Jadi Kamerawan, Siapa Takut?
Di masa kanak-kanak, banyak yang mengalami permainan meniru gaya seorang kamerawan. Itu juga yang saya alami. Siapa sangka hari ini saya menjadi seorang kamerawan sungguhan. Untuk menjadi kamerawan, memerlukan penguasaan teori fotografi. Namun seperti halnya jenis keahlian lain, kian sering berlatih akan kian meningkatkan kemampuan.
Di antara profesi yang berhubungan dengan kamera (video/film) antara lain, asisten penata kamera, penata kamera, dan peñata fotografi.
Karena jenis acara banyak sekali, biasanya kamerawan memiliki spesialisasi. Ada kamerawan dokumenter, talkshow, musik, dan tentu saja ada kamerawan berita. Di stasiun televisi, setidaknya ada dua departemen besar, departemen news and affair dan departemen program. Kamerawan berita berada di bawah departemen news and affair.
Spesialisasi
Di berbagai spesialisasi kamerawan tadi, kamerawan berita adalah yang paling simpel. Terkadang seorang kamerawan berita “diperbolehkan” melanggar kaidah-kaidah teori fotografi yang berlaku. Hal ini biasanya karena ada sikon tertentu yg menyebabkan seorang kamerawan berita tidak bisa optimal. Namun, kalau saran saya seoptimal mungkin kaidah-kaidah (standard operation/SOP) tersebut bisa dilakukan.
Kamerawan berita di bagi menjadi dua, kamerawan di studio menggunakan kamera studio dan kamerawan lapangan atau liputan menggunakan kamera video liputan.
Bagaimana seorang kamerawan berita bekerja ?
Tidak seperti pada pembuatan acara televisi lainnya, untuk liputan berita ke lapangan tidak perlu kru dengan jumlah yang banyak. Seorang kamerawan hanya ditemani seorang reporter saja.
Produser berita memberikan tugas pada tim liputan berita untuk meliput berita yang diinginkan. Kamerawan dan reporter menuju lokasi kejadian. Kamerawan meliput momen yang terjadi, kalau bisa memenuhi kaidah 5 W + 1 H (who, what, when,
where, why, + how). Atas permintaan reporter biasanya kamerawan juga mengambil beberapa gambar yang dipandang perlu.
Tidak seperti acara lain dimana pengambilan gambar dilakukan sesuai pengarahan sutradara, pada acara berita seorang kamerawan harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar. Kalau bisa gambar-gambar yang terekam harus edit on camera, hal ini untuk memudahkan dalam pengerjaan paska produksi. Untuk liputan live atau langsung, seminimal mungkin tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar, tentu saja karena dalam siaran langsung tidak bisa diulang.
Bekerjasama dengan reporter, seorang kamerawan harus jeli agar berita yang diliput memiliki nilai lebih. Koordinasi di lapangan juga harus terjaga apalagi terkadang di lapangan sering terjadi rebutan dalam pengambilan gambar. Membuat sudut pandang atau angle yang baik adalah hal utama juga kestabilan dalam handheld kamera. Beradaptasi dengan sikon Sepertinya hal ini sepele, namun hemat saya hal ini sangat penting.
Terkadang banyak situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Jika kita tidak bisa berdapatasi dengan situasi tersebut bisa berakibat buruk. Pada liputan perang sebagai contoh, kalau kita tidak pintar untuk memilih lokasi maka tidak menutup kemungkinan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan.
Bekerja dengan cepat , akurat, dan terpercaya
Demikian motto Liputan 6 SCTV. Seorang kamerawan wajib berkerja cepat. Kenapa ? Karena nilai berita harus selalu hangat. Jika tidak maka berita liputan yang kita dapatkan jadi basi, keduluan oleh liputan lainnya. Bagaimana kamerawan bisa bekerja cepat ? Walaupun dalan liputan berita biasanya tidak banyak persiapan yang dibutuhkan, tapi seorang kamerawan berita harus sudah memiliki konsep liputan yang akan dilakukan atau nilai berita apa yang ingin disampaikan.
Agaknya demikian dulu sharing pengalaman saya sebagai kamerawan. DI bagian lain nanti akan saya sambung dengan hal yang lebih teknis lagi.
Kredit foto: dokumen pribadi.














tugas-tugas penata kamera tuh, apa aja sih…