan proses kebijakan yang baik pula, yakni yang mengizinkan evaluasi dan pengujian secara seksama dan kritis. Di antara negara-negara Asia yang menghadiri Konperensi New Delhi tersebut, hanya Cina yang melaporkan keberhasilan. Ini terutama diraih melalui reformasi kebijakan sains dan teknologi Cina yang membuahkan komersialisasi teknologi. Sebelum reformasi ini, meskipun para sanitis Cina telah berhasil menguasai teknologi nuklir dan satelit, kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi dan produksi komoditas belum memuaskan. Di samping kendala-kendala historis, politis dan ideologis, penyebab penting dari kinerja seperti ini adalah manajemen sistem tekno-ekonomi yang kaku.
Reformasi
Sampai pertengahan 1980-an, pemerintah Cina masih mengendalikan secara berlebihan lembaga-lembaga riset dan ekonomi, dan kurang memperhatikan produksi komoditas serta peranan pasar. Pemerintah Cina, oleh karena itu, memutuskan bahwa manajemen litbang sains dan teknologi direformasi seiring dengan restukturisasi sistem ekonomi.
Reformasi sains dan teknologi ini dimaksudkan untuk (a) Menciptakan lingkungan yang di dalamnya lembaga-lembaga riset akan memiliki orientasi pasar nasional (b) Memperkuat ikatan antara sains dan teknologi dengan ekonomi yang sebelumnya lemah. (c) Menggunakan mekanisme pasar ekonomi komoditas untuk memromosikan pengembangan sains dan teknologi secara terkoordinasi. Bagi Cina, sains dan teknologi akan meraih pengakuan sosial dan kemampuan swa-kembang ketika ia terwujud dalam bentuk komoditas pertukaran. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, Cina melaksanakan program terpadu untuk menggabungkan sains, teknologi dengan perdagangan.
Mereka juga mengimpor teknologi dan metoda manajemen, mengorganisasikan kebijakan sains dan teknologi dalam lembaga penelitian dan perusahaan manufaktur, dan memadukan teknologi impor dengan litbang domestik. Pengalaman dunia berkembang ini, jika dibandingkan dengan dunia maju, memperlihatkan perbedaan dalam hal logos, yang tercermin pada perbedaan dalam karakter kebijakan sains dan teknologi masing-masing. Di negara maju, logos bagi techne mereka berskala nasional, serta berorientasi pada tujuan dan kepentingan nasional. Ini terlihat pada keterpaduan antara kebijakan sains dan teknologi dengan kebijakan nasional yang lain, serta pada luasnya partisipasi masyarakat.
Kemerdekaan Intelektual
Di negara berkembang, kebijakan sains dan teknologi masih terpisah dari, atau bahkan tak selaras dengan kebijakan-kebijakan lain, dan kurang sungguh-sungguh berorientasi pada tujuan dan kepentingan nasional masyarakat. Namun demikian, Cina– yang berhasil menumbuhkan logos nasionalnya–merupakan perkecualian. Menegakkan Kemerdekaan Intelektual melalui Berjejaring Untuk mengatasi kebergantungan sains dan teknologi di Dunia Ketiga, pemutusan hubungan dengan sains dan teknologi Barat bukan merupakan langkah yang akan memberikan jawaban yang diinginkan. Sikap mengisolasi diri terhadap pergaulan internasional tidak akan menumbuhkan kreativitas pada para saintis di negara-negara berkembang. Susantha Goonatilake mengusulkan langkah yang lebih kreatif, yang ia sebut transcending the links . Inti dari langkah ini adalah, para saintis di periferi harus berupaya memperoleh pemahaman secara menyeluruh dan mengakar akan capaian-capaian intelektual yang diraih di pusat.
Jadi, alih-alih sekadar meniru, para saintis di periferi perlu melahami inti sari dari capaian-capaian intelektual di pusat, mencerna spirit pengembangannya, dan melihat problematika yang terdapat di pusat. Dari sini, para saintis di periferi perlu menggali berbagai sumber pengetahuan untuk bisa menjawab problematika yang dihadapi dipusat. Misalnya, sains dan teknologi di pusat menghadapi problematika ketika harus menjawab pertanyaan yang diklasifikasikan sebagai ultimate questions. Pertanyaan tersebut misalnya seperti: “Apa yang terjadi sebelum Big Bang?” “Apakah ruang-waktu memiliki awal atau akhir?” “Apakah substansi kesadaran manusia?” “Apakah ada realitas imaterial yang berpengaruh terhadap kehidupan material?” Dan sebagainya.
Jejaring
Dalam hal pengembangan teknologi, negara-negara di Dunia Ketiga perlu memanfaatkan keanekaragaman sumber daya alam dan hayati yang mereka miliki, dan mengembangkan teknologi yang bertumpu pada sumber-sumber daya ini. Dengan cara ini, negara-negara berkembang dapat meraih keunggulan komparatif, sebagai langkah penting untuk mencapai keunggulan kompetitif. Kedua langkah ini perlu dilakukan dengan meningkatkan hubungan sosial dari para saintis di di dalam negara di Dunia Ketiga, ataupun di antara negara-negara di Dunia Ketiga, dengan tetap memelihara keterbukaan terhadap para saintis di negara-negara berindustri maju (Barat). Dengan demikian, model jejaring sains dan teknologi antarbangsa akan bergeser dari bentuk pusat-periferi menjadi bentuk jejaring yang terdiri atas simpul-simpul yang saling terhubungkan.
Mengungkap Fenomena Emergent Sejak awal peradaban manusia, para filosof, seniman, fisikawan telah berupaya menyelami dan menyingkap misteri kesadaran. Dalam paradigma sains reduksionistik kesadaran diterima sebagai pokok bahasan saintifik dengan mengambil pendekatan-pendekatan dari teknologi medis untuk menganalisis otak,insights dari fisika, kimia, biologi, neuroscience, psikologi, sosiologi dan filosofi.
Alwyn Scott, seorang ahli fisika non-linier, merangkum berbagai capaian tentang kesadaran, yang dia tuangkan dalam buku “Stairway to the mind: controversial new science of consciousness. Scott memaparkan suatu skema hirarkis yang menstrukturkan anak-anak tangga untuk memahami kesadaran sebagai berikut: Culture Consciousness Brain Assemblies of neurons Nerve impulses Biochemical structures Molecules Atoms.
Dalam sains reduksionistik, berlaku pandangan bahwa untuk memahami fenomena pada satu tingkatan, maka fenomena pada tingkat-tingkat di bawahnya harus dipahami lebih dahulu. Jadi untuk memahami kesadaran, orang harus mempelajari otak; untuk mempelajari otak, orang harus mempelajari neron; untuk mempelajari neron orang harus mepelajari proses dinamik protein; dan untuk mempelajari protein orang harus akrab dengan kimia dan fisika atom. Namun pandangan reduksionistik demikian telah dibuktikan kelemahannya, terutama dengan terungkapnya fenomena emergent.
Pada intinya, fenomena emergent ini memperlihatkan bahwa fenomena di suatu tingkatan bukan merupakan kumpulan agregat Reduksi Dominasi sains di Pusat Fenomena Emergent; Peluang bagi sains-sains di Periferi dari fenomena di tingkat-tingkat di bawahnya. Dengan perkataan lain, keseluruhan bukan jumlah agregat dari bagian-bagiannya. Sains reduksionistik, menurut Scott, tidak berhasil memberikan jawaban yang utuh tentang kesadaran manusia oleh karena ketidakmampuannya menjelaskan fenomena emergent tersebut.
Dalam cara yang berbeda, Prof. Murray Gell-Mann, Seorang pemenang Nobel untuk Fisika, dalam novelnya The Quark and The Jaguar, menuturkan: “There would seem to be an enormous gap between fundamental physics and these other pursuits Elementary particles have no individuality. By contrast, linguistics, history are concerned with individual empires “
Menapak anak-anak tangga dari dasar ke puncak piramida sains merupakan pergeseran dari kesederhanaan menuju kompleksitas. Ini yang dimetaforkan oleh Gell-Mann sebagai perjalanan dari Quark (fenomena fisika) menuju Jaguar (fenomena mahluk hidup yang adaptif). Masyarakat, sebagai sistem yang kreatif dipandang memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Penguasaan terhadap hukum-hukum universal matematika, fisika, tidak begitu saja membuka jalan untuk menerangkan fenomena mental dan fenomena sosial-politik yang dicirikan oleh emergent.
Jadi, pada wilayah dengan kompleksitas tinggi seperti fenomena mental dan sosial, dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang khusus dan khas untuk mempelajarinya. Dan pada wilayah yang kompleks dan penuh ketakpastian ini para saintis dari Dunia Ketiga dapat turut berperan-serta berupaya mencari jawaban-jawaban, dengan menggali berbagai sumbersumber pengetahuan yang berakar pada tradisi intelektual masing-masing bangsa.
Di Indonesia
Membangun Jejaring Sains dan Teknologi Nasional Di pertengahan 1970-an bangsa Indonesia melakukan eksperimen berskala nasional dengan merumuskan agenda sains dan teknologi di sektor telekomunikasi yang membuahkan peluncuran Satelit Palapa. Proses pembangunan agenda ini melibatkan banyak pihak dari berbagai kepakaran, dan berpijak pada misi penyatuan wilayah Nusantara dalam panduan Wawasan Nusantara.
Pada kurun waktu yang tidak jauh terpisah, Indonesia juga mengembangkan kebijakan sains dan teknologi berskala nasional di sektor transportasi berbasis high-technology, yang terkristalisasi melalui pendirian dan pengoperasian industri pesawat terbang Nusantara (IPTN). Lepas dari jerih payah dari para perumus dan pelaksana agenda-agenda sains dan teknologi nasional ini, kedua agenda tersebut masih belum berhasil melepaskan kebergantungan sains dan teknologi. Sebagian pihak mempersoalkan apakah proses kebijakan yang melahirkan Satelit Palapa dan IPTN telah tersatu-padukan dengan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional lainnya.
Dalam perkataan lain, yang menjadi pertanyaan adalah apakah agenda-agenda sains dan tersebut telah bertumpu pada kesadaran (logos) yang berdimensi nasional, dan berorientasi pada tujuan-tujuan nasional seperti kemandirian bangsa, ketahanan bangsa,ataupun prestasi bangsa. Ketahanan bangsa dapat ditafsirkan, kurang-lebih, sebagai kemampuan bangsa dalam mencukupi kebutuhan pokok/dasarnya sendiri; kemampuan bangsa dalam melindungi/mempertahankan dirinya dari gangguan eksternal (dalam berbagai bentuknya); kemampuan bangsa dalam memperjuangkan haknya untuk untuk menentukan masa depannya sendiri, dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi universal dan prinsip kesetaraan. Prinsip-prinsip ini merupakan unsur pokok kemerdekaan sebuah bangsa, sebagaimana dinyatakan dalam Dasa Sila Bandung. Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan termasuk ke dalam tafsiran pertama. Kemampuan dalam melindungi bangsa baik dari ancaman militer maupun dominasi budaya asing dan banjir informasi, merupakan tafsiran kedua.
Kemampuan dalam self-affirmation dalam menyatakan sikap dalam tataran politik internasional, kemampuan dalam bersaing di pasar internasional merupakan tafsiran ketiga. Pada ketiga aspek ketahanan bangsa ini, sains dan teknologi merupakan dimensi sosial intelektual yang penting. Jika sebuah bangsa mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri, untuk mengolah sumber alamnya sendiri, untuk memenuhi kebutuhan pangan, kesehatan, dan perlindungan fisiknya sendiri, maka tingkat peranan sains dan teknologi bangsa dalam menopang ketahanannya dikatakan tinggi. Kalau pun dalam beberapa hal, atau dalam fase-fase belajar dibutuhkan bantuan dari pihak-pihak luar, ini dilakukan berdasarkan prinsip kesetaraan, yang tidak menghendaki kebergantungan yang berkelanjutan pada pihak-pihak luar tersebut. Sementara itu, kalau pengembangan pengetahuan ini terus-menerus bergantung pada pihak luar, meskipun ini pengetahuan advance, tingkat keterlibatan sains dan teknologi dalam menopang ketahanan bangsa, adalah tidak tinggi.
Perkembangan sains dan teknologi sebuah bangsa mempersyaratkan bahwa sains dan teknologi bergerak mengikuti alur, sehingga membentuksiklus nilai tambah (added value cycle), atau bakan spiral. Agar siklus ini terbentuk, diperlukan partisipasi dari lembaga-lembaga yang relevan, dalam bentuk partisipasi yang berbeda, sehingga membangun sebuah jalinan hubungan-hubungan. Jadi, persoalanpengembangan sains dan teknologi bukan saja persoalan penelitian dan pengembangan di universitas, pengadaan sarana produksi dan produk di badan-badan produksi, atau persoalan utilisasi produk di masyarakat pengguna.
Persoalan ini mencakup pengelolaan semua bentuk-bentuk dan fase-fase pengembangan sains dan teknologi melintasi beragam unsur-unsur sosial, dalam suatu jalinan yang utuh. Untuk mendorong terbentuknya jejaring sains dan teknologi nasional demikian, diperlukan kebijakan riset yang menghubungkan kegiatan-kegiatan learning dan value creation baik di badan-badan baik publik maupun swasta. Ini berlaku bagi pengembang maupun oleh pengguna sains dan teknologi , baik di tingkat domestik maupun regional/internasional. Kebijakan riset, secara teradu dengan kebijakan-kebijakan di sektor-sektor pembangunan nasional secara umum, perlu dirumuskan dengan baik guna memfasilitasi pertukaran informasi, kepakaran, dan dana di antara badan-badan tersebut, dan mendorong sirkulasi informasi dan dana tersebut secara terpadu, yang secara koheren diarahkan pada sasaran-sasaran pembangunan.
Kepustakaan (1) Aquelt Ahmad, et al (editors), Science and Technology Policy for National Development: A Window on the Asian Experience, published by the Foundation for International Training, Canada, 1988. (2) Carl Mitcham, Thinking Through Technology, Chicago Press, USA, 1994. (3) Goonatilake, Susantha, Aborted Creativity: Science dan Creativity in the Third World, Zed Book Ltd., London, 1984. (4) Kusmayanto Kadiman, IPTEKS, Pendidikan Tinggi dan Reformasi Sosial: Sebuah Retrospeksi, Naskah Pidato Rektor ITB dalam acara Wisuda ITB, Juli, 2003. (5) Kadiman, K., Kontrak Sosial bagi Sains, HU Pikiran Rakyat, Edisi Akhir Tahun, 2004. (6) Pradip K. Ghosh (editor), Technology Policy and Development: A Third World Perspective, Greenwood Press, Connecticut, USA, 1984.



Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!