Kembali, Mengurai Kondisi “ABG” di Indonesia
Selasa, 14 Agustus, 2007 oleh Atmadji W Soewito
Dalam banyak forum yang membahas nasib sektor riil dibidang ICT di Indonesia, baik itu di kampus, perindustrian, Ristek dan Kominfo, sering kali terdengar bahwa kunci perkembangan teknologi di Indonesia tergantung pada kolaborasi dari suatu model yang terdiri atas entitas periset akademisi, business dan government. Biasa diseingkat sebagai ABG.
Tetapi selama bertahun-tahun, berbagai program yang dicanangkan untuk menggandengkan ketiga entitas itu banyak yang berakhir tidak jelas. Berakhir menjadi paper atau prototip yang menumpuk dimeja yang jauh dari harapan semula semua pihak sewaktu program itu diusulkan. Kalau tidak ada yang merasa salah dalam mekanisme interaksi tersebut, barangkali model kerjasamanya yang salah, atau kriteria suksesnya yang salah, atau dimensioning problemnya yang salah.
Sendiri-sendiri
Sejauh ini yang rata-rata dinilai berhasil oleh komunitas masing-masing adalah akademisi yang mencoba membangun industri, atau industri yang mencoba membangun sekolah, atau government yang membangun pabrik. Semua mencoba membangun kompetensi in-house, karena mendefinisikan sesuatu problem sendiri, memecahkan dan mengerjakannya sendiri jauh lebih mudah daripada mencari konsensus atas sesuatu, lagi pula ego sektoral lebih bisa terlayani dengan mekanisme seperti itu. Begitulah, mencoba berkolaborasi membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari membangun kemampuan in-house.
Sejauh ini yang rata-rata dinilai berhasil oleh komunitas masing-masing adalah akademisi yang mencoba membangun industri, atau industri yang mencoba membangun sekolah, atau government yang membangun pabrik. Semua mencoba membangun kompetensi in-house, karena mendefinisikan sesuatu problem sendiri, memecahkan dan mengerjakannya sendiri jauh lebih mudah daripada mencari konsensus atas sesuatu, lagi pula ego sektoral lebih bisa terlayani dengan mekanisme seperti itu. Begitulah, mencoba berkolaborasi membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari membangun kemampuan in-house.
Adakah yang salah? Tidak ada. Industri yang dibayangkan oleh akademisi tidak sama dengan realitas yang dirasakan oleh para industriawan. Sebaliknya, bayangan tentang dunia akademik yang ideal oleh para industriawan tidak sama dengan realitas. Begitu juga government melihat problemnya ujudnya lain lagi, pelajaran yang harus kita telan masih banyak.
Hal yang lain lagi, industri dan riset, keduanya berada dalam satu value chain. Sebagaimana layaknya suatu pertarungan estafet didunia global, banyak periset di Indonesia beranggapan industri sebagai pelari penerus produk tidak konsisten dan tidak mau menunggu periset sampai di etappe berikut, sedangkan banyak industri di Indonesia melihat periset lokal larinya terlalu lelet dan tidak kunjung sampai sementara dia melihat pesaingnya sudah mendekati garis finish. Akibatnya de-facto, agar supaya bisa tetap survive, die-hard researcher maupun industriawan rata-rata sudah berinvestasi memilih patner estafet masing-masing, yang notabene tentunya tidak harus berasal dari dalam negeri.
Jadi bayangan bahwa mengawinkan periset dan industri dalam satu program itu akan berjalan mudah, hanya karena keduanya memiliki satu kesamaan yaitu berasal dari dalam negeri, boleh jadi saat ini adalah ilusi, karena di satu level secara bisnis mereka bisa jadi adalah kompetitor.
Hal yang lain lagi, industri dan riset, keduanya berada dalam satu value chain. Sebagaimana layaknya suatu pertarungan estafet didunia global, banyak periset di Indonesia beranggapan industri sebagai pelari penerus produk tidak konsisten dan tidak mau menunggu periset sampai di etappe berikut, sedangkan banyak industri di Indonesia melihat periset lokal larinya terlalu lelet dan tidak kunjung sampai sementara dia melihat pesaingnya sudah mendekati garis finish. Akibatnya de-facto, agar supaya bisa tetap survive, die-hard researcher maupun industriawan rata-rata sudah berinvestasi memilih patner estafet masing-masing, yang notabene tentunya tidak harus berasal dari dalam negeri.
Jadi bayangan bahwa mengawinkan periset dan industri dalam satu program itu akan berjalan mudah, hanya karena keduanya memiliki satu kesamaan yaitu berasal dari dalam negeri, boleh jadi saat ini adalah ilusi, karena di satu level secara bisnis mereka bisa jadi adalah kompetitor.
Pengorbanan
Sewaktu mendudukkan ABG ini di satu meja, membicarakan common objective dari akademisi, periset dan industriawan, masing-masing membicarakan entitas yang berbeda walaupun namanya yang sama.
Dalam epos Ramayana, negara Pancawati dibutuhkan pengorbanan dari para kera untuk membuat jembatan yang melintasi lautan ke alengka. Kita bukan kera, tetapi begitulah, membangun jembatan antara industri, riset dan akademisi membutuhkan pengorbanan para pahlawan. Pahlawan yang melakukan pertama kali beresiko mati dan menjadi pijakan bagi pahlawan berikutnya sampai terbentuk daratan yang bisa dipakai untuk membangun industri.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota dari komunitas? Memperbanyak dan menyemangati anggota masyarakat kita yang berkecimpung dan rela mati di sektor riil, meskipun untuk saat ini sebagian besar kita tahu bahwa transaksi di sektor riil itu susah untuk bisa bikin orang menjadi kaya.
Apa ada yang mau beresiko mati untuk jadi pijakan orang lain pada jaman ini? Kalau tidak ada, mungkin kita harus berkaca kepada jiwa enterpreneurship dari founding fathers kita yang rela mati secara harafiah untuk sesuatu opportuniy yang abstrak bernama kemerdekaan, padahal untuk kita pada jaman ini resikonya paling-paling hanya mati secara ekonomi, sementara opportunitynya sangat riil, yaitu peluang untuk memiliki portfolio bisnis
Sewaktu mendudukkan ABG ini di satu meja, membicarakan common objective dari akademisi, periset dan industriawan, masing-masing membicarakan entitas yang berbeda walaupun namanya yang sama.
Dalam epos Ramayana, negara Pancawati dibutuhkan pengorbanan dari para kera untuk membuat jembatan yang melintasi lautan ke alengka. Kita bukan kera, tetapi begitulah, membangun jembatan antara industri, riset dan akademisi membutuhkan pengorbanan para pahlawan. Pahlawan yang melakukan pertama kali beresiko mati dan menjadi pijakan bagi pahlawan berikutnya sampai terbentuk daratan yang bisa dipakai untuk membangun industri.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota dari komunitas? Memperbanyak dan menyemangati anggota masyarakat kita yang berkecimpung dan rela mati di sektor riil, meskipun untuk saat ini sebagian besar kita tahu bahwa transaksi di sektor riil itu susah untuk bisa bikin orang menjadi kaya.
Apa ada yang mau beresiko mati untuk jadi pijakan orang lain pada jaman ini? Kalau tidak ada, mungkin kita harus berkaca kepada jiwa enterpreneurship dari founding fathers kita yang rela mati secara harafiah untuk sesuatu opportuniy yang abstrak bernama kemerdekaan, padahal untuk kita pada jaman ini resikonya paling-paling hanya mati secara ekonomi, sementara opportunitynya sangat riil, yaitu peluang untuk memiliki portfolio bisnis
Jaminan
Government sebenarnya cukup memberi jaminan kepada masyarakat, bahwa peluang untuk berkembang secara sehat itu ada, baik bagi periset maupun industriawan, dan mati secara bisnis sebagai enterpreneur disektor riil itu sama mulianya dengan mati secara bisnis bagi konglomerat.
Untuk saat ini, periset yang tidak fokus dan ikut main-main mengembangkan industri ataupun pemain industri yang tidak fokus dan coba-coba berkiprah dalam riset haruslah dihargai. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi pemain sektor riil?
Nanti, kalau pulau industri sudah tebentuk, bolehlah kita bicara profesionalisme sektoral.
Government sebenarnya cukup memberi jaminan kepada masyarakat, bahwa peluang untuk berkembang secara sehat itu ada, baik bagi periset maupun industriawan, dan mati secara bisnis sebagai enterpreneur disektor riil itu sama mulianya dengan mati secara bisnis bagi konglomerat.
Untuk saat ini, periset yang tidak fokus dan ikut main-main mengembangkan industri ataupun pemain industri yang tidak fokus dan coba-coba berkiprah dalam riset haruslah dihargai. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi pemain sektor riil?
Nanti, kalau pulau industri sudah tebentuk, bolehlah kita bicara profesionalisme sektoral.














Beri Komentar