Melawan Flu Burung dengan Metode Ilmu Sosial
Siapa bilang ilmu sosial tidak sepenting ilmu lain dalam kaitannya dengan kesehatan manusia? Secara sosiologi, justru hubungan sosial tidak bisa lepas dari penularan penyakit sekaliber flu burung. Dan jika sudah begitu, mereka yang menganggap ilmu sosial itu “gampang”, silakan saja gigit jari.
Perhatian media barat terhadap kembali merebaknya kasus flu burung di Indonesia membuat pemerintah Indonesia mulai serius mengambil langkah-langkah antisipasi. Salah satu yang jadi fokus adalah emungkinan epidemik akibat virus flu burung yang bermutasi menjadi virus flu manusia. Meskipun saat ini manusia hanya tertular virus flu burung melalui unggas, para ahli memperkirakan virus tersebut bisa bermutasi sehingga menjadi virus manusia yang dapat menular antar manusia. Pemerintah Indonesia dan dunia internasional sudah menyadari kemungkinan yang mengerikan ini dan mulai mempersiapkan beberapa program yang bisa mencegah terjadinya epidemik flu global (pandemik).
Tamiflu
Sayangnya, sejauh ini fokus perencanaan melawan epidemik flu adalah pada penyediaan vaksin. Presiden Yudhoyono, misalnya, menginginkan agar Indonesia mendapat lisensi untuk memproduksi sendiri salah satu vaksin yang tersedia yaitu Tamiflu; tentu penyediaan vaksin penting. Tetapi fokus yang berlebihan pada vaksin dapat membuat kita lupa pada cara yang bisa jadi lebih efektif untuk mencegah dan mengurangi korban akibat epidemik.
Bagi Indonesia yang memiliki dana terbatas, membuat vaksin bagi 220 juta penduduk bukan hal yang mudah. Andaikan kita memiliki uang, belum tentu kita memiliki waktu yang cukup untuk membuat dan mendistribusikan vaksin. Vaksin yang telah dibuat pun bisa percuma jika virus yang menyebar bermutasi lagi sehingga kebal terhadap vaksin yang telah dibuat. Singkatnya, meskipun vaksin sangat penting, vaksin bukan kunci emas untuk menanggulangin epidemik. Jadi alternatif apa yang kita punya untuk mencegah epidemik?
Kita bisa belajar pada saat merebaknya wabah SARS tahun 2003. Saat itu dunia dikagetkan dengan munculnya wabah SARS. Tapi akhirnya terbukti SARS dapat diatasi, dan itu dilakukan tanpa vaksin!
Bisa jadi SARS tidak menjadi pandemik global karena keberuntungan belaka. Tapi kita ingat saat itu badan resmi seperti WHO dan pemerintah beberapa negara mengambil berbagai langkah agresif seperti mendeteksi kasus baru secara cepat, melakukan isolasi pada daerah dan orang yang terinfeksi, membagi informasi antar pihak yang terlibat dan publik, dan mengeluarkan berbagai peringatan mengenai resiko bepergian ke daerah yang terinfeksi. Maskapai penerbangan pun diminta berperan dengan mengidentifikasi dan mengisolasi penumpang yang dicurigai terinfeksi; sehingga memutus mata rantai penyebaran secara global. Pada intinya, respon sosial saat epidemik berlangsung sangat penting; terutama pola pergerakan manusia menjadi salah satu faktor penentu apakah sebuah epidemik menjadi global atau tidak.
Pemodelan
Hasil awal dari sebuah model penyebaran penyakit yang kami kembangkan di Columbia University, New York, menunjukkan bahwa seberapa besar epidemik bisa terjadi, banyak ditentukan oleh segelintir orang yang terinfeksi dan pergi ke daerah yang tak terinfeksi. Sehingga membuat epidemik menyebar secara bersamaan di beberapa daerah yang berbeda-beda. Menurut model yang kami buat tersebut, meskipun penyakit yang menyebar sangat menular dan mematikan, jika perjalanan individu dibatasi maka penyebaran akan terkonsentrasi secara lokal. Sehingga penyebarannya lebih lambat dan membuat pihak yang berwenang memiliki waktu untuk melakukan langkah yang lebih terarah.
Satu hasil penting dari model kami adalah turunnya jumlah kasus orang yang terinfeksi bukan berarti epidemik yang mereda. Karena meskipun jumlah kasus di suatu daerah turun, akibat mobilitas penduduk, sangat mungkin penularan baru terjadi di daerah yang sebelumnya tak terinfeksi
Sosial
Karena itu, jika epidemik terjadi, sangat penting untuk mengurangi mobilitas penduduk (baik itu antar negara, propinsi, kota, kecamatan, perumahan, atau gedung). Meliburkan kantor dan sekolah, menjaga rumah sakit tetap berfungsi dengan membatasi hanya orang-orang yang benar-benar sakit ada di rumah sakit adalah hal-hal yang dapat dilakukan di daerah dimana epidemik terjadi. Sedangkan bagi mereka yang tidak tinggal di daerah yang tak terjangkit penyakit, seyogyanya tidak melakukan perjalan ke daerah yang terinfeksi. Transportasi udara, laut dan darat diminimalkan dan, jika perlu, ditutup.
Tentu langkah-langkah ini memiliki ongkos ekonomi yang besar. Tapi sebesar-besarnya kerugian ekonomi masih lebih ringan dibandikan dengan bencana pandemik flu; seperti yang terjadi tahun 1918 dimana antara 20 hingga 50 juta orang tewas dalam waktu kurang dari satu tahun akibat flu yang mematikan ini. Terlebih lagi, penelitian terakhir menunjukkan bahwa virus flu manusia yang membawa bencana besar di tahun 1918 berasal dari virus flu burung (H5N1) yang sekarang menyebar di Indonesia dan Asia.
Jadi masyarakat umum memiliki peran sangat besar untuk pencegahan epidemik skala besar. Yaitu dengan merubah perilaku sehari-hari (misal mengurangi perjalanan) jika epidemik terjadi. Tentu pemerintah tetap sangat berperan dalam mengkoordinasikan apa saja yang harus dilakukan publik.
Untuk itu, selain mempersiapkan vaksin, pemerintah juga harus mempersiapkan rencana konkrit jika epidemi terjadi. Seperti mengatur pelaksanaan teknis karantina atau isolasi untuk suatu wilayah tertentu, dan mencari cara memanipulasi mobilitas penduduk. Selain itu, untuk membantu proses perencanaan, pemerintah dapat membangun semacam pusat pemodelan simulasi komputer skala besar yang bisa berguna untuk mengantisipasi berbagai skenario jika epidemik terjadi; hal ini juga berguna untuk bencana alam secara umum (Seperti di Amerika, pemodelan angin topan sangatlah penting untuk memprediksi wilayah mana yang akan terkena).
Epidemik bukanlah semata-mata masalah biologis saja, epidemik juga termasuk masalah sosial. Penyakit menyebar di jaringan sosial, karenanya perilaku sosial masyarakat berpengaruh besar pada pola penyebaran penyakit dan turut menentukan seberapa jauh penyakit tersebut menyebar.
Penulis adalah Kandidat Doktor Sosiologi di Columbia University, New York.
Kredit foto: dokumen pribadi.











Beri Komentar