Setelah sempat “terkapar” beberapa waktu, kini bisnis media online bangkit kembali. Memang tidak seheboh booming dotcom di era 1990-an. Namun perlahan tapi pasti, media online mulai “membunuh” media cetak. Apa betul?
AFP melansir konferensi yang diadakan oleh organisasi kumpulan media harian di dunia. Disebutkan media cetak saat ini sedang mengalami penurunan. Kalau mereka ingin bangkit. Satu-satunya hal yang harus mereka jalani adalah membuat media online.Pernyataan ini dilontarkan pada pertemuan ke-60, World Association of Newspaper (WAN) dan forum Editor se-dunia yang ke-14. “Kita harus menyadari bahwa media mulai mengarah ke online, dan kita harus mulai mengarahkan jurnalisme kita ke arah itu,” kata Mario Garcia, Chief Executive of The United States–Garcia Media Group.
Garcia menggambarkan, perjalanan baru sebuah media akan berawal dari breaking news yang dibaca melalui email atau ponsel. Kemudian para pembaca akan melanjutkannya dengan membaca berita melalui situs online. Dan akan berakhir dengan membaca koran di hari
Media cetak yang memiliki backing online maka pendapatan iklannya pasti naik. Menurut data Newspaper Association of America (NAA) pada bulan Mei tahun ini, pendapatan iklan cetak menurun sekitar 13.2 persen. Sedangkan pendapatan iklan online naik sekitar 7 persen dari total pendapatan iklan yang mencapai USD10,6 miliar. Padahal pada kuartal yang sama, pendapatan iklan online hanya mampu meraih 5,5 persen dari total pendapatan iklan yang ada.
Dari angka tersebut, Finacial Times mensinyalir bahwa penurunan pendapatan dari berlangganan dan pendapatan iklan dikarenakan mulai pergeseran perilaku pembaca berita yang lebih memilih media online. Bahkan mereka lebih memilih membaca berita dalam sebuah situs yang disediakan perusahaan media secara gratisan daripada harus membeli media cetak yang isinya pasti hampir sama dengan situs tersebut.
Beriringan
Penurunan pendapatan media cetak ini bukan berarti lantas menyingkirkan media cetak sampai keluar industri. Banyak orang berpendapat cetak dan online pada saatnya nanti akan berjalan beriringan. Bahkan Mario Garcia tetap yakin, media online dan cetak akan tumbuh bersama.
Urutannya tetap sama. Pembaca membutuhkan media online sebagai penghantar bacaan, biasa disebut sebagai penyedia breaking news, dimana berita akan tersaji secara cepat dan aktual. Saat suatu peristiwa terjadi, online dituntut untuk langsung memberitakannya secara aktual. Namun memang isi berita media online kadang tidak terlalu dalam.
Bahkan jauh dari kesan investigasi. Hal ini dikarenakan tuntutan kecepatan pemberitaan yang harus terus terisi dari menit ke menit dan terbatasnya kapasitas tampilan yang hanya terisi beberapa berita dalam satu pageview. Bahkan satu pageview hanya terdiri dari satu berita saat anda membacanya. Nah, disinilah peran media cetak diperlukan, dimana mereka dituntut untuk mengulas berita lebih dalam dan akurat.
Di Indonesia
Berdasarkan pengamatan, dari 15 pengguna internet di Indonesia, 10 dari mereka mengatakan bahwa mereka tetap membutuhkan media cetak sebagai bahan bacaan. Pertama karena mereka tidak selalu terhubung dengan internet, apalagi ketika berada jauh dari kantor. Mereka juga mengakui, saat membaca media online, mereka membutuhkan berita baru. Kemudian jika mereka tertarik mengetahui berita tersebut secara mendalam, maka mereka akan memilih untuk membaca koran harian. Data ini bisa mengindikasikan betapa masyarakat Indonesia pun sudah mulai tergantung dengan media online.
Pergeseran ini dialami di luar negeri di mana penetrasi internet mereka jauh lebih berkembang daripada di Indonesia. Dari jumlah 220 juta penduduk di Indonesia, disinyalir hanya 18 juta saja yang melek internet sehingga memposisikan Indonesia berada di urutan 15, Negara-negara dengan penetrasi internet. Dengan bantuan dan dukungan pemerintah, bukan tidak mungkin jika media online juga akan berfungsi sama layaknya di luar negeri. Bahkan dari angka tersebut tergambarkan betapa luasnya pasar internet di Indonesia. Dengan kata lain, masih terdapat lebih dari 200 juta warga potensial yang dapat ditargetkan sebagai warga melek internet. Angka 200 juta warga, pastinya dapat digambarkan sebagai sebuah keuntungan (baik materi maupun fisik) yang dapat diraih bagi industri.
Booming dotcom awalnya telah menghantui Indonesia pada tahun 1998 lalu namun sampai saat ini, media online yang bertahan bisa dihitung dengan jari. Bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk mencoba tetap eksis. Tanpa adanya dukungan dana yang kuat, satu persatu media online timbul tenggelam. Bisa jadi hal tersebut dikarenakan kurangnya dukungan dari berbagai pihak, bahkan Indonesia dirasa belum siapa untuk masuk kea rah tersebut. Lalu ketidaksiapan Indonesia dalam memboomingkan kembali media online terus berlanjut sampai sekarang.
Saat ini Infrastruktur internet yang dimiliki Indonesia tidaklah kurang dibanding negara lain. Menjamurnya ISP, warnet, dikembangkannya penggunaan open source, jaringan fiber optic yang sudah mulai menyebar, dukungan pemerintah terhadap penetrasi internet di daerah. Kita tidak boleh lupa, meleknya mata pemerintah untuk dukungan di industri ini juga merupakan hasil jerih payah media-media online yang timbul tenggelam sejak tahun 1998 sampai kini. Sudah sepantasnya jika kita memberikan penghargaan atas usaha mereka dalam mem-booming-kan media online di Indonesia.
Perlu diingat pula, saat ini, hampir semua instansi, tidak hanya media cetak berita, yang menggunakan media online sebagai penopang eksistensi mereka untuk tetap bertahan dalam persaingan industri. Mulai dari industri perbankan, telekomunikasi, bahkan consumer goods, bahkan industri musik, turut memeriahkan media online di dunia maya.
Jadi jangan katakan kita belum siap!



Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!