Arif Witarto: “Nasionalisme Kita Masih Dogmatis”
Peraih Technopreneur Award 2007 ini menjadi contoh ilmuwan yang temuannya mampu dikomersilkan. Risetnya tentang perkebunan molekular membawanya mengharumkan nama bangsa. Kepada Netsains.Com, Arif dengan gayanya yang bersahaja berkisah tentang masa sekolahnya yang justru tidak pernah menduduki ranking tinggi. Ia juga menyindir pejabat yang bangga berobat ke luar negeri.
Berikut bincang-cincang singkat Arif Budi Witarto dengan Netsains.Com.
Netsains (NS): Mas Arif sudah mengukir banyak prestasi di tingkat internasional, dan kebetulan juga temuannya diminati pihak industri dan di dukung pemerintah. Banyak ilmuwan kita yang sebenarnya sama berprestasinya dengan mas tapi sayangnya temuannya kurang diminati industri. Apa kiatnya ya mas agar ilmuwan lain bias mengikuti jejak mas? Bukan hanya sukses di laboratorium, tapi temuannya juga bisa komersil.
Arif Witarto (AW) Pengalaman saya bersentuhan dengan industri sejak saya kuliah. Waktu itu di Tokyo, supervisor saya mendapat kontrak riset untuk penelitian rekayasa protein enzim untuk alat pengukur gula darah dari sebuah perusahaan Amerika Serikat. Saya sebagai mahasiswanya, mengerjakan penelitian itu.
Dua tahun setelah pulang ke Indonesia, saya kembali diajak oleh mantan supervisor saya itu. Kali ini, lebih maju lagi, beliau mendirikan perusahaan untuk menampung kontrak-kontrak riset yang diberikan oleh industri.
Dari situ, saya belajar bagaimana riset itu dapat diminati oleh industri. Bahkan di negara maju sekalipun, industri akan memberikan kontrak riset apabila hasil riset di akademik itu sudah pada tahap memberikan harapan. Industri pun merasa perlu, karena di sana - Jepang - iklim kewirausahaan industri itu kuat.
Sekembali ke Indonesia, saya perhatikan kondisi spt ini belum terbentuk di sini. Walaupun Ristek dulu punya program utk mengakselerasi kerjasama seperti ini melalui skema dana Riset Unggulan Kemitraan/RUK. Pesertanya kebanyakan BUMN atau antara lembaga Litbang dengan induk perusahaannya. Jadi bukan murni kerjasama riset dengan orientasi bisnis. Sementara industri Indonesia umumnya belum sampai ke tingkat manufaktur, tapi masih trading, jadi kebutuhan riset tidak besar.
Makanya upaya untuk mencoba seperti di Jepang, lebih berat dilakukan di sini. Yang saya lakukan adalah melihat peluang antara teknologi yang saya kuasai dengan kebutuhan masyarakat baik pengguna akhir maupun industri. Saya berusaha menjembatani dengan teknologi itu. Lalu ketemulah upaya molecular farming alias bertani protein yang saya lontarkan pertama kali tahun 2002 akhir itu.
NS:.Sebenarnya apa yang membuat ilmuwan kita mayoritas kurang bisa disambut oleh industri dan publik? Apakah karena kurang komunikasi dan koordinasi? Atau kurang didukung kebjikan-kebijakan?
AW:Yang paling dominan nampaknya kurang komunikasi- koordinasi. Di bidang saya, bioteknologi, ada forum yang sangat “mulia” untuk tujuan ini yaitu Konsorsium Bioteknologi Indonesia. Idenya akan menjadi wahan komunikasi-koordinasi itu karena anggotanya entitas industri dan lembaga riset. Sayangnya belum ada hasil-hasil signifikan dari forum ini kecuali penyelenggaraan seminar-seminar tahunan.
Komunikasi-koordinasi hanya dapat berjalan –menurut hemat saya- oleh perasaan saling membutuhkan dan yang tak kalah penting, saling percaya. Saling membutuhkan itu bisa diciptakan oleh kebijakan- kebijakan oleh Pemerintah. Tapi saling percaya ini harus dari “hati terdalam”. Dalam berbisnis, modalnya adalah kepercayaan. Dalam riset, modalnya adalah kejujuran. Sayangnya di Indonesia, keduanya adalah barang langka.
NS: Apa harapan Mas Arif ke depan terhadap kondisi sains dan teknologi Indonesia?
AW Menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Upaya ini perlu dilakukan oleh pelaku sains dan teknologi sendiri dengan mengembangkan produk-produk yg memang dibutuhkan oleh masyarakat.
Upaya ini perlu didukung oleh masyarakat dengan mencintai produk sendiri. Nasionalisme sains dan teknologi bukan bualan di jaman global ini. Nyatanya, India masih menggunakan mobil Tata buatan lokal untuk mobil dinas pejabat lokalnya. Bahkan pejabat pusatnya menggunakan mobil Ambassador yang juga buatan lokal. Di Korea, 80% mobil yang berjalan di jalan-jalannya adalah KIA, Daewoo, Hyundai dan lain-lain. Sekarang saya menggunakan AC Polytron di rumah, produk grup Hartono (Djarum) walau konsumsi listriknya masih besar dibanding AC-AC buatan Jepang atau Korea.
Upaya dari Pemerintah jelas sekali sangat penting. Jangan cuman slogan cintai produk dalam negeri, tapi perlu juga diimplementasi dengan mengutamakan produk dalam negeri. Presiden yang mencontohkan penggunaan batik misalnya, suatu contoh yang baik.
NS: Banyak generasi sekarang yang juga hebat-hebat. Juara olimpiade biologi, fisika, matematika dan sebagainya. Hanya yang sudah-sudah mereka akan lari ke LN, sebab merasa Indonesia ngga sesuai degan cita-cita mereka untuk jadi ilmuwan sukses. Bagaimana komentar mas soal ini? Gimana memperbaiki pola pikir seperti itu?
AW: Tidak ada yang salah dengan itu. Karena memang pola pikir nasionalisme itu tidak dibekalkan secara holistik sejak dari pendidikan dasar. Memang kita punya pelajaran sejarah, punya pelajaran P4 dulu, lalu kewiraan sekarang. Tapi topiknya sangat dogmatis dan tidak mengembangkan dalam konteks global seperti sekarang ini.
Di Korea, mereka yang hanya dijajah Jepang kira-kira 35 tahun, bisa sangat keras sekali sikap nasionalismenya ketika dihadapkan dengan Jepang. Sehingga walaupun bertetangga, enggan masyarakatnya menerima produk- produk sains dan teknologi Jepang yg jelas lebih m unggul dan mungkin lebih murah juga.
Bangsa China dan India yang dikenal perantau, ternyata punya semangat kebangsaan yang sangat tinggi. Sehingga perantau sains dan teknologinya kembali ke Negara asal setelah menimba cukup ilmu untuk mengembangkan negeri sendiri.
Kita memang punya peribahasa, setinggi-tinggi bangau terbang, kembalinya ke sarangnya juga. Tapi kalau kembalinya untuk menjarah, bukan membangun, ya apa gunanya?
NS: Idealnya, kondisi yang seperti apa yang harus dimiliki Indonesia jika ingin mengejar ketinggalan dengan negara lain?
Teladan. Ini yang paling kurang saya rasa di Indonesia. Contoh perbandingan dengan India di atas. Para istri pejabat di media dengan bangga mengatakan kalau sakit berobat di Singapura. Tidak ada yang salah untuk memilih seperti ini buat orang yang kaya. Tapi buat pejabat, pimpinan masyarakat, ini jadi tidak memberikan teladan yang baik.
Kalau mengenai kelembagaan, peraturan, dan sebagainya, relatif sudah lengkap Indonesia ini. Tapi semuanya itu jadi tidak berfungsi ketika manusianya tidak bekerja seperti seharusnya. Manusia itu makhluk yang mencontoh. Jadi teladan itu sangat penting.
NS: Mas sendiri sejak kapan menyukai bidang ini? Siapa yang menginspirasi Mas untuk jadi ilmuwan?
AW: Saya merasa hidup seperti air mengalir. Waktu lulus SMA, saya iseng saja ikut tes beasiswa Ristek. Tidak disangka lulus, padahal teman-teman saya yg rangkingnya lebih tinggi di kelas, malah tidak lulus. Mau selesai S-1, saya berpikir, apa bisa lanjut S-2 karena beasiswa Ristek sudah habis. Eh, saya dapat beasiswa dari perusahaan Jepang. Waktu itu saya orang Indonesia pertama yang menerima beasiswa itu. Demikian, pula waktu mau selesai S-2, saya ragu-ragu bisa S-3 karena tidak jelasnya beasiswa. Tapi coba saja, dan masuk program. Sempat satu tahun tidak dapat beasiswa apa pun, sementara hidup di Tokyo dengan 4 tanggungan akhirnya tahun ke-2 baru dapat beasiswa lagi.
NS: Obsesi mas ingin menjadi seperti siapa ya?
Alexander Fleming penemu antibiotic atau Thomas Alfa Edison penemu lampu pijar. Dalam konsep Islam, pahalanya terus mengalir sampai sekarang karena karyanya yang dimanfaatkan oleh ummat manusia. Saya ingin mengikuti jejak mereka dengan langkah kaki saya yang kecil ini.











Beri Komentar